Matangkuli Kembali Dilanda Banjir | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Matangkuli Kembali Dilanda Banjir

Matangkuli Kembali Dilanda Banjir
Foto Matangkuli Kembali Dilanda Banjir

* 12 Desa Terendam

* Yang Kelima dalam Tahun Ini

LHOKSUKON – Sebanyak 12 desa di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Sabtu (20/5) mulai pukul 04.00 WIB kembali direndam banjir kiriman, akibat meluapnya air Krueng (sungai) Keureutoe yang mengelilingi kecamatan itu. Air sungai meluap setelah hujan deras di Bener Meriah pada Jumat (19/5) malam.

Data yang dihimpun Serambi, ini merupakan kalima kalinya dalam tahun ini, kawasan tersebut direjang banjir. Banjir kali ini lebih parah dibanding pada 13 April 2017. Ke 12 desa yang terendam banjir yaitu Alue Ntok, Teungoh Seulemak, Tumpok Barat, Meunasah Meuria, Hagu, Alue Tho, Lawang, Siren, Tanjong Tgk Kari, Cibrek, Tanjong Haji Muda dan Pante Pirak.

Dari 12 desa yang terendam banjir, ada 4 desa yang terparah dengan ketinggian air 50 cm sampai 1 meter. Keempat desa itu adalah Tumpok Barat, Hagu, Alue Tho dan Lawang. Banjir tersebut juga menyebabkan aktivitas di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Matangkuli dan SDN 6 Matangkuli terhenti.

Selain itu, banjir kiriman tersebut juga menyebabkan jalur Hagu-Mee dan Lawang-Alue Tho tak bisa dilintasi roda dua dan empat. Sebab ketinggian di lokasi tertentu mencapai 1 meter, aliran arusnya deras. “Subuh air sudah masuk ke rumah. Sebagian langsung mengungsi ke rumah saudaranya, sebagian lagi bertahan di rumah untuk memindahkan barang-barang,” kata Keuchik Hagu, M Nasir kepada Serambi, kemarin.

Menurutnya, penyebab banjir karena tak ada tanggul di Krueng Keureutoe. Sampai kapan pun 12 desa tersebut akan terus dilanda banjir kiriman, sebelum dibangun tanggul sungai. “Tahun sebelumnya banjir merendam kawasan ini awal tahun dan akhir tahun. Tahun ini sudah lima kali. Sampai tadi (kemarin-red) siang air juga masih terus naik,” katanya.

Sementara itu, Abdul Majid (50) warga Matangkuli mengatakan, warga di 12 desa tersebut sudah terbiasa dengan banjir, dan warga sudah enggan melapor ke pemerintah jika terjadi musibah tersebut. Sebab sudah rutin dan sampai sekarang belum ada tindakan apapun untuk mengatasinya.

“Biasa anggota dewan dan pejabat baru turun ke kawasan kami ketika ada perlu. Misalnya ketika ada pemilu untuk berkampanye, tapi jangan berharap ada tindakan ketika mereka sudah terpilih,” katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Munawar mengatakan ia sudah menurunkan tim Monitoring Rescue dan Search And Rescue (SAR), untuk memonitor kondisi di lapangan, khususnya kawasan penduduk di bantaran sungai. Jika banjir semaki parah, pihaknya akan menurunkan peralatan.

“Alat kebencanaan sudah disiapkan. Jika dibutuhkan nanti akan diturunkan ke lokasi banjir. Namun, sejauh ini belum ada warga yang mengungsi, jika ada yang mengungsi kita akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menurunkan bantuan,” katanya. Monitoring akan terus dilakukan sampai banjir surut total.(jaf) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id