Memperbaiki Hidup dengan Bahasa | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Memperbaiki Hidup dengan Bahasa

Memperbaiki Hidup dengan Bahasa
Foto Memperbaiki Hidup dengan Bahasa

Oleh: Dr. Jarjani Usman, M.Sc., M.S

POLA hidup seseorang bisa diperbaiki dengan bahasa yang digunakan. Bahasa sebagaimana terdapat dalam ungkapan sehari-hari bisa membantu mengubah cara pandang tentang cara hidup dari yang biasanya rentan terkena penyakit bisa menjadi sehat. Benarkah? Contohnya? Bagaimana caranya?

Dalam kehidupan sebagian masyarakat Aceh, misalnya, banyak bahasa yang digunakan cenderung menimbulkan penyakit-penyakit fatal bagi tubuh. Seperti penyakit stroke, darah tinggi, serangan jantung, ginjal, dan sebagainya. Pada suatu kenduri atau pesta, misalnya, lazimnya sebagian masyarakat Aceh akan menanyakan apakah kenduri yang dilaksanakan besar atau kecil. Pertanyaanpertanyaan tersebut tentunya menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus memberi makna tertentu.

Ungkapan-ungkapan bahasa masyarakat inilah yang dianalisis dalam tulisan ringkas ini. Konsep skala kenduri besar atau kecil dalam masyarakat kampung di Aceh, tergantung makanan apa yang disediakan. Biasanya akan ditanyakan, “Rayeuk ikhanduri? Puena jisie leumo?”, yang terjemahan kata demi katanya adalah: “Apakah kendurinya besar? Apakah ada dipotong lembu?”

Maksudnya, apakah di kenduri tersebut disediakan masakan daging lembu. Jika jawabannya ya, makabiasanya kendurinya agak besar. Namun jika tidak, pesta itu dipahami kecil skalanya. Nada bahasa dari jawaban yang diberikan pun memiliki makna tersendiri. Jika jawabannya tidak, biasanya diucapkan dengan nada lemah. Ini menandakan bahwa pesta atau kenduri itu tergolong kecil-kecilan. Sedangkan bila jawabannya ya, dan ditambah lagi dengan “dua boh leumo” (dua lembu- – disembelih) atau bahkan lebih, jawabannya akan terdengar tegas.

Ada juga ungkapan orang-orang yang padasaat mau pesta tak ada uang untuk pesta besar. Misalnya, Meunyo lon na peeng, panee na, leumo lon peureubah”. Maksudnya, kalau dia punya, maka akan dipotong lembu pada pesta anaknya. Nada bahasanya mengandung kepasrahan pada keadaanekonominya, padahal ia sangat ingin pesta untuk anaknya besar yang ditandai dengan adanya potong atau menghidangkan daging lembu. Akibat penggunaan bahasa seperti ini, sebagian orang di Aceh akan berusaha memotong lembu pada acara-acara kenduri (kadangkala dalambahasa Aceh Utara disebut khauri atau khanduri) atau pestanya, walaupun terpaksa berutang atau ahkan menjual tanah pusaka.

Hal ini juga terjadipada acara-acara memperingati kematian anggota keluarga. Lebih-lebih seorang anak dari keluarga yang secara ekonomi tergolong berada, akan dicibir bila tak memotong lembu pada acarakematian ayahnya. Biasanya akan muncul ungkapan, “Han jisie leumo dumnan kaya jih untuk handuri keu ayah jih” (Aneh, kok tidak disembelih/masak lembu pada acara kematian ayahnya, padahal ia orang kaya).

Dan lazimnya, semua bagian dari sapi yang sudah dipotong itu dimasak. Termasuk jeroan danlemak-lemaknya. Tak peduli apakah jeroan dan lemak itu bila dikonsumsi akan berbahaya bagi tubuh atau tidak. Sebahagian orang dalam masyarakat menganggap kasihan bila itu dibuang. Sewaktu dihidangkan pun, kalau untuk orangorang yang dianggap tokoh, terhormat atau orang penting disediakan daging yang banyak dan bagus. Tentunya hal ini dimaksudkan untuk memuliakan orang-orang tersebut.

Padahal orang-orangdengan status sosial tinggi seperti itu tak jarang harus menghadiri lebih dari satu acara kenduri setiap hari. Kalau di kampung-kampung, ada yang harus menghadiri 3 hingga 5 kali sehari, mulai dari kenduri kematian hingga kenduri perkawinan. Sehingga mereka berhadapan dengan daging yang diramu dalam berbagai nama masakan setiap hari.

Padahal daging bagi orang-orang tua tak baik bagi kesehatannya. Lazimnya, makan daging lembu bagi orang-orang yang sudah berumur kepalaempat, misalnya, bisa menimbulkan penyakit asam urat. Lemak yang dikonsumsi bisa menjadi kolesterol yang menghambat peredaran darah.Daging jeroan seperti hati juga bisa menaikkan tensi darah. Sehingga tak jarang terjadi orangorang yang baru pulang dari kenduri langsung terjatuh tak sadarkan diri.

Bahkan, sebagian orang menggunakanbahasa yang menambah penyakit bagi orang lain, bila mendapati seseorang sakit atau malah meninggal mendadak. Misalnya, ada yang sertamerta menyimpulkan, “Kaipeukeunong” (sudah diguna-gunai orang). Bahasa ini bisa menimbulkansakit hati bagi keluarga orang yang sakit atau meninggal, juga terhadap orang yang dituduhtelah melakukannya. (Hal ini bukan berarti peukeunong itu tidak ada, tetapi perlu mengedepankan cek dan ricek).

Kalau diteliti (check up) dengan baik,mungkin sakitnya tiba-tiba parah itu karena memang selama ini ia sedang mengidap penyakit darah tinggi atau kolesterol tinggi. Apalagi lazimnya di daerah tertentu, tukang masak danteman-temannya kerap memasak lemak (gapah) pada acara-acara kenduri di kampung atau di rumah.

Memang enak rasanya lemak dalam kuahyang sedang dimasak, tetapi berisiko tinggi seperti menambah sempit aliran darah di urat-urat dalam tubuh. Bila tertutup sewaktu-waktu, maka seketika bisa stroke dan meninggal dunia. Masih banyak ungkapan lain yang secara sadar atau tidak membentuk pola hidup buruk seseorang.

Misalnya, pada iklan-iklan rokok tertulis kata “jantan” atau “tangguh”. Rokok juga seringkali diiklankan dengan ketanggguhan dan rasa percaya diri yang tinggi seseorang mendaki gunung atau menerobos belantara. Hal ini tentunya bisa menimbulkan perasaan kelelakian seseorang yang tangguh fisik dan kuat mental atau semangatnya.

Bahkan, sebagian anak muda mengatakan, “Hanajantan sagai” (tidak jantan) saat mendapati temannya tidak merokok. Padahal perbuatan tersebut berefek buruk bagi kesehatan tubuh. Singkatnya, sebagaimana kata para ahli (seperti Fairclough, 2010), bahasa yang digunakan (discourse) bisa membentuk kebiasaan hidup masyarakat, sebagaimana kebiasaan hidup bisa membentuk bahasa. Bahasa-bahasa itu sudah dianggap normal dalam masyarakat, tetapi akan disadari pengaruhnya bila dibongkar makna dibaliknya.

* Penulis adalah dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id