‘Adversity Quotient’ ala Naufal Raziq | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Adversity Quotient’ ala Naufal Raziq

‘Adversity Quotient’ ala Naufal Raziq
Foto ‘Adversity Quotient’ ala Naufal Raziq

Oleh Lailatussaadah

KISAH Naufal Raziq, sang penemu listrik dari pohon kedondong atau kuda-kuda (bak keurundong pageu) viral di masyarakat Aceh, Indonesia, bahkan mancanegara. Naufal Raziq sungguh telah menginspirasi banyak pihak, sekaligus menjadi remaja yang diperebutkan. Ketekunan dan kemampuannya dalam melakukan percobaan patut diacungi jempol. Kegagalan demi kegagalan dalam melakukan percobaan tidak menyurutkan tekat Naufal Raziq untuk terus mencoba, sampai akhirnya menuai hasil yang membanggakan.

Keberhasilan Naufal Raziq dalam melakukan eksperimennya bak kata-kata inspritif dari Thomas Alva Edison “saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal” dan “betapa banyak orang yang menyerah padahal hanya perlu beberapa langkah lagi untuk sampai pada keberhasilan”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa ketekunan dalam melakukan percobaan merupakan proses menuju keberhasilan.

Naufal Raziq tidak pernah putus asa dalam melakukan percobaannya, seolah-olah mengikuti jejak sukses para penemu ternama dunia, seperti Thomas Alva Edison (1847-1931) penemu bola lampu yang melakukan percobaan dan gagal 9.998 kali, lalu berhasil pada percobaan ke 9.999 kali, terdapat 1.093 temuannya yang sudah dipatenkan. Demikian juga halnya dengan bapak listrik Michael Faraday (1791-1867) yang tidak pernah minder dan tidak putus asa untuk terus belajar yang mengawali karir sebagai Asisten Dosen, dan akhirnya menjadi Dosen setelah mampu membuktikan ramalan dosennya yang pada akhirnya dikenal dengan Hukum Faraday.

Listrik ramah lingkungan
Bagaikan tokoh dunia tersebut Naufal sukses mengalirkan listrik ramah lingkungan dengan biaya rendah ke rumah warga sekitar. Inilah yang akhirnya terjadi pada Naufal Raziq setelah percobaannya sukses, sekarang banyak pihak yang menggandengnya untuk kerja sama dan mendapatkan tawaran beasiswa dari ilmuan Jerman. Temuan Naufal Raziq kini sudah diurus Hak Paten di Kementerian Hukum dan HAM dibantu oleh Pertamina EP dengan judul “Inovasi Pembangkit Listrik Menggunakan Pohon Kedondong” (URI.co.id, 12/5/2017).

Listrik memang sudah menjadi masalah rutin dalam keseharian masyarakat Aceh, seakan-akan krisis listrik sudah menjadi penyakit stadium tinggi yang sulit diobati. Masalah yang terjadi dalam masyarakat itu mampu dipecahkan oleh Naufal Raziq, 60 unit rumah di Langsa Lama menjadi terang benderang oleh ketekunan Naufal Raziq dalam melakukan eksperimennya yang hanya menelan biaya Rp 14 juta. Jauh lebih murah dari biaya pelesir anggota wakil rakyat ke luar negeri untuk studi banding dengan uang negara, tanpa efek nyata dalam penyelesaian masalah basic need masyarakat.

Kemampuan Naufal Raziq dalam mengatasi masalah listrik merupakan adversity quotient. Paul G Stoltz (2005) mendefinisikan adversity quotient, yaitu kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mangatasi kesulitan, memecahkan masalah kehidupan, sanggup untuk bertahan hidup dan tidak mudah menyerah. Kecerdasan inilah yang dimiliki oleh Naufal Raziq.

Barangkali adversity quotient yang dimiliki oleh Naufal Raziq yang masih duduk di kelas 3 MTsN dapat dikatagorikan kepada adversity quotient plus, karena Naufal Raziq lahir dan berdomisili di daerah dan menempuh pendidikan pada sekolah biasa namun mampu memberikan manfaat nyata kepada warga lainnya yang sudah sangat menderita dengan krisis listrik juga tagihan yang makin mahal, selain itu Naufal Raziq juga mampu memanfaatkan bahan yang ramah lingkungan.

Naufal Raziq merupakan salah satu contoh anak remaja yang mampu memberikan teladan betapa belajar dan tekun akan menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang lain dan mampu menjawab permasalahan hidup. Oleh karena itu hendaknya adversity quotient anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dalam pelaksanaan pendidikan, generasi penerus harus mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupannya bukan malah menjadi cengeng, mengeluh, mengadu serta hanya bisa meratapi masalah-masalah yang menimpanya dan berputus asa.

Sayangnya, kecerdasan dalam mengatasi masalah hidup seperti yang dimiliki Naufal Raziq masih belum menjadi faktor penting dalam sistem pendidikan kita. Terlihat dari masih ada orang tua siswa dan guru yang memberikan jawaban pada siswa saat ujian, dan masih ada orang tua yang berusaha melobi guru agar memberikan nilai yang bagus untuk anaknya, dan masih ada di antara kita yang menjadikan indikator kecerdasan diukur dari hasil Ujian Nasional (UN), serta karena kita masih belum menyadari bahwa pendidikan itu adalah proses, bukan hasil. Ini juga yang menjadi penyebab kita hanya mempunyai miskin penemu hebat dan peraih Nobel, namun kaya juara olimpiade.

Peran orang tua
Dari Naufal Raziq ini sudah sepatutnya kita belajar bahwa tujuan belajar bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan nilai dan materi, Naufal Raziq bahkan telah menghabiskan materi yang ternyata hasil pinjaman pada sebuah bank agar dapat mewujudkan apa yang diayakininya dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Selain itu adversity quotient ala Naufal Raziq ini telah memberikan jawaban kepada kita bahwa belajar tidak cukup hanya di sekolah dengan intrakurikulernya, namun harus didukung oleh program kokurikuler, dalam hal ini pelaksanaan kokurikuler diambil alih oleh ayah Naufal Raziq yang mewujudkan hasil belajar dalam bentuk nyata. Tak dapat dipungkiri selain memiliki adversity quotient peran orang tua juga memberikan pengaruh sangat besar dalam meraih kesuksesan anak, sebagaimana hasil penelitian Budi Anshari yaitu keberhasilan anak dipengaruhi oleh peran orang tua 60%, sekolah 20% dan lingkungan 20%.

Naufal Raziq juga telah membuktikan bahwa belajar ilmu fisika sebagai intrakurikuler di sekolah dan melakukan kokurikuler serta keterlibatan ayahnya telah membuahkan hasil. Memang sejatinya kokurikuler adalah program dampingan terhadap intrakurikuler yang didampingi dan dievaluasi oleh guru dengan tujuan untuk penguasaan isi pelajaran dalam bentuk projek, ini yang jarang dilakukan di lembaga pendidikan formal terlebih di sekolah yang ada di daerah karena keterbatasannya.

Namun kita patut berbangga dan menjadikan contoh bahwa adversity quotient yang dimiliki oleh Naufal Raziq dan pelaksanaan kokurikuler berbasis projek yang dilakukan oleh Naufal Raziq bersama ayahnya telah mendulang sukses. Hal ini tentunya dapat juga dilakukan oleh para siswa lain yang akan menjadi penemu hebat berikutnya, serta menjadi orang yang disebutkan dalam hadis Nabi saw, khairun nas anfa’u lin nas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain). Semoga!

* Lailatussaadah, Dosen Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, anggota Asosiasi Prodi MPI Indonesia, dan Peneliti CFAS. Email: [email protected] (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id