Mereka yang Bangga dengan Identitas | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mereka yang Bangga dengan Identitas

Foto Mereka yang Bangga dengan Identitas

 
MUHAMMAD AKBAR YUDARSAN, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, melaporkan dari Georgia

GEORGIA (nama resmi dari Sakartvelo), merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet. Secara geografis, negara ini bertetangga dengan Turki dan Azerbaijan. Perekonomiannya cukup baik. Tetapi juga terkenal dengan berbagai persoalan politik yang mencuat setelah mengalami beberapa situasi perang dengan Rusia sejak 2007 dan beberapa dinamika yang diwarnai dengan aksi antipemerintah pada tahun 2009 dan 2011.

Budaya Georgia sendiri cukup melebur, karena sejarah yang mewarnai negara ini terpengaruh oleh ekspansi beberapa kekaisaran, seperti Mongol, Ottoman, Persia, Romawi, Arab, dan Rusia. Begitupun, budaya dan arsitektur yang ada di Georgia sangat dominan dipengaruhi Soviet. Saya yang sedang mengikuti kegiatan pertukaran pelajar guna menjalani volunteering project mengajar anak-anak SMA yang ada di Kota Kutaisi, Georgia, sangat tertarik untuk menjelajah lebih jauh ke daerah-daerah di Georgia. Saya kagum melihat generasi mudanya yang tak terpengaruh kuatnya budaya luar. Di sini lain, peran pemerintah sangat kuat dalam memotivasi kaum muda untuk bisa mempresentasikan budaya lokal kepada siapa pun.

Ini tentunya dapat dijadikan contoh yang baik bagi generasi muda Aceh agar bisa menjaga kuat identitas budaya syar’i untuk dipresentasikan kepada dunia bahwa Aceh bangga sebagai model kota madani.

Dalam perjalanan saya menuju ibu kota Georgia yang dikenal dengan sebutan Tbilisi, banyak sudut kota yang menggambarkan budaya serta bangunan yang bisa merepresentasikan kebanggaan mereka menjadi salah satu negara yang dapat berdiri dengan kaki mereka sendiri.

Di beberapa sudut ibu kota Georgia ini terdapat banyak monumen dan patung pahlawan nasional. Patung raja yang terkenal di sini adalah patung Saint Goerge.

Setiba di Tbilisi bukan berarti saya sudah sampai di kota tujuan saya. Saya memiliki social project yang akan saya kerjakan di Kutaisi, kota terbesar kedua Georgia dan merupakan ibu kota pertama Georgia. Untuk berangkat dari Tbilisi menuju Kutaisi, terdapat dua cara, yaitu menggunakan bus atau menggunakan kereta. Setelah menimbang beberapa faktor, termasuk bertanya kepada teman dan searching di internet, akhirnya saya putuskan untuk menggunakan bus menuju Kutaisi. Perjalanan naik bus dari Tbilisi menuju Kutaisi memakan waktu empat jam. Ongkosnya 10 lari (mata uang Georgia) atau kira-kira Rp 60.000, dibayar langsung kepada sopirnya.

Menempuh jalanan menanjak dan melewati pegunungan, perjalanan ini begitu menyenangkan, karena saya amat suka berkunjung ke tempat baru. Terlebih lagi pegunungan sepanjang perjalanan diselimuti salju, menambah kekaguman saya pada cantiknya pegunungan Asia-Eropa.

Sesampai di Kutaisi, saya malah bingung, karena saya pikir lantaran kota ini sempat menjadi ibu kota seharusnya kota ini adalah kota besar. Tapi ternyata tidak. Terminal busnya saja tak lebih baik dari gambaran terminal bus Indonesia yang padat, berdebu, dan banyak penjual menjajakan dagangannya. Bahkan, menurut saya, masih lebih baik terminal bus di Banda Aceh dengan segala keriuhan yang ada. Perjalanan saya tak cukup sampai di situ. Saya memerlukan sedikit lagi jarak yang ditempuh untuk menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal saya selama di kota ini.

Dengan menggunakan taksi, tak lama waktu yang saya butuhkan untuk menuju tujuan akhir saya yang ternyata tidak jauh dari pusat Kota Kutaisi. Sepanjang perjalanan, saya lihat pemandangan yang kurang lebih sama seperti di Tbilisi. Banyak sekali patung dan monumen pejuang nasional dan tokoh-tokoh besar menghiasi sudut kota.

Ternyata saya salah dengan sisi buruk yang terlihat saat di terminal bus tadi. Buktinya, ketika saya mencapai pusat kota yang notabene warganya masyarakat Kristian Ortodok, suasananya sangat luar biasa. Melihat begitu banyak patung dan monumen tokoh-tokoh besar mereka, saya bertanya dalam hati mengapa mereka melakukan ini. Apakah untuk mengenang jasa-jasa tokoh besar itu atau hanya sekadar hiasan mempercantik kota, atau tempat penghormatan pada tokoh besar seperti halnya di Korea Utara? Saya penasaran, namun saya harus menyimpan rasa ingin tahu saya karena tubuh ini perlu istirahat setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang.

Keingintahuan saya tentang hal ini akhirnya terjawab esoknya. Ternyata mereka sangat cinta dan bangga menjadi rakyat Georgia. Sebelumnya mereka menemukan masa-masa sulit saat berjuang, sehingga kini muncul kesadaran untuk membalas jasa para tokoh “penyelamat” mereka dengan mengimplementasikan beberapa hal. Di antaranya, membangun patung pahlawan, termasuk memberi nama kepada anak-anak mereka dengan nama pahlawan yang sudah membela Georgia menjadi negara yang merdeka.

Nilai-nilai nasionalisme dan penghargaan generasi muda terhadap jasa pahlawannya sangat kental di Goergia ini. Lalu, masihkah rasa dan sikap seperti itu kita miliki di Aceh, negeri selaksa pahlawan?

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id