Membaca, Sebuah Kebahagiaan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Membaca, Sebuah Kebahagiaan

Membaca, Sebuah Kebahagiaan
Foto Membaca, Sebuah Kebahagiaan

Oleh Ziad Farhad

Kemampuan membaca adalah sebuah rahmat, kegemaran membaca ; sebuah kebahagiaan. (Goenawan Mohammad)

FULLER Cut, tempat pangkas yang berada di Ypsilanti Michigan, Amerika Serikat, membuat terobosan. Setiap anak yang datang ke tempat pangkasnya diberikan diskon sebesar U$D 2. Syaratnya, sang anak harus membaca buku dengan suara yang lantang kepada pemangkasnya. Selanjutnya, sang pemangkas akan mengajukan sejumlah pertanyaan dari buku yang telah dibaca. Tersedia 75-100 judul buku dengan tema spesifik di tempat tersebut. Setiap buku memiliki visual yang menggambarkan hubungan baik antara Arifka dan Amerika. Apresiasi diberikan oleh orang tua. Promosi gratis pun menyebar dari mulut ke mulut. Sontak, sejumlah orang tua berbondong-bondong membawa anaknya ke tempat tersebut. Para orang tua merasa senang, Fuller Cut telah menanamkan nilai-nilai positif bagi anak mereka: membaca. Sedangkan bagi sang anak, U$D 2 tentunya sangat bernilai.

Fuller Cut berhasil menciptakan ide out of the box. Alex Fuller, pemilik tempat pangkas tersebut tak menyangka respon masyarakat melebih ekspektasinya. Menurutnya, apa yang dilakukannya merupakan bentuk tanggung jawab sosial barbershop terhadap komunitas masyarakat di tempatnya berada. Kejadian tersebut diberitakan oleh media Hufftingtonpost, pada 2016 lalu. Apa yang dilakukan oleh Fuller Cut sesungguhnya adalah promosi sederhana yang mampu memberikan manfaat secara bisnis sekaligus tanggung jawab sosial melalui sebuah media buku.

Literasi
Buku memang punya daya magis tersendiri. Bukan saja dapat membentuk cara berpikir (kognitif), tapi juga bisa membentuk kepekaan, imajinasi dan rasa (afektif). Membaca memberi peluang lebih luas untuk menstimulasi imajinasi. Tak heran, di sejumlah negara aktivitas membaca telah menjadi kegiatan rutin bagi setiap penduduknya.

Sayangnya, kondisi minat baca di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity (CCSU) pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei soal minat membaca. Hanya lebih baik bila dibandingkan Botswana, negara yang berada di benua Afrika dengan jumlah penduduk sekitar 2 juta.

Sementara di kawasan ASEAN, Singapura menempati urutan pertama di peringkat 36, Malaysia peringkat 53, sedangakan peringkat Thailand berada persis di atas Indonesia, 59. Negeri jiran seperti Singapura yang miskin sumber daya alam kiranya patut menjadi contoh, meski populasinya tidak sepadat Indonesia, berkat tingkat literasi yang tinggi di kawasan ASEAN mampu menjadi negara maju berkat kualitas pendidikan dan pengetahuan yang mumpuni.

Dalam studi yang dilakukan CCSU, ada lima variabel yang menjadi indikator pemeringkatan tingkat literasi sebuah negara, yaitu surat kabar, perpustakaan, sistem pendidikan, hasil pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Yang menarik pada variabel perpustakaan. Ternyata, fasilitas perpustakaan di Indonesia berada pada peringkat 36,5 (sama dengan peringkat Tunisia). Mengalahkan Singapura yag berada di peringkat 59, Selandia Baru (39), Korea Selatan (42), Belgia (46), bahkan Jerman (47).

John W Miller, leader dalam studi itu mengatakan, perilaku masyarakat terhadap dunia literasi menjadi faktor yang sangat penting dalam keberhasilan individu dan bangsa dalam bidang ekonomi dan bidang lain yang memang mensyaratkan basis pengetahuan yang memadai. Kecintaan terhadap dunia literasi juga menentukan masa depan.

Apa yang disampaikan John W Miller kiranya tidak berlebihan dan memiliki korelasi yang berbanding lurus dengan hasil surveinya. 5 negara yang menempati urutan tertinggi tercatat merupakan negara maju dengan yang capaian keberhasilan di sejumlah bidang. Urutan pertama ditempati Finalndia, diikuti Norwegia, Islandia, Swedia, dan Denmark.

Dan faktanya, rilis indeks kemakmuran global tahunan ke-10 yang dilakukan Legatum Institute, sebuah lembaga riset yang berbasis di London, menempatkan empat dari lima negara tersebut –kecuali Islandia– tersebut menjadi negara termakmur di dunia. (Kompas.com, 4/11/2016).

Rendahnya tingkat literasi di Indonesia memang sangat disayangkan. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), padaa 2015 sebanyak 3,56% penduduk Indonesia atau dari 5,7 juta orang masih buta aksara. Angka tersebut menurun tipis dari 2014 sebelumnya yakni 3,7% atau 5,9 juta penduduk.

Gerakan membaca
Secara harfiah, buku dengan segala bentuknya telah menjadi media bagi seseorang melakukan “kontak” dengan dunia. Dengannya pula, tanpa disadari telah membangun konstruksi pemikiran, penalaran yang mumpuni, kreatif, memiliki perspektif yang luas, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarkat sebuah bangsa.

Bung Hatta the Founding Fathers of Indonesia, suatu kali pernah mengungkapkan, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Pernyataan Bung Hatta seolah menjadi sebuah penanda, bersama sebuah buku seseorang tak bisa dibelenggu. Bahkan ketika raga menjadi jumud. Namun kini, di tengah modernitas yang menuntut segala sesuatunya serba ringkas dan lugas, kegiatan membaca acap telah menjadi sebuah sikap yang di anggap asosial bagi sebagian orang. Begitupun, sebuah pekerjaan yang sia-sia.

Publikasi studi tingkat literasi yang dilakukan CCSU dalam konteks realitas yang terjadi di Indonesia setidaknya memberikan sebuah pemahaman baru akan sebuah harapan dengan realita. Fasilitas perpustakaan yang lebih baik dibandingkan dengan sejumlah negara maju belum memiliki korelasi yang berbanding lurus dengan tingkat literasi.

Infrastruktur yang tersedia belum mampu menstimulasi minat baca masyarakat Indonesia. Gagasan tentang sejumlah program membaca pun belum membuahkan hasil yang maksimal. Program dalam terminologinya memang dianggap milik pelaku program, sedangkan masyarakat yang dilibatkan hanya merasa sebagai objek dan tidak merasa berkewajiban untuk melanjutkan program yang telah dirancang dan dijalankan.

Apa yang dilakukan Fuller Cut kiranya menjadi sebuah paradigma baru dalam menumbuhkan minat baca sejak dini. Mereka tidak hanya berkutat pada program, melainkan sebuah gerakan. Gerakan yang menganggap kepemilikan masalah terletak pada masyarakat yang terlibat masalah. Selain itu, sebuah gerakan dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Buku adalah jendela dunia. Kemampuan membacanya adalah sebuah rahmat. Dan, kegemaran membaca adalah sebuah kebahagiaan. Selamat Hari Buku dan Perpustakaan Nasional 2017!

* Ziad Farhad, alumnus Magister Manajemen, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), berdomisili di Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id