Impresi Masa Depan di Hari Buku Nasional | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Impresi Masa Depan di Hari Buku Nasional

Impresi Masa Depan di Hari Buku Nasional
Foto Impresi Masa Depan di Hari Buku Nasional

Oleh Ikhsan Hasbi

KITA baru saja merayakan Hari Buku Nasional, 17 Mei 2017. Sebetulnya, tanpa peringatan hari itu pun buku tetap menjadi hal yang paling urgen dalam kehidupan manusia. Hari buku boleh saja dipahami untuk diperingati sebagai suatu ajakan agar orang semakin rajin membaca. Milyaran buku bertebaran di dunia ini dengan berbagai tema dan judul, namun tidak sebanding dengan jumlah manusia di dunia ini, terutama masyarakat Indonesia, yang mengonsumsinya sebagai bacaan bermanfaat.

Target pemerataan perpustakaan telah dilakukan. Mulai dari pustaka keliling, pustaka desa, pustaka wilayah dan lainnya. Namun hanya sebagian orang yang benar-benar berdedikasi mencerdaskan anak negeri ini. Seperti halnya yang sedang diupayakan oleh Saifullah (Pilo Poly) dan Iwan Miswar dengan program Komunitas Baca Japakeh (KBJ).

Keyakinan bahwa suatu bangsa yang maju ditandai dengan minat baca yang tinggi diupayakan dengan cara-cara tersendiri tanpa pamrih.

“Selama ini membaca dianggap sesuatu yang mahal oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Hanya orang-orang tertentu, seperti mahasiswa, guru, dokter, pejabat yang seolah boleh pegang buku dan baca buku, orang-orang biasa cukup baca koran saja dari halaman pertama sampai halaman terakhir,” ujar Saifullah. (kabarpidiejaya.com)

Sangat penting
Buku sudah sejak sedari dulu menjadi hal yang sangat penting di dunia ini. Segala pengetahuan bermuara dari pemikiran ke buku untuk diaplikasi kegunaannya atau sebaliknya tanpa mencederai fungsi aksiologi bahwa ilmu haruslah bermanfaat. Hal yang paling memungkinkan adalah ketika kita membaca buku, diharapkan akan memunculkan ide-ide baru dan memberi pemahaman yang jelas. Artinya, suatu tulisan bisa melahirkan kekritisan dan tidak menerima segala hal apa adanya.

Jika seseorang bisa menerima apa adanya isi buku yang dibaca, belum tentu bacaan yang diterima itu adalah bacaan yang layak dan benar. Oleh karena itu, kekritisan akan berfungsi, baik melalui penelusuran kembali, melakukan komparasi (perbandingan), penelitian lanjut, mengkaji tempat, data, dan sebagainya.

Hari Buku tidak mungkin diperingati tanpa suatu misi, harapan ataupun target. Jika hanya memperingatinya tanpa upaya lanjutan berarti kita hanya menyumbang kata-kata, bukan realita. Hari Buku mesti diperingati sebagai evaluasi, terutama bagi seluruh perpustakaan di negeri ini agar menjunjung minat individu-individu, tanpa mengabaikan rutinitas dan waktu yang berharga.

Sebagian perpustakaan di Aceh sangat tepat waktu untuk urusan administratif atau buka-tutup pustaka. Tapi dalam urusan kelayakan, bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang sungguh-sungguh menerapkan standar pemanfaatannya, perpustakaan mereka bisa buka sampai 24 jam. Di tempat kita, untuk urusan waktu masih dibatasi. Bahkan ada yang lebih cepat tutupnya dari waktu yang sudah ditentukan. Ironis!

Hari Buku bisa diperingati dengan mencari tahu alasan apa yang membuat banyak warga Indonesia ini, terutama Aceh, kurang suka membaca. Berdasarkan studi Most Littered Nation In The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia menempat peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca (kompas.com, 29/8/2016).

Sedangkan menurut survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya, dalam seribu hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca (gobekasi.pojoksatu.id, 19/5/2016)

Tidak bisa dipungkiri dengan berkembangnya dunia visual, orang-orang tentu lebih tertarik melihat dan mendengar secara langsung (menonton) daripada membaca.

Seorang guru saya pernah mengatakan, membaca seperti memerah susu sapi. Setelah diperah, susu baru bisa diminum. Berbeda dengan orang yang mendengar, mereka langsung bisa meminum susu tersebut. Namun kekurangannya tetap ada. Seseorang yang lebih suka menonton atau mendengar kemungkinan tidak akan mampu mengulang apa yang sudah terlewati dalam jangka waktu yang lama. Jalur menonton memang lebih praktis, tapi membuat seseorang kehilangan apresiasi terhadap waktu.

Membaca adalah proses alami. Membaca tidak mesti bersifat tulisan tapi juga membaca tanda-tanda. Membaca lebih mudah dan memberikan waktu yang jelas bagi kita untuk berpikir. Membaca adalah senjata melawan kebodohan. Otak punya kapasitas menampung berjuta bacaan, yang oleh BJ Habibie mengatakan bahwa kekuatan otak manusia lebih besar dari jutaan komputer yang ada di dunia, akan memberikan kesimpulan yang tidak mudah dilakukan dengan hanya mengandalkan telinga dan mata, tapi dengan memadukannya. Dan senjata itu akan lebih efektif untuk meruntuhkan kebodohan yang menjerat bangsa ini.

Artinya, semakin cerdas seseorang, maka akan semakin sulit dikelabui, ditipu dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang bejat.

Buku adalah tempat sejarah berkulum dan berkumpul. Buku adalah nuansa yang mesti dinikmati dan dirasakan. Saya pernah membandingkan, ketika membaca sebuah novel yang sudah difilmkan, lalu saya menonton filmnya, kesimpulan yang dapat saya ambil: isi dalam novel lebih menyentuh dan lebih sampai daripada yang difilmkan. Tulisan punya kekuatan.

Kebutuhan manusia
Jika mengkaji sejarah, bagaimana seorang perawi, peneliti atau pemikir, demi membangun jalinan sejarah melalui tulisan atau karya, mereka rela melakukan perjalanan jauh dan melelahkan, butuh waktu puluhan tahun. Belum lagi tantangan atas situasi di zaman tersebut, kita akan disadarkan bahwa semua itu diniatkan untuk kebutuhan manusia di masa depan.

Ibnu Batutah telah melintasi 120.000 kilometer atau selama rentang waktu 1325-1354 M, sekarang dengan karyanya tersebut kita jadi tahu sejarah dan informasi masa lalu. Imam Bukhari rela menempuh perjalanan jauh demi mengumpulkan hadis-hadis shahih. Ibnu Sina mesti mendekam dalam benteng berlapis tujuh karena begitu kuatnya pengaruh dan peran pemikirannya.

Ibnu Rusyd yang mengalami rongrongan dari penguasa yang berganti selama ia hidup. Ibnu Khaldun dengan konflik yang terus terjadi di lingkungannya. Bukankah kita harus mengapresiasi langkah mereka dalam mengulas ilmu, sejarah dan pemikiran dengan membaca karya-karya yang mereka hasilkan. Tanpa bacaan, tanpa buku, kita tidak akan tahu apa yang sudah terjadi sebelum ini.

Seorang buta saja butuh membaca. Dalam gelapnya mata, mereka masih menumbuhkan harapan. Cerita orang-orang hebat perlu mereka tuntaskan. Maka, jangan anggap tidak mungkin bagi seorang buta menghasilkan karya yang luar biasa dari keterampilan yang terus diasah. Eko Ramaditya Adikara salah satunya. Ia bisa menjadi Game Music Composer, blogger, jurnalis, dan penulis. Padahal ia tunanetra. Mengapa kita yang punya mata menyia-nyiakan kesempatan yang ada?

Buku adalah sejarah. Manfaatnya bisa dirasakan hingga akhir zaman. Tanpa buku, tanpa membaca dan tanpa karya, kita ini hanyalah mitos. Apa yang kita rasakan, alami dan pikirkan perlu dituangkan dalam tulisan, karena pengalaman siapa pun bisa menjadi bermakna bagi orang lain. Tanpa itu semua mungkin saja kita akan kehilangan petunjuk. Semoga kita menjadi orang yang rajin membaca dan selalu menghasilkan nilai-nilai perubahan yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga!

* Ikhsan Hasbi, alumnus Akidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id