Adli: Karena Ada Pengecualian | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Adli: Karena Ada Pengecualian

Adli: Karena Ada Pengecualian
Foto Adli: Karena Ada Pengecualian

PAKAR perbandingan hukum jebolan Malaysia, M Adli Abdullah SH MCL menyambut baik diampuninya lima perempuan dari 68 warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan sejak 2 Mei lalu di lokap tahanan Imigrasi Malaysia di Port Klang, Selangor, karena meninggalkan perairan Malaysia dari jalur tidak resmi.

Menurutnya, di Malaysia kalau ada pembebasan yang dipercepat karena pengaruh lobi-lobi diplomat, itu berarti ada pengecualian terhadap pemberlakuan Undang-Undang Imigrasi (Akta Imigresen) Malaysia Tahun 1958 (yang direvisi tahun 2002). “Ya, ini patut kita syukuri sambil berharap tahanan yang lainnya pun bisa diampuni dalam waktu dekat,” kata M Adli saat dihubungi Serambi di Banda Aceh tadi malam.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini menyebut, pengampunan terhadap lima perempuan Indonesia itu sebagai bagian dari kebijakan terhadap pemberlakuan UU Imigrasi Malaysia. Tentunya hakim ikut mempertimbangkan aspek kemanusiaan, mengingat di antara yang ditahan itu terdapat anak-anak, ibunya, dan wanita lanjut usia.

“Biasanya, aspek lain yang ikut dipertimbangkan hakim dalam memutus perkara jenis ini adalah karena persahabatan yang baik antara Indonesia dengan Malaysia dan antara orang Aceh dengan warga Melayu,” kata Adli.

Menariknya di Malaysia, ulas Adli, meskipun ada sinyal persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri untuk membebaskan imigran tertentu yang masuk ilegal ke Malaysia, tapi kebijakan tentang itu tetap diputuskan oleh pengadilan. “Ini bagian dari komitmen negara dalam penegakan hukum terkait keimigrasian,” kata kandidat doktor di Universiti Sains Malaysia, Penang ini.

Ia memprediksi, pengenaan sanksi hukum terhadap 68 WNI itu bakal dibedakan menjadi empat kelompok. Kelompok pertama adalah lima perempuan yang dibebaskan kemarin karena alasan kemanusiaan. Kelompok kedua adalah para tahanan yang bukan tekong dan awak boat. Kelompok ketiga adalah tekong dan awak boat. Kelompok terakhir adalah agen dan calo yang merayu para WNI itu untuk pulang naik kapal sayur dari pelabuhan dan jalur tidak resmi.

“Di antara empat kelompok itu, prediksi saya yang akan dihukum berat adalah agen, calo, dan pemilik boat. Tapi kita harapkan, lobi-lobi yang terus dimainkan oleh pihak KBRI bisa meminimalisir jumlah hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka. Maunya kita, semua diampuni meski bertahap,” demikian Adli Abdullah. (dik) (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id