Bertahan Hidup Hanya dengan Makan Daun | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bertahan Hidup Hanya dengan Makan Daun

Bertahan Hidup Hanya dengan Makan Daun
Foto Bertahan Hidup Hanya dengan Makan Daun

* Kisah Para Penyelamat Penyu Bangkaru

Satu-satunya kebahagian menjadi Ranger ketika melihat tukik (anak penyu) baru menetas berjalan menuju lautan lepas.

CUACA ekstrem bisa datang kapan saja menerjang Pulau Bangkaru, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil. Posisinya di lautan lepas Samudera Hindia, menyebabkan amukan gelombang setinggi tiga sampai 10 meter bisa berlangsung berbulan-bulan.

Bila sudah demikian, pertanda mimpi buruk bagi para Ranger (penjaga penyu) di Pulau Bangkaru yang masuk dalam kawasan Taman Wisata Alam Kepulauan Banyak, tempat konservasi penyu hijau, belimbing dan sisik. Dalam kondisi ini logistik para Ranger akan semakin menipis. Sebab cuaca buruk memaksa mereka tidak bisa keluar untuk memasok makanan. Bila ini terjadi, maka kebutuhan makan nasi bisa berganti dengan makanan yang disediakan alam demi mengisi perut dan bertahan hidup, misalkan dengan memakan dedaunan. “Agar sedap daun direbus tambah garam sedikit,” kata Uzhar, Ranger Penyu Pulau Bangkaru dari LSM Hutan Alam Lingkungan Aceh (Haka) kepada Serambi, Kamis (11/5).

Ranger kawakan seperti Uzhar dan Irwan yang telah 15 tahun menjaga penyu Pulau Bangkaru memakan dedaunan sudah sering terjadi apabila cuaca ekstrem tiba. Selain itu Ranger muda lainnya seperti Usup yang baru dua tahun bergabung dan Keliwon, personel BKSDA juga sudah sering merasakannya. “Saat terjebak saya pengen merokok terpaksa puntung dikumpul, lalu digulung pakai kertas,” ujar Keliwon. Hidup sendirian berbulan-bulan merupakan hal biasa bagi para Ranger penyu di Pulau Bangkaru dengan luas sekitar 15.000 hektare itu.

Namun sebagai manusia biasa sesekali rasa takut tetap menyelinap dalam pikiran. Bila itu terjadi Ranger, segera menguci diri dalam kamar basecamp. Para Ranger rela meninggalkan anak dan istri, tinggal sendirian di tengah pulau demi menjaga penyu. Cinta tuluslah yang membuat mereka bertahan. Sebab menilik penghasil mereka yang hanya Rp 2,5 juta sebulan tak sebanding dengan pengorbanan serta nyawa yang jadi pertaruhan.

Alam yang tidak bersahabat kerap mengancam keselamatan jiwa para Ranger. Mulai dari tenggelam digulung ombak, kelaparan hingga diterkam binatang buas. Belum lagi beban psikologis, para Ranger kerap mendapat tudingan mencuri telur penyu.

Satu-satunya kebahagian menjadi Ranger ketika melihat tukik (anak penyu) baru menetas berjalan menuju lautan lepas. “Tak terasa air mata meleleh, aku menangis haru ketika melihat anak penyu berjalan di pantai menuju laut,” kata Uzhar, saat menceritakan suka duka menjadi Ranger kepada Kapolres Aceh Singkil, AKBP Ian Rizkian, Asisten I Setdakab Aceh Singkil, Mohd Ichsan dan tamu lainnya yang berkunjung ke Pulau Bangkaru.

Lokasi bertelur penyu di Pulau Bangkaru terdapat di enam titik. Yakni Pantai Pelanggaran yang merupakan basecam para Ranger, Pantai Panjang, Pantai Kecil, Pantai Amandangan tempat utama penyu bertelur, Pantai Pintu Rimba dan Pantai Ujung. Areal yang begitu luas itu hanya dijaga empat Ranger, lantaran LSM Haka kesulitan mendapatkan donatur. Akibat kesulitan biaya sejak empat tahun lalu penyu yang bertelur ke Pulau Bangkaru, tidak lagi dipasang penanda, sehingga sulit menghitung populasinya.

Para Rranger hanya berpatroli menjaga telur penyu diambil tangan-tangan jahil serta predator alami seperti biawak dan burung. Keberadaan penyu ini menurut Uzhar, sangat penting menjaga keseimbangan alam, sebab berfungsi memakan kuman terumbu karang tempat ikan bertelur. Bisa dibayangkan jika penyu musnah, maka ikan sebagai sumber kehidupan nelayan tidak akan ada lagi. Apalagi harapan hidup penyu sangat sedikit. “Dari seribu ekor anak penyu, hanya satu yang bisa selamat sampai dewasa,” kata Uzhar.(dede rosadi) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id