Barus bukan Titik Nol Islam Nusantara | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Barus bukan Titik Nol Islam Nusantara

Barus bukan Titik Nol Islam Nusantara
Foto Barus bukan Titik Nol Islam Nusantara

* Acehlah yang Pertama

BANDA ACEH – Barus, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, diyakini bukan merupakan titik nol masuknya agama Islam ke Nusantara. Hal itu diyakini, disepakati, dan disuarakan oleh tiga narasumber Seminar Nasional “Mempertegas Teori Awal Masuknya Islam ke Nusantara”, Senin (15/5) di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Mereka yang berpendapat demikian adalah Prof Dr Azyumardi Azra MA CBE (mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA (Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh), dan sejarawan Aceh, Dr Husaini Ibrahim MA. Seminar yang dihadiri 200-an peserta itu dipandu Yarmen Dinamika, Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia.

Versi Azyumardi, Pasailah tempat pertama masuknya Islam ke Nusantara. Menurut Farid Wajdi, Peureulak di Aceh Timurlah titik nol masuknya Islam ke Nusantara. Sedangkan Husaini meyakini berdasarkan penelitiannya terhadap batu-batu nisan Aceh bahwa titik nol masuknya Islam ke Nusantara justru Lamuri di Aceh Besar.

Meskipun memiliki pendapat yang berbeda soal lokasi persisnya, tapi ketiga narasumber sepakat bahwa Aceh merupakan titik nol masuknya agama Islam ke Nusantara, bukan Barus.

Prof Dr Azyumardi Azra dalam presentasinya malah meragukan kebenaran Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara yang ditetapkan Presiden RI Joko Widodo pada rangkaian Silaturahmi Nasional Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI), 24-25 Maret 2017, di Mandailing Natal. Menurutnya, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Barus itu titik nol Islam Nusantara. “Saya tidak menemukan bukti kuat bahwa Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Kita perlu cari tahu siapa pembisik Presiden Jokowi soal itu dan siapa yang mengatur, sehingga beliau datang ke Barus untuk meresmikan itu? Padahal, tidak ada bukti-buktinya di sana,” kata Azyumardi Azra dalam seminar yang digagas Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu.

Azyumardi menegaskan, hanya Pasai (Pase)-lah yang terbukti kuat sebagai daerah awal masuknya Islam ke Nusantara. “Kalau berdasarkan sejarah yang akademik itu, titik nol masuknya Islam ke Nusantara adalah Samudera Pasai. Ini didukung bukti-bukti dan tulisan pendukung yang lebih dari cukup,” ujarnya.

Malah, di mata Azyumardi, Aceh itu pusat intelektualisme Islam yang pertama di Nusantara. Di sisi lain, pusat kulamaan atau representasi politik Islam itu dilaksanakan, baik konsep maupun tataran praksisnya, justru di Aceh yang pertama, bukan di Barus.

Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA mengatakan, awal masuknya Islam ke Nusantara terkait dengan kerajaan Islam tertua di Indonesia, yaitu Kerajaan Peureulak di Aceh Timur yang berdiri pada tahun 840 Masehi. “Ada banyak bukti sejarah yang menunjukkan di Peureulaklah mulainya Islam di Nusantara. Buktinya sangat akurat,” kata Farid.

Dia juga menyebutkan, berdasarkan buku Gerak Kebangkitan Aceh karya M Junus Jamil, agama Islam yang mula-mula masuk ke Aceh beraliran Syiah. Hal itu serupa dengan kondisi Kerajaan Peureulak pertama kali yang masih menganut Islam aliran Syiah yang didukung Dinasti Fatimah di Mesir.

Farid juga mempertanyakan mengapa bukan Aceh yang menjadi Titik Nol Islam Nusantara. Menurutnya, hal itu dikarenakan gejala keagamaan di Aceh akhir-akhir ini tidak mencerminkan semangat Islam Nusantara yang toleran terhadap perbedaan. “Kita sering mendengar adanya pemaksaan atas nama agama. Hal ini bagi orang-orang Jakarta sangat mencederai nilai-nilai Islam Nusantara,” jelasnya.

Sementara itu, Dr Husaini Ibrahim MA meyakini bahwa awal masuknya Islam ke Nusantara justru dari Kerajaan Lamuri di Aceh Besar.

Husaini yang membuat penelitian di Bukit Lamreh, Aceh Besar, pada tahun 2016 mengatakan, temuan di Lamuri mengindikasikan bahwa kerajaan Islam itulah yang tertua, dan boleh jadi sebagai tempat masuknya Islam pertama di Nusantara, bukan Barus.

Dia jelaskan, Barus awalnya daerah perdagangan rempah dan obat yang dibangun oleh imigran India Selatan, Timur Tengah, dan Jawa pada abad ke-9. Namun, perdagangan itu hanya berlangsung hingga abad 12. “Secara tiba-tiba para pedagang meninggalkan Barus yang belum diketahui penyebabnya pasti,” ujar Husaini.

Namun, dalam sebuah catatan disebutkan bahwa Barus diserang gergasi yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Aceh. “Menurut saya, geugasi (gergasi) atau raksasa dalam bahasa Melayu itulah Kerajaan Lamuri,” kata Dosen FKIP Unsyiah ini.

Bukti kekuasaan Lamuri, menurut Husaini, di antaranya perdagangan pinang sebagai obat yang dikirim ke Cina melalui Barus berasal dari Lamuri.

Husaini menambahkan, perdebatan tentang awal Islam di Nusantara sudah terjadi dalam waktu lama. Perbedaan awal masuknya Islam ke Nusantara yaitu dari Pasai, tapi ada pula yang mengatakan dari Peureulak. Ini telah menimbulkan keraguan terhadap data yang diperoleh di lapangan.

Husaini mempertegas, berita-berita dan catatan asing selama ini tidak pernah menyebutkan Barus sebagai kerajaan Islam atau bahkan titik awal masuknya Islam ke Nusantara.

Menurutnya, beberapa seminar nasional bahkan internasional sudah digelar soal titik nol Islam Nusantara ini. Di antaranya di Medan tahun 1963, Banda Aceh pada 1978, dan terakhir di Rantau Kuala Simpang pada 1980. “Dalam seminar terakhir, para ahli sepakat bahwa Islam masuk dari Peureulak, Aceh Timur yang dibawa oleh mubalig Arab,” kata dia sembari menyebut bahwa salah satu implementasi dari seminar itu yaitu didirikannya Monumen Islam Asia Tenggara (Monisa) di Desa Paya Meuligoe, Peureulak, Aceh Timur.

Namun, lanjut Husaini, munculnya titik nol masuknya Islam di Barus yang diresmikan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, telah menimbulkan kerisauan di kalangan akademisi dan sejarawan. Soalnya, hal itu bertentangan dengan apa yang telah disepakati dalam seminar terdahulu maupun dengan yang dinukilkan di dalam berbagai buku sejarah.

Wakil Ketua DPRA, Drs Sulaiman Abda MSi yang hadir dalam acara itu mengatakan kepada Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry bahwa seminar ini perlu dilanjutkan dan diperluas lingkupnya. Jika perlu bikin seminar internasional dengan menghadirkan lebih banyak pakar untuk memperjelas titik nol masuknya Islam ke Indonesia. Sulaiman Abda bahkan siap mengucurkan dana aspirasinya di DPRA untuk membiayai seminar lanjutan itu. Hal yang sama juga disuarakan Dr Maryati, anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh. (fit) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id