Hutan Adat Dibabat Habis | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hutan Adat Dibabat Habis

Hutan Adat Dibabat Habis
Foto Hutan Adat Dibabat Habis

* Warga Pantan Lah Protes

REDELONG – Diperkirakan, sekitar 1.000 hektare lebih hutan adat di kawasan Kampung Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah dibabat habis, dan telah berubah menjadi pemukiman atau perkebunan. Warga Pantah Lah langsung mengajukan protes kepada Pemkab Bener Meriah untuk menyelesaikan konflik dengan warga Kabupaten Bireuen.

Perwakilan warga Pantan Lah, Syahrial Abadi, Senin (15/5) mengatakan persoalan klaim wilayah antara warga Bener Meriah dengan Bireuen harus ada solusi dan diselesaikan segera. Dia menyatakan persoalan tersebut kian menjadi rumit karena pengklaiman dari kedua kabupaten bertetangga itu saling mengakui dan memiliki wilayah itu.

Syarial menjelaskan warga Pantan Lah sudah menetap di kawasan itu sejak tahun 1972 saat masih masuk dalam Kabupaten Aceh Tengah. Disebutkan, warga Bireuen mengklaim mereka telah mencaplok wilayah Kabupaten Bireuen, padahal sudah lama masuk Aceh Tengah, sebelum dimekarkan menjadi Kabupaten Bener Meriah.

“Kami pernah diusir, karena dianggap tidak berhak mengelola tanah adat di Kampung Pantan Lah,” kata Syahrial saat melakukan audiensi dengan perwakilan Pemkab Bener Meriah, kemarin. Menurutnya, klaim hutan adat oleh warga Bireuen telah menyebabkan sekitar 1.000 hektare lebih hutan dibabat habis, sehingga dikhawatirkan akan terjadi bencana besar.

Menurut dia, hutan yang dibabat tersebut, berdasarkan peta tahun 1935 dan versi peta kabupaten Bener Meriah, masih di wilayah administrasi Pemkab Bener Meriah. “Sudah lebih 1.000 hektar hutan dibabat untuk mengambil kayu secara ilegal untuk kepentingan pengusaha Bireuen,” ujarnya.

Dijelaskan, kalau persoalan perbatasan tidak diselesaikan dengan segera, pihaknya bersama masyarakat kampung Pantan Lah yang berkisar lebih 160 KK akan siap mempertahankan wilayah yang dianggap tak bertuan itu. “Kami telah bersabar, tetapi kalau terus bersabar, tentu tanah adat masyarakat Bener Meriah akan terus dibabat,” katanya.

“Kenapa bisa begitu, karena menurut sejarah, Kampung Pantan Lah masuk Aceh Tengah, yang saat ini sudah menjadi Kabupaten Bener Meriah. Tapi sekarang ada pegklaiman bahwa tanah di seputaran kampung ini milik Kabupaten Bireuen dan kami sangat khawatir akan terjadi masalah antara masyarakat,” ujarnya.

Dia berharap Pemkab Bener Meriah dan Bireuen harus segera melakukan lankah konkrit untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dia mencontohkan, seperti perbatasan yang terus berpindah-pindah, sehingga masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bener Meriah.

Camat Pintu Rime Gayo, M Amin Syah dalam pertemuan itu menyatakan sudah terdapat satu pemukiman baru di wilayah Pantan Lah, tetapi masuk dalam Kabupaten Bireuen. Dia mengaku pernah melakukan pertemuan dengan Pemkab Bireuen dengan memperlihatkan peta tahun 1935, karena sekitar 3,4 km wilayah Bener Meriah sudah masuk Kabupaten Bireuen.

Dia menjelaskan, sengketa lahan terbaru terjadi saat kisruh politik baru-baru ini. Dia menyatakan pemukiman itu didirikan dengan nama Kampung Peusangan yang sengaja dibuat untuk kepentingan politik. “Kampung itu, sebagian besar masyarakat Pantan Lah, Bener Meriah, tetap dimasukkan dalam Kabupaten Bireuen,” ujarnya.

M Amin Syah mengatakan masyarakat yang mendiami kampung itu, asalnya dari Pantan Lah. “ Tentunya, kita miris melihat semua infrastruktur yang dibangun oleh Pemkab Bener Meriah kini sudah diklaim menjadi wilayah Kabupaten Bireuen,” katanya.(c51) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id