Jamaah Ingin Nyaman di Masjid Raya Baiturrahman | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Jamaah Ingin Nyaman di Masjid Raya Baiturrahman

Jamaah Ingin Nyaman di Masjid Raya Baiturrahman
Foto Jamaah Ingin Nyaman di Masjid Raya Baiturrahman

Kalangan ulama dan warga Aceh mengkritik model toilet baru di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Mereka berharap penanggung jawab proyek pembangunan toilet ini memperbaiki model toilet agar sesuai dengan nilai-nilai syariah dan memenuhi syarat dalam bersuci (taharah).

Kritikan terhadap toilet baru Masjid Raya Baiturrahman ini berembus kencang melalui jejaring sosial Facebook sejak Minggu (14/5) pagi atau sehari setelah Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meresmikan wajah baru masjid kebanggaan rakyat Aceh ini.

Misalnya, Ustaz Masrul Aidi, pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung, Aceh Besar, mengunggah dua foto tentang model tempat buang air kecil dan WC (tempat buang air besar). Dari status yang diunggah Masrul Aidi serta komentar para pengguna Facebook, setidaknya ada dua hal yang dikritik dari toilet tersebut.

Pertama tentang rendahnya pembatas (dinding) antartoilet dan kedua tentang WC duduk yang menurutnya tidak lazim digunakan di tempat ibadah umat Islam. “Seharusnya, kalau pun memang disediakan toilet berdiri, maka pembatasnya harus lebih tinggi, agar tetangga tak sembarang lirik-lirik,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Selain tempat buang air kecil, model WC duduk yang terkesan hanya mengutamakan kebersihan, bukan kesucian, juga mendapat sorotan. Kebanyakan prang Aceh dianggap belum “akrab” dengan kloset duduk, terutama saat di luar rumah. Intinya, harus ada pilihan, ada yang duduk dan ada yang jongkok.

“Saya belum sempat melihatnya langsung, tapi sudah melihat gambar-gambar yang dikirim melalui WA (Whatsapp). Saya pikir model toiletnya memang belum sesuai dengan syariat, serta adat dan budaya masyarakat Aceh,” ujar Tgk Faisal Ali, Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah.

Mereka berharap kritikan ini mendapat respon positif dari pihak penanggungjawab proyek yang masih dalam tahap penyelesaian ini. “Sebaiknya diperbaiki saja. Jangan sampai masjid yang sudah sangat megah ini tercemarkan dengan toilet yang tidak memenuhi syariat,” ujarnya.

Seorang pejabat penanggungjawab mengatakan, pembuatan toilet itu sesuai gambar yang sudah disetujui. Akan tetapi, jika memang dinilai kurang pas menurut syariat, adat, dan budaya Aceh, maka fasilitas itu akan dievaluasi kembali. “Kita akan terus berusaha untuk membuat yang terbaik, agar orang yang akan beribadah di Masjid Raya Baiturrahman merasa nyaman dan puas atas fasilitas yang tersedia di masjid,” kata sang pejabat.

Ya, yang namanya membangun dan menyediakan fasilitas publik, terutama tempat ibadah, memang jarang sekali bisa sempurna sekaligus. Yang penting, setiap kali ditemukan ketidaksempurnaan, itu harus segera disempurnakan sebelum menimbulkan masalah.

Yang pasti, kita semua menginginkan Masjid Raya Baiturrahman betul-betul menjadi tempat ibadah yang nyaman sekaligus menjadi contoh bagi masjid-masjid yang lain. Jadi, jika dinding pembatas antar toilet pria dianggap kurang tinggi, maka tinggikanlah sewajarnya. Jika di halaman air tergenang, usahakanlah mengalir ke saluran pembuang. Dengan demikian semua akan merasa aman dan nyaman datang ke masjid kebanggaan Aceh itu. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id