Payung dan Ruh Baiturrahman | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Payung dan Ruh Baiturrahman

Payung dan Ruh Baiturrahman
Foto Payung dan Ruh Baiturrahman

Oleh Muhammad Yakub Yahya

SATU hari menjelang peresmian rampungnya pembangunan renovasi Masjid Raya Baiturrahman, hujan deras mengguyur kota Banda Aceh dan sekitarnya. Bahkan, pada saat prosesi peresmian yang ditandai dengan peh tambo oleh Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla (JK), pada Sabtu (13/5/2017) pagi, ceceran air hujan masih membasahi lantai pelataran depan masjid yang megah itu.

Renovasi Masjid Raya Baiturrahman yang paling menonjol kali ini adalah 12 unit payung otomatis yang dibangun di pelataran depan dan samping kiri-kanan masjid, serta basement untuk tempat wudhuk dan perparkiran. Saat hujan datang, payung pun menahan limpahan air. Kabarnya saat mekar ia seperti Masjid Nabawi Madinah sana, meski di sana jarang sekali hujan. Hujan turun, payung berkembang, halaman memang tetap basah, sebab payung hanya ada selusin, jauh di atas sebagian halaman saja.

Memang baru kali ini kedengaran celoteh pedagang sekitaran, payung bukan hanya untuk hujan. Namun juga untuk keindahan dan kemegahan. Seakan payung yang menancap sendiri satu hal, dan hujan ke lantai melicinkan marmar itu hal lain. Walaupun sudah disosialisasikan bahwa payung untuk memayungi jamaah yang kepanasan di halaman yang bemarmar yang diimpor dari Italia dan Tiongkok, tapi bagi yang kurang sepakat dengan proyek ini, tetap bercanda, kenapa uang tidak diplotkan ke masjid lain yang sangat banyak yang masih butuh uang di Aceh ini.

Kurang nyaman
Rupanya, di atas semua itu, bukan fasilitas yang nomor satu, tapi kenyamanan dan keamanan saat berada di kawasan Rumah Allah. Sejak dua tahun lalu, saat pembangunan Baiturrahman, memang kian kurang nyaman bagi jamaah, kecuali (mungkin) jika kita sudah masuk ke dalam, baik iktikaf, shalat, saksikan nikah, maupun lihat-lihat. Menikah di Baiturrahman pun, terasa kurang shahdu saat pembangunan, juga untuk hajat pribadi dan sosial lainnya. Apalagi lepaskan nazar, tak ada tempat lagi di halaman masjid. Jika ada hajatan, kami sarankan, lepaskan dan niatkan sendiri saja. Saat itu, Baiturrahman dan jalan masuk ke halaman, memutar-mutar, dan centang perenang. Jamaah dan wali murid kami, bersusah payah mencari tempat wudhuk dan lokasi hajat kecil. Pedagang depan, dan sekitar Masjid Raya pun, sampai kini banyak bermuka masam, juga pejalan kaki dan pengendara yang terjebak ke jalan dekat pagar proyek itu.

Benar-banar kurang nyaman, hingga saat peresmian. Namun sebelum ‘musim renovasi’ dan pembangunan landscape, adakah kenyamanan? Itu tergantung dari dalam diri kita, meski saat itu area tidak berantakan dan sarana masjid belum ‘diporak-porandakan’ alat berat, demi pembangunan yang lebih ‘nabawi’. Sebelum musim ‘menyulap’ dengan payung dan musim ‘penghancuran’ rumput hijau Masjid Raya itu, ada di antara jamaah Aceh (mungkin Anda mungkin saya) yang pernah shalat di luar Aceh, di Masjid Jamik, Masjid Besar, Masjid Agung, Masjid Raya, Masjid Negara, atau hanya sejenak berdiri dan duduk dalam mushalla, mungkin itu di komplek bandara Pulau Jawa, suka membandingkan tata kelola masjid di sana, dengan di sini.

Atau kita sempat wudhuk dengan kran air yang mengalir deras, bening, dan i’tikaf dengan sejuk dan tenang, dalam masjid yang indah, di luar negeri. Di Singapura atau Malaysia misalnya. Lalu kita senang membandingkan pelayanan dan kemakmuran, di wilayah yang mungkin asing dengan formalitas dan simbol syariat, dengan di sini yang bersyariat. Kita merasakan khusyuk dan nyamannya, kala menyerahkan diri pada Allah, lewat sujud dan rukuk, dan kita cakap membagi kisah itu sepulang dari sana. Barangkali dengan sedikit ‘bumbu-bumbu’ penyedap itu. Sembari membandingkan-bandingkan pembangunan ekonomi masjid orang dengan masjid kita, bukan hanya Baiturrahman.

Kita juga rutin singgah ke Masjid Raya Baiturrahman, sebelum berkelana ke mana-mana, dan saat pulang ke sini, ke Kutaraja dan ke Aceh, yang kabarnya (dan memang fakta dan realita di sini, di kampung miskin atau kaya, kalangan nelayan dan tani, swasta dan aparatur negara, berlomba-lomba bikin masjid, tapi kita dikritik) bermalas-malasan dalam memakmurkannya. Kata kita lagi, dulu saya bisa shalat dengan nyaman dan teduh dalam Rumah Allah ini, juga dalam masjid kampung, dalam mushalla di kediaman saya, atau dalam Masjid Raya Baiturrahman ini.

Namun sekarang, kenyamanan bermunajat dan berjamaah dalam masjid, tak lagi kita rasakan, bukan saja dalam Baiturrahman. Fisik masjid yang berkubah hitam tujuh buah, lima menara yang menjulang, cat yang berganti warna, kadang dengan tahi burung hujan pula, televisi yang mewah tapi membisu dan berdebu, pengeras yang kadang suara serak dan lembek, dan kipas angin yang hidup mati, AC yang sebagian ada yang hidupkan dan sebagian mati, loteng yang terus direhab karena tempel di sini bocor di sana, sapaan penjaga dan pelayan yang ramah atau marah, yang kita harapkan kian menawan, yang bisa menarik kita ke dalamnya, redup dan melemah tarikan itu, hari ini. Apalagi masih disambut crane di gapura.

Kita ingin meraih kesyahduan dan kelezatan shalat dan zikir sebagaimana masa lalu, saat pertama sekali menginjak kaki ke halaman yang luas atau di rerumputan, saat menapaki teras yang hangat, dan waktu merapat meramaikan shaf-shaf yang bergaris hitam dalam Masjid Raya, tapi tetap belum sama dengan rasa dengan kelezatan tempo dulu.

Kemasygulan dan rasa gersang batin ini, bisa dirasakan oleh siapa saja, Anda dan saya. Apalagi sudah bilangan, belasan, atau puluhan tahun menatap, keliling, dan shalat dalam sebuah masjid yang sama. Jika hadir dan tiba ke masjid lain, apalagi untuk pertama, kedua, dan ketiga kali, kita masih betah dan menikmati, desahan dingin angin, dari celah dinding dan jendela Rumah Allah, tapi ini lain, gersang saja, mungki sudah biasa. Kita masih merasakan getaran kedekatan dengan Khaliq yang menusuk ke dalam, setiap baris zikir, dengan lisan dan hati, jika ke masjid sekitar, atau luar Aceh, ini biasa rasanya biasa-biasa saja. Juga saat kita membuka Alquran, dari rak berdebu dan terawat, dengan lembut dan beradab itu, tensi keteduhan kita naik, jika di masjid yang jarang kita masuki, tapi di sini belum naik-naik juga angka ketengan batin.

Juga saat muazzin yang tua atau muda, yang qari atau bukan qari, yang santai atau buru-buru dalam azannya, memanggil hayya ‘alash shalaah, kita cepat segera terpanggil, jika sesekali ke ‘masjid orang’, tapi di sini di ‘masjid sendiri’, kadang kian menjauh kita menuju ke suara itu. Kadang jika sudah keseringan melangkah ke masjid, ke ‘taman surga’ itu (meski sebelum shalat diawali dengan qari yang aduhai suaranya dan lagam lagunya, disiarkan lewat radio, apalagi ayatnya dicomot di sana sini, pertanda piawai sekali dia membawa tujuh dan sepuluh macam irama) lalu rasa teduh, dan getaran itu tak kunjung datang lagi.

Dua kemungkinan
Nah, di sini, mungkin kita dihadapkan pada dua tanda, pada dua kemungkinan. Pertama, memang ruh masjid kita mungkin yang sudah berubah, dari nilai takwa ke orientasi duniawi, pamer, riya, matarialistik, dan politis. Dan ajang berlomba-lomba dalam meninggikan dan mengumumkan isi celengannya. Kita tidak sedang bicara Baiturrahman. Eloknya masjid, bagai Masjid Quba dan Nabawi yang perdana di dunia, yang bisa menawan kita masuk ke sana, si kafir sekali pun betah di terasnya, menyimak ceramah Nabi saw. Eloknya masjid bagaikan masa khalifah dan generasi emas di masanya, dengan transparansi keuangan dan servis maksimal untuk kemakmuran.

Mestinya masjid bisa menyatukan dan memanggil hati-hati kaum tanpa kelas, dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua renta, untuk memenuhi shaf pertama hingga ke belakang, tapi justru kepengurusannya yang retak, tak mulia akhlak, dan suka memarahi anak-anak, akan mewariskan kesepian, saat generasi tua diusung ke balik tanah kuburan. Ini potret jamaah kita di mana-mana, senyap, tetua saja yang batuk-batuk meramaikan separuh shaf, kecuali Magrib saja yang sejenak riuh dengan amin, yang diimami oleh imam yang hafalannya ayat dan surat itu itu saja, sekadar kebutuhan sahalat tarawih dan witir, yang setahun sekali itu.

Kedua, memang diri ini mungkin yang kian berumur, kian yang akrab dengan maksiat, baik makanan, minuman, pembicaraan, tontonan, pekerjaan, dan lingkungan kita. Jadi ibadah pun di mana-mana, di Masjid Raya yang terindah di Asia Tenggara pun, bakal tak bisa khusyu’ dan nyaman, kerana hati berkarat dan bernoda. Akhirnya dengan anak mengaji pun kita marah, dengan anak kecil pun kita kasar.

Ini evaluasi diri kita, mungkin dulu sebelum ke sana ke mari, sebelum ke Jawa dan Malaysia, sebelum suka membandingkan kesejukan dan kelezatan ibadah dalam masji lain, kita bersih diri dan hati. Sebelum dan usai peresmian. Kini, mungkin kita kotor batin dan jiwa, yang menghambat Nur Ilahi masuk ke sini. Jadi, bukan lokasi dan masjid mana yang bisa meneduhkan qalbu, tak pula kepengurusan, layanan wudhuk, perparkiran, imam dan muazzin yang bermasalah. Namun kita tata kembali setiap bisikan, khayalan, dan arah kemauan hati kita, biar kian suci, tak banyak noda lagi.

* Muhammad Yakub Yahya, Dewan Pengarah Remaja Masjid Raya Baiturrahman, Guru (sejak 1996), dan Direktur TPQ Plus Baiturrahman (sejak 2015). Email: [email protected] (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id