RSUZA Sukses Lakukan Cangkok Ginjal Kedua | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

RSUZA Sukses Lakukan Cangkok Ginjal Kedua

RSUZA Sukses Lakukan Cangkok Ginjal Kedua
Foto RSUZA Sukses Lakukan Cangkok Ginjal Kedua

 * Pasien Dibolehkan Pulang

BANDA ACEH – Tim medis Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) sukses melaksanakan operasi cangkok (transplantasi) ginjal untuk kedua kalinya, atas nama pasien baru, Handriyani (41), ibu dua anak asal Kota Langsa pada 1 Mei lalu di rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu.

Setelah dirawat intensif sebelas hari di Ruang Zamzam, Paviliun Geurutee lantai II, dia dibolehkan pulang ke rumah oleh tim dokter yang menanganinya, Jumat (12/5).

Hal itu disampaikan Direktur RSUZA, dr Fachrul Jamal SpAn KIC kepada Serambi kemarin, saat melihat perkembangan pasien tersebut. Menurut Fachrul, Handriyani yang mengalami gagal ginjal mendapat donor dari adik kandungnya, Liliyani (34). Keduanya berprofesi perawat. Kedua perempuan itu, lanjut Fachrul, telah menjalani proses screening untuk menguji kecocokan organ, sebulan sebelum dioperasi pada 1 Mei 2017.

“Alhamdulillah, Handriyani merupakan pasien kedua untuk transplantasi ginjal yang ditangani RSUZA. Fungsi ginjalnya saat ini cukup baik, sehingga kami membolehkannya pulang hari ini (12/5),” ujar Fachrul Jamal kemarin.

Meskipun kesehatan Handriyani sudah membaik, untuk sementara dia dianjurkan menetap di rumah saudaranya di Banda Aceh, guna memudahkan dokter melakukan pengecekan berkala.

Fachrul menambahkan, Handriyani sejak setahun terakhir menjalani cuci darah rutin karena mengalami gagal ginjal. Dengan keberhasilan cangkok ginjal ini, pasien tersebut tidak perlu lagi cuci darah. “Pasien harus jaga makanan dan harus diisolasi selama beberapa bulan, karena kami memberikan obat antipenolakan untuk menekan reaksi berlebihan dalam tubuh, sekaligus menekan daya tahan tubuhnya,” jelas dia.

Menurut Fachrul, donor ginjal antara keluarga seperti Handriyani dan adik perempuannya sangat baik. Bahkan pada beberapa kasus di luar Aceh, donor ginjal bisa dilakukan antara suami dan istri.

“Ketika tidak ada penolakan dalam tubuh yang dibuktikan lewat screening, maka suami istri pun bisa donor ginjal. Namun, kami tetap menganjurkan donor itu antarkeluarga kandung,” katanya.

Berbekal dua pengalaman transplantasi ginjal lanjut dia, RSUZA siap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien yang ingin operasi di RS tersebut. “Pasien gagal ginjal kini memiliki harapan baru untuk tidak bergantung lagi pada cuci darah. Tim dokter RSUZA siap memberikan yang terbaik,” tukasnya.

Handriyani, pasien cangkok ginjal itu kini telah mampu berkomunikasi dengan normal. Kepada Serambi, perawat di rumah sakit Langsa itu mengaku sangat bahagia bisa kembali sehat. “Saya merasa lebih sehat dan tidak mudah lelah sekarang. Badan saya terasa lebih ringan, rasa-rasanya ingin berlari saja,” ujar Handriyani dengan mata berkaca-kaca.

Dia turut mengucapkan terima kasih kepada tim medis RSUZA yang telah melayani dirinya dengan sangat baik.

Kepada para penderita gagal ginjal, Handriyani berpesan bahwa transplantasi ginjal merupakan pilihan yang patut dicoba. “Masyarakat jangan takut untuk transplantasi ginjal. Cara ini adalah solusi agar kita tidak bergantung lagi dengan cuci darah,” ujarnya.

Terkait pasien cangkok ginjal perdana RSUZA atas nama Yanes Revelita (47) yang sukses dioperasi pada 1 Agustus 2016, Direktur RSUZA mengungkapkan bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia. Setelah beberapa bulan dipulangkan pascaoperasi, kondisi Yanes mengalami perburukan dan akhirnya meninggal.

“Hasil evaluasi tim dokter, penyebabnya adalah infeksi berat yang menyerang paru-paru, saluran cerna, hingga kulit pasien,” katanya. Infeksi tersebut, lanjut Fachrul. terjadi karena pasien tidak diisolasi secara baik selama beberapa bulan pascaoperasi. Isolasi (karantina) itu harus menjamin makanan yang bergizi bagi pasien serta menghindari kontak langsung dengan lingkungan di sekitarnya.

Menurut Fachrul Jamal, bila tidak diisolasi dengan baik, ada tiga masalah besar yang bisa dialami pasien cangkok ginjal pascaoperasi yaitu gagal sambungan organ, terjadi reaksi penolakan dalam tubuh, dan munculnya infeksi berat.

“Faktor infeksi berat dialami pasien pertama. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi umur Allah yang tentukan,” ucapnya. (fit) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id