Hidup Bersama di Kota | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hidup Bersama di Kota

Hidup Bersama di Kota
Foto Hidup Bersama di Kota

Oleh Bisma Yadhi Putra

MULAI tak sanggup bau air got yang sudah mengental di depan rumahnya, pemilik rumah tiga tingkat itu lantas mengambil tindakan. Seorang pekerja serabutan ia upah untuk membersihkannya. Sesuai permintaan sang tuan rumah, si pekerja membersihkan got hanya sepanjang kira-kira dua puluh meter, mengikuti panjang pagar rumah tersebut. Sementara got di sepanjang deretan perumahan –yang harga per rumahnya mencapai Rp 800 juta ke atas– itu lebih dari seratus meter.

Untuk memungkinkan pembersihan seruas got tersebut, kedua sisinya disumbat dengan karung berisi pasir. Maka diangkatlah beraneka limbah dari sana sampai airnya mengencer. Ada rumput, batang kayu, pembalut wanita, popok bayi, tulang ikan, daun pisang, reja-reja kain, berbagai jenis tali, hingga beberapa sandal jepit tanpa pasangan. Bau tak sedap berkurang, pemilik rumah senang. Meski air kotor nan menjijikkan di situ tidak mengalir, hanya tergenang. Tentu ini bukan standar kebersihan yang baik untuk agenda penyehatan lingkungan secara menyeluruh. Membersihkan seruas got tak akan menyelesaikan masalah. Bau got tak bisa diblokir dengan karung pasir.

Melihat tetangganya mengambil tindakan, keluarga-keluarga lain pun ikut serta. Kali ini pembersihannya terorganisasi, tidak sendiri-sendiri. Mereka sepakat mengupah beberapa pekerja untuk membersihkan keseluruhan bagian got. Jadi sekarang bau busuknya sudah benar-benar hilang. Anggota-anggota komunitas kecil itu tak perlu lagi menutup hidup ketika sedang membuka dan menutup gerbang rumahnya.

Di mana pun manusia hendak membangun peradaban, got wajib disertakan di dalamnya. Got adalah subsistem pertahanan peradaban. Ia harus dibuat untuk menjaga kesehatan ruang fisik peradaban maupun manusia-manusia di dalamnya. Sebab itulah harus dipastikan ia senantiasa dalam keadaan baik di seluruh bagiannya. Ia harus bisa mengaliri (bukan menampung) limbah cair hasil bermacam kreasi manusia ke tempat seharusnya mereka bermuara.

Satu rumah di tengah hutan pun memerlukan saluan pembuangan. Terlebih di perkotaan, tempat di mana “reproduksi” limbah berjalan 24 jam nonstop. Keterlibatan semua orang pun jadi keniscayaan. Tidak akan got berfungsi normal kalau hanya satu rumah yang terlibat. Penyelenggaraan kehidupan manusia selalu meminta kebersamaan.

Perlu ditelaah
Masalah di atas sudah selesai. Akan tetapi tidak berarti segalanya sudah dalam keadaan beres setelah lingkungan bersih yang diidamkan berhasil diwujudkan komunitas kecil tadi. Pembersihan yang dilakukan sendiri-sendiri adalah satu masalah. Sementara itu ada masalah sosial lain yang oleh para sosiolog (terutama mereka yang memusatkan perhatiannya pada kajian sosiologi perkotaan) pemuja “kolektivitas sosial” dilihat sangat perlu ditelaah, kemudian digugat.

Masalahnya, capaian sosial, yang dalam kasus di atas adalah bersih dan berfungsinya saluran pembuangan di lingkungan, bisa tidak diwujudkan dengan turun tangan langsung orang-orang yang membutuhkan kondisi tersebut. Kondisi idealnya diwujudkan lewat perantara, yakni orang-orang yang diupah untuk kerja pembersihan.

Meski para sosiolog tak menyangkal bahwa itu adalah bentuk dari kerja sama sosial, yakni adanya sekelompok orang (kaya raya) yang mengupah beberapa orang (miskin) yang membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh biaya hidup, tetapi metode penciptaan kondisi ideal tersebut justru tidak ideal. Penciptaan kondisi lewat kerja sama dua pihak yang berbeda strata ekonomi itu dicela karena tidak mendorong terjadinya interaksi sosial yang mendalam atau erat di antara orang-orang yang berstrata ekonomi sama tersebut.

Dan dalam hal ini, justru bukanlah para sosiolog yang paling banyak terlibat dalam pertentangan pendapat. Perdebatannya justru lebih banyak melibatkan mereka yang menjalani langsung realitas tersebut, yakni orang-orang yang menjadi subjek penelitan para akademikus/teoretikus ilmu sosial. Maka debat mengenai bentuk kebersamaan sosial di kota tak terkurung di ruang-ruang kelas atau tulisan-tulisan ilmiah.

Umumnya orang-orang yang tinggal di perkotaan, terutama yang menetap di sektor perumahan mewah, dipandang sebagai golongan masyarakat yang bernafsi-nafsi. Tidak ada kebersamaan sosial di antara mereka. Sebab itulah kasus di atas bisa terjadi. Kritik klisenya: semua orang selalu sibuk dengan urusan masing-masing dan tak punya waktu turun tangan langsung merawat lingkungan bersama tetangga. Dalam satu istilah biasa disebut dengan “individualistis”. Bisa jadi ini kesimpulan yang gegabah.

Perdebatan muncul karena tafsir atas “kebersamaan” ternyata tidaklah tunggal. Pemaknaan yang pluralistis atas sesuatu niscaya akan membuat penerapan sesuatu itu tidak dalam satu cara. Kelompok masyarakat yang dianggap individualistis melihat kebersamaan dalam sudut pandang lain, yakni yang bersesuaian dengan kondisi kelasnya; kelas “orang kaya yang sibuk”. Sewaktu mereka mulai “bersatu” setelah mengidentifikasi dirinya dalam paradigma kebersamaan sosial yang sama, label “individualistis” pun menjadi tidak relevan. Di sinilah pertama kali cap tersebut dipatahkan dengan penjelasan faktual bahwa “kami juga punya komunitas (kebersamaan)”. Akhirnya ini menjadi ketegangan antara himpunan besar versus himpunan kecil.

Bentuk kebersamaan
Bagi himpunan kecil tadi, mengupah (sejumlah) orang untuk membersihkan lingkungan dipandang sebagai bentuk kebersamaan. Ada dua kontribusi sosial di situ. Pertama, masing-masing keluarga mengeluarkan “uang kebersihan” sehingga lingkungan tetap terawat. Kedua, membuat orang-orang miskin punya penghasilan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Jadi upaya pembersihan lingkungan dipandang tak melulu harus turun tangan langsung. Sementara “ketidakbersamaan” dimaknai dengan terlokalisasinya kehendak untuk menjaga lingkungan hanya pada beberapa rumah tangga saja –yang dalam kasus di atas hanya diupayakan oleh seorang pemilik rumah.

Dalam paradigma kebersamaan sosial tak langsung, yang paling penting adalah “hasil tindakan”. Jika masalahnya adalah lingkungan yang jorok, maka hal yang cukup diwujudkan adalah hasil dari kegiatan pembersihan: kebersihan. Ketika lingkungan perumahan sudah bersih, maka kebersamaan dikatakan telah terwujud. Di sini tidak penting siapa aktornya; tidak penting tangan siapa yang memegang cangkul. Hasil adalah substansi.

Tapi perdebatan tidak berhenti di situ. Mereka yang melihat kebersamaan sosial harus dijalankan secara langsung memang menerima koreksi tersebut. Mereka juga tidak menyangkal hasil dari tindakan sosial sangat penting. Akan tetapi apa yang kemudian dimunculkan sebagai bantahan adalah soal kedalaman pertalian antarpersonal di arena sosial.

Hal-hal yang beraroma kultural dimuat dalam sangkalan tersebut. Hasil dari tindakan tidak dipandang sebagai satu-satunya tujuan tertinggi (substansi) dalam hal ini. Terbentuknya interaksi sosial juga termasuk hasil tindakan. Dan tidak mungkin interaksi sosial, apalagi yang sangat erat hingga membuat semua orang merasa anggota-anggota komunitas lain sebagai bagian penting dalam kehidupannya, bisa terwujud tanpa turun tangan langsung untuk mengatasi persoalan-persoalan di sekitar rumah. Keakraban yang erat itu menjadi tolok ukur pula.

Baik “hasil yang telah dicapai” maupun “kebersamaan langsung untuk mencapai hasil” sama-sama menjadi substansi. Sementara penggunaan uang dalam kasus di atas hanya memperoleh substansi yang tidak lengkap. Kehadiran tidak akan bisa digantikan dengan uang, sebuah alat yang dalam semua lingkup penggunaannya hanya berposisi sebagai medium. Namun ia tak perlu dinafikan. Sebab yang ideal adalah ketika tiga variabel berikut bertemu. Apa yang lengkap kemudian adalah ketika uang hadir, fisik hadir, dan pendapat hadir.

Adalah sesuatu yang arif manakala orang-orang kaya bukan hanya menghadirkan uangnya untuk perbaikan lingkungan. Ketika ia hadir, fisiknya bekerja langsung bersama orang-orang lain, ia pun ikut menghadirkan pengetahuan-pengetahuan di situ, yang secara pasti berfaedah bagi sesama. Dan ia pula dapat menyerap aneka pengetahuan yang belum dimilikinya. Maka kebersamaan sosial langsung bukan hanya membentuk keakraban, tetapi juga menjadi sekolah bagi semua.

Bisma Yadhi Putra, alumnus Program Studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id