Pria Mesir dan Sepotong Bolu Kukus | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pria Mesir dan Sepotong Bolu Kukus

Pria Mesir dan Sepotong Bolu Kukus
Foto Pria Mesir dan Sepotong Bolu Kukus

KISAH ini adalah lanjutan dari tulisan berjudul “Lomba Bersedekah di Tanah Haram” yang dimuat di halaman 1 harian ini edisi Kamis, 4 Mei 2017.

Kerinduan untuk bersedekah kembali menyergap sehari setelah saya memanfaatkan peluang bersedekah kepada fakir, miskin, dan ibnu sabil (musafir) yang mengantre di depan restoran di luar pagar Masjidil Haram. Setelah menunaikan Shalat Zuhur, saya pun kembali ke lokasi pertokoan di lantai bawah gedung Hilton itu. Tapi, karena riyal di dompet yang sudah menipis, membuat saya hanya bisa mengamati aktivitas di restoran yang menyediakan fasilitas bersedekah itu.

Untuk mengganjal perut yang kosong, saya membeli dua potong kue bolu kukus dan segelas plastik juice mangga seharga 5 riyal. Kemudian duduk di emperan pertokoan, sambil mengamati pegawai restoran yang bekerja keras mencari donatur di tengah ribuan orang yang berlalu lalang di jalan yang mengarah ke halaman Masjidil Haram.

Saya hanya mampu menghabiskan sepotong saja bolu kukus. Lalu sepotong lagi saya tawarkan kepada pria bersorban yang duduk di samping. Namun, dengan bahasa isyarat, pria berwajah mirip orang Sudan itu menolak sembari menyampaikan terima kasih.

Bolu kukus itu pun kemudian saya sodorkan kepada seorang pria berpakaian lusuh yang sedari tadi berjongkok di emperan toko, kira-kira berjarak dua meter di depan saya. Pria berwajah mirip orang Mesir itu, menerima dengan senang hati.

Tak dinyana, pada gigitan pertama pria yang kira-kira berusia 60-an tahun ini, memakan bolu kukus itu sekalian dengan kertas tipis yang menjadi alas kue. Ia baru sadar telah memakan kertas setelah pada gigitan kedua, kertas itu terkelupas. Namun, ia tak peduli, tetap memakan kertas yang sudah masuk ke mulutnya dan membuang sisa kertas lain.

Sejenak dia melihat ke arah saya. Matanya berkaca-kaca, sambil sesekali mengangkat tangan dan wajahnya ke atas, seperti mengungkapkan rasa syukur. Tak terasa, mata saya yang menghadap ke arah Masjidil Haram mulai basah. Saya pun merogoh kantong dan mengambil uang dua riyal sembari meminta pria itu membeli minuman.

Hanya dua menit, pria tua itu kembali dengan segelas plastik teh panas. Lagi-lagi dia mengangkat tangan dan wajahnya ke langit, seolah memberi tahu dia tidak mampu membalasnya. Air pun kembali memenuhi kelopak mata saya, sembari menatap dalam-dalam ke arah Masjidil Haram.

Pria itu kemudian mendekat ke arah saya, ia mengajak berbicara. Namun, sama-sama tidak bisa bahasa Arab, kami pun hanya berbicara bahasa isyarat. Wajahnya sangat senang saya saya merogoh hp dan mengabadikan foto kami bertiga dengan pria bersurban yang mirip orang Sudan.(zainal arifin m nur) (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id