Patuhnya Pedagang di Mekkah dan Madinah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Patuhnya Pedagang di Mekkah dan Madinah

Patuhnya Pedagang di Mekkah dan Madinah
Foto Patuhnya Pedagang di Mekkah dan Madinah

“KALIAN tamu Allah, kalau tidak saya beri makan kalian lapar. Tapi kalau begini, kami bisa ditangkap.” Pedagang di restoran India itu menyilangkan tangannya memeragakan orang yang diborgol. Wajahnya terlihat ketakutan.

Pengalaman ketakutan pekerja restoran ini saya rasakan saat kami makan siang pada sebuah rumah makan India, di Kota Madinah, Arab Saudi, Selasa (25/4) lalu. Saat itu azan baru saja berkumandang dari Masjid Nabawi yang berjarak sekitar 200 meter.

Tidak hanya pekerja, ketakutan juga terpancar dari wajah pemilik restoran itu. Pria berwajah Asia selatan (India atau Pakistan) ini berjalan mondar mandir di sisi meja tempat kami makan. Mulutnya berkomat-kamit sambil mengucapkan, “shalat-shalat.”

Teman saya, Zul Anshary yang merupakan alumni Al Azhar Mesir, mengajukan protes dalam bahasa Arab. “Kalau tahu sudah dekat waktu shalat, kenapa tadi dihidangkan makanan. Harusnya kan dikasih tahu, tidak melayani lagi karena sudah dekat waktu shalat.”

Kami pantas keberatan, karena satu porsi nasi yang dihidangkan di depan kami baru tersentuh sepertiganya. Sementara satu porsi nasi Biryani itu dihidangkan dalam nampan (talam) ukuran sedang, dengan beberapa potong ayam.

Jika di Aceh, porsi makanan itu baru sanggup dihabiskan oleh 3-4 orang. Sementara kami saat itu hanya berdua saja. Lalu disuruh makan di bawah tekanan pula. Kami harus cepat-cepat menghabiskan makanan, karena restoran sudah tutup seiring masuknya waktu shalat Zuhur.

Menanggapi protes kami, pemilik restoran kembali mengulang kalimat yang diucapkan pegawainya tadi. “Kalian tamu Allah yang meminta makan. Kalau tidak dilayani berarti kami membiarkan kalian kelaparan. Tapi kalau begini, kami bisa ditangkap polisi,” kata dia dengan wajah serius.

Setelah berdebat kecil, akhirnya kami pun cepat-cepat menuntaskan makan di bawah tekanan. Hasilnya, tentu saja kami tidak mampu mengosongkan isi nampan itu. Padahal harga seporsi makanan tersebut lumayan mahal, mencapai 40 riyal Saudi (sekira 140 ribu rupiah).

Pemilik restoran itu masih tetap saja merepet-repet saat kami menyodorkan uang untuk membayar makanan. Membuat saya ingin cepat-cepat keluar dari warung itu.

Eit, si pemilik restoran mencegah saat tangan saya ingin menyingkap tabir kain yang menutupi bagian depan restorannya. Sambil masih merepet-repet, dia memasukkan kepala ke celah-celah tabir kain itu. Celingak celinguk ke kiri kanan, merasa aman, dia langsung “mengusir” kami ke luar dari warungnya.

Kami pun segera melangkah cepat menuju Masjid Nabawi. Di Masjid Nabawi, juga di Masjidil Haram, rentang waktu antara azan dan iqamat bisa mencapai 15-20 menit, sehingga kami punya cukup waktu untuk tiba di kompleks masjid.

Teman saya Zul Anshary yang lama tinggal di Timur Tengah saat kuliah dulu menceritakan, ia sengaja mengajak saya makan menjelang waktu shalat, agar saya bisa merasakan langsung bagaimana ketatnya Kerajaan Saudi menerapkan aturan.

“Tidak seperti di Aceh, hanya saat shalat Magrib saja warung tutup. Itu pun pengunjungnya tetap bertahan di dalam dan memilih shalat di mushalla warung, tidak ikut shalat berjamaah di Masjid,” ungkap Zul Anshary.

Siang itu, selepas menunaikan shalat Zuhur, Zul Anshary mengajak saya berkeliling di pertokoan seputar Masjid Nabawi. Di teras beberapa toko, orang-orang baru saja melipat sajadahnya usai melaksanakan shalat.

Tiba-tiba Zul menunjukkan satu mobil patroli polisi yang berisi seorang tahanan. “Bisa jadi orang itu ditahan karena masih melayani pembeli saat waktu shalat. Atau mungkin saja karena dia pekerja ilegal yang tidak memiliki igamah (visa kerja),” kata pimpinan Pesantren/Dayah Baitul Arqam Sibreh ini.

Tiga hari berada di Madinah, saya mendapatkan cukup banyak pelajaran tentang bagaimana ketatnya Kerajaan Saudi menerapkan aturan. Selain tentunya ikut berziarah ke Makam Rasulullah, para Sahabat, memperbanyak ibadah sunat, serta turut pula berburu kesempatan berdoa di Raudhah (taman Surga) yang berada di dalam Masjid Nabawi.

Kepatuhan para pedagang saat masuk waktu shalat juga terlihat jelas ketika saya berada tujuh hari di Kota Suci Mekkah.(zainal arifin m nur) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id