Dari Syakban ke Ramadhan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dari Syakban ke Ramadhan

Dari Syakban ke Ramadhan
Foto Dari Syakban ke Ramadhan

Oleh Luthfi Sofyan Arongan

PERPUTARAN waktu seakan begitu cepat, sehingga tanpa terasa kita sudah memasuki pertengahan bulan Syakban. Bulan kedelapan dalam sistem kalender Islam ini termasuk satu bulan yang diagungkan dan mempunyai kelebihan atau keutamaan tersendiri. Rasulullah saw bersabda, “Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa.” (HR. Imam al-Dailami).

Agama Islam mempunyai nama bulan tersendiri dan sejarah serta asal usulnya. Tidak banyak diantara masyarakat kita yang mengetahui asal usul dan seluk beluk penamaan bulan Dinamakan dengan Syakban dikarenakan dalam bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan. Rasulullah saw bersabda: “Tahukah kalian mengapa dinamakan bulan Syakban? Karena dalam bulan Syakban bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan.”

Sementara itu dalam pendapat lain, Ibnu Manzhur mengutip perkataan Tsa’lab yang mengatakan bahwa sebagian ulama berpendapat bulan tersebut dinamakan dengan Syakban karena ia sya’ab, artinya zhahir (menonjol) di antara dua bulan, yaitu bulan Rajab dan Ramadhan. (Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim, Lisan al-‘Arab, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar Shadir) hal. 501).

Banyak yang lalai
Pada bulan Syakban tidak sedikit manusia yang lalai sehingga bulan yang mulia ini berlalu tanpa diambil kesempatan emas penuh berkah dan rahmat itu dengan mengisi bermacam ibadah dan kegiatan positif lainnya. Kekhawatiran semacam ini, berupa lalainya sebagian umat manusia telah disampaikan Nabi saw dalam sabdanya, “Dari Usamah bin Zaid, beliau bersabda, saya berkata: Ya Rasulullah, saya melihat engkau berpuasa dalam sebulan yang tidak saya lihat engkau berpuasa seperti demikian dalam bulan yang lain. Rasulullah berkata: Bulan mana? Saya berkata: Bulan Syakban. Rasul saw menjawab: Bulan Syakban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan di mana banyak manusia lalai darinya. Dalam bulan Syakban diangkat amalan manusia, maka aku cintai tidak diangkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa. Saya berkata: Saya melihat engkau berpusa hari Senin dan Kamis dan tidak engkau tinggalkan keduanya. Rasul saw menjawab: Sesungguhnya amalan hamba diangkat dalam kedua hari tersebut, maka aku cintai tidak diangkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Imam al-Baihaqi).

Dalam hadis ini Rasulullah saw menerangkan bahwa banyak manusia yang lengah di bulan Syakban karena sibuk dan merasa cukup dengan dua bulan mulia yang mengapit bulan Syakban, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Melakukan ibadat pada waktu orang lain lalai, memiliki kelebihan tersendiri sebagaimana di terangkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami. al-Haitami, Ahmad bin Hajar, (Kitab Ittihaf Ahl al-Islam Bi Khushushiyat al-Shiyam, cet. I (Beirut: al-Muassasah al-Kutub, 1990 M) hal. 360-361).

Bulan Syakban mempunyai banyak kelebihan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Sayyidah Aisyah ra, “Bahwa Rasulullah saw jika berpuasa, sampai kita mengatakan, bahwa beliau tidak pernah tidak puasa, dan jika beliau berbuka (tidak puasa), sampai kita mengatakan tidak pernah berpuasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Syakban”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelebihan bulan Syakban tidak banyak orang yang berlomba-lomba untuk meraihnya, umat Islam melupakan momentum Syakban ini untuk bertaqarrub kepada Allah Swt. Gambaran ini seperti yang diceritakan dalam kisah Usamah bin Zaid, pada suatu kesempatan bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah, saya tidak menjumpai Engkau berpuasa di bulan-bulan yang lain sebagaimana Engkau berpuasa di bulan Syakban. Rasulullah menjawab: Syakban adalah bulan yang dilupakan oleh orang-orang antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Syakban adalah bulan laporan amal kepada Allah. Maka saya senang amal saya dilaporkan sementara saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. Nasai No.2356, Ahmad No.21753).

Dalam kesempatan yang lain Sayyidatina Aisyah ra juga berkata: “Suatu malam Rasulullah saw shalat, kemudian beliau bersujud panjang sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah saw telah diambil. Karena curiga, maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah saw selesai shalat, beliau berkata: Hai Aisyah engkau tidak dapat bagian? Lalu aku menjawab: Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah saw telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama. Lalu beliau bertanya: Tahukah engkau, malam apa sekarang ini? Rasulullah yang lebih tahu, jawabku. Beliau pun berkata: Malam ini adalah malam Nisfu Syakban, Allah mengawasi hamba-Nya pada malam ini, maka Dia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki.” (HR. Baihaqi dari Ala’ bin Harits).

Syakban merupakan sebagai bulan Rasulullah saw, maka dalam bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak shalawat. Berbeda dengan bulan Rajab sebagai bulan Allah Swt dan di bulan Rajab tersebut, ditekankan untuk banyak ber-istighfar, sehingga adanya wirid Istighfar Rajab. Syakban sebagai bulan Baginda Nabi saw di sebutkan dalam sebuah hadis, beliau bersabda: “Syakban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Syakban ialah mengkifaratkan (menghapuskan) dosa dan Ramadhan ialah menyucikan dosa (jasmani dan rohani).”

Nishfu Syakban
Bulan Syakban tepatnya Nisfu Syakban sebagai malam istijabah (diterima) dan tidak ditolak permintaan hamba. Pernyataan ini juga disebutkan Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw bersabda, “Lima waktu tidak ditolak sesuatu doa itu yaitu pada malam Jumat, malam 10 Muharam, malam Nishfu Syakban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abdullah Umar).

Pernyataan yang sama juga di sebutkan oleh Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, “Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan doa dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jumat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya Fitri, awal malam bulan Rajab dan malam Nishfu Syakban.” (Kitab al-Umm, Muhammad bin Idris al-Syafi’i I: 254).

Kita dianjurkan untuk menghidupkan malam (qiyamul-lail). Bulan Syakban, terutama malam Nishfu Syakban (15 Syakban) dengan berbagai macam ibadah dan amalan saleh. Dalam hal ini Rasulullah saw telah bersabda, “Jika malam Nishfu Syakban tiba, maka shalatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada-Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini, adakah yang begini, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar?” (Riwayat Ibnu Majah).

Kita berharap esensi dari Syakban hendaknya dapat dijadikan sebagai momentum bulan pemantapan iman, persiapan mental dan spiritual menuju Ramadhan, serta terjalinnya integrasi umat Islam menjadi sangat relevan dan signifikan. Hal ini sesuai dengan esensi dan konteks historis bulan Syakban itu sendiri. Dalam sejarah disebutkan bahwa Allah Swt memerintahkan perubahan kiblat dari Baitul al-Muqaddis ke Kakbah Baitullah (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur‘an II: 144).

Syakban hendaknya kita jadikan untuk meningktkan nilai spiritualitas dan moralitas sebagai persiapan menuju Ramadhan nantinya. Kita harus mengiktiqatkan dalam hati, seolah-olah Syakban ini merupakan Syakban terakhir dalam hayat kita, sehingga akan menimbulkan sugesti dan inspirasi untuk kebaikan dan bertaubat. Dengan demikian, frekuensi untuk melaksanakan amar amar nahi munkar akan terdorong dengan sendirinya dan jikalaupun di beri umur panjang hingga Ramadhan nantinya juga anggapan demikian.

Akhirnya, dengan berbagai upaya dan amalan tersebut, sebuah mendali bertitelkan ‘itqum minannar pada Ramadhan nanti dapat kita raih. Oleh karenanya, selama bulan Syakban ini hendaknya kita terus meningkatkan amal ibadah dalam menggapai ridha Ilahi menuju kehidupan sa’adah daraiani (kebahagian dunia dan akahirat). Amin ya Rabbal ‘alamin.

* Tgk. H. Luthfi Sofyan Arongan (Ayah Panti), Pimpinan Dayah Harapan Ummat, Arongan, Bireuen. Alumnus Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga, dan Mahasiswa PPS IAIN Malikussaleh-Lhokseumawe. Email: [email protected] (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id