BREAKING NEWS: Masyarakat Serbu dan Panen Paksa Hasil Pertanian di Lahan Penas KTNA | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

BREAKING NEWS: Masyarakat Serbu dan Panen Paksa Hasil Pertanian di Lahan Penas KTNA

BREAKING NEWS: Masyarakat Serbu dan Panen Paksa Hasil Pertanian di Lahan Penas KTNA
Foto BREAKING NEWS: Masyarakat Serbu dan Panen Paksa Hasil Pertanian di Lahan Penas KTNA

URI.co.id, BANDA ACEH – Masyarakat yang belum diketahui dari mana asalnya menyerbu dan memanen paksa berbagai produk pertanian pada lahan Gelar Teknologi (Geltek) seluas 10 hektare di lokasi yang bersisian dengan Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh, tempat berlangsungnya Penas KTNA 2017.

Informasi tentang kejadian di luar dugaan tersebut disampaikan Kepala Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Ir Basri A Bakar MSi kepada URI.co.id, Rabu (10/5/2017) malam.

Menurut Basri, sehari menjelang penutupan Penas XV 2017, masyarakat pengunjung ramai-ramai menyerbu dan memanen paksa tanaman yang ada di lahan Geltek Penas KTNA.

Masyarakat, kata Basri tidak mengindahkan saat dilarang petugas bahkan ada yang melawan dengan mengatakan bahwa lahan tersebut milik pemerintah.

Tanaman yang dipetik antara lain melon, semangka, cabai, bunga kol, tomat, terong, kacang panjang dan sayuran. Bahkan buah jagung siap panen ikut dipetik.

Saksi mata mengatakan, ada pengunjung yang ngotot memetik dan sempat adu mulut dengan petugas. “Ini fenonena baru yang saya lihat, soalnya sebelumnya masyarakat masih punya rasa malu dan tidak akan memetik lebih dari satu. Tapi sekarang kita lihat ada yang sengaja bawa karung plastik memetik cabai,” ujar Basri mengutip keterangan saksi mata.

Basri ikut menyesali terhadap pengunjung yang juga terindikasi merusak tanaman yang sudah disiapkan lebih dari tiga bulan lalu.

Dia juga mengatakan, seharusnya masyarakat pengunjung tidak bertindak agresif dengan mengambil semuanya, karena Penas belum ditutup secara resmi.

“Kalau pengunjung berminat untuk mendapatkan bibit cabai, misalnya, pasti akan dikasih pada hari terakhir, bukan mengambil secara paksa apalagi mengarah kepada pengrusakan,” kata Basri A Bakar.

Seorang Staf Peneliti BPTP Aceh, Syarifah Raihanah mengaku kehabisan suara melarang pengunjung agar tidak memetik dan merusak tanaman, tapi tidak diindahkan.

Meskipun sejumlah 50 mahasiswa direkrut untuk mengawal Geltek, toh pengunjung tetap tak bisa dibendung melakukan aksi mereka.

Melihat gelagat tidak sehat tersebut, beberapa tanaman berharga lainnya di sekitar central point diamankan lebih cepat. (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id