Kopi Anggur Juara Lomba Inovasi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kopi Anggur Juara Lomba Inovasi

Kopi Anggur Juara Lomba Inovasi
Foto Kopi Anggur Juara Lomba Inovasi

* Di Penas XV Tahun 2017

BANDA ACEH – Produk kopi gayo yang diolah dalam bentuk kopi anggur terpilih sebagai juara I dalam kegiatan Temu Karya Penas XV tahun 2017 di Aula SMKN 2 Lhong Raya, Banda Aceh, Selasa (9/5). Kopi rasa anggur hasil inovasi ini unggul setelah menyisihkan 23 provinsi lainnya yang menyajikan produk dan alat inovatif dalam berbagai bidang.

Ketua Dewan Juri, Ir Sad Hutomo Pribadi MSi mengatakan, ada sejumlah alasan mengapa kopi hasil fermentasi tersebut memenangkan lomba inovasi tahun ini.

Pertama, kata Sad Hutomo, kopi merupakan produk spesifik khas Aceh. “Petani menyajikan inovasi terbaru dalam hal pengolahan produk,” katanya.

Dalam presentasinya, sang petani juga mengembangkan areal kebun kopi menjadi kawasan agrowisata di Bener Meriah. Produk tersebut juga dinilai prospektif untuk dipasarkan di dalam dan luar negeri.

Diakui Sad Hutomo, inovasi dari kabupaten lain juga tidak kalah hebat. Akan tetapi, panitia harus memilih juara pertama sebagai bagian dari kompetisi.

Dibuka oleh Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Kementerian Pertanian, Ir Gayatri K Rana MSc, dewan juri menghabiskan waktu dua hari untuk menilai langsung paparan 24 peserta.

Pada Senin dan Selasa kemarin, mereka diberikan waktu untuk mempresentasikan produk atau alat hasil inovasinya di depan dewan juri dan seluruh peserta Temu Karya. Masing-masing peserta mendapatkan waktu sekira 30 menit.

Kriteria yang dinilai, antara lain, alat/produk bersifat spesifikasi lokal, kebaruan, memiliki manfaat dan nilai tambah, hingga teknik penyajian saat presentasi.

Jika juara I jatuh ke tuan rumah, maka juara II diraih petani dari Riau yang sukses membuat alat sedot air tanpa mesin. Sesuai dengan sifat alaminya, air selama ini mudah dialirkan dari kawasan tinggi ke kawasan rendah.

Untuk mengalirkan air dari bawah ke atas hampir tidak mungkin, kecuali menggunakan pompa mesin. Namun ternyata, alat buatan Rebin—begitu nama petani dari Riau tersebut–seakan bisa menjungkirbalikkan logika. Dia bisa merancang alat yang mampu melawan hukum gravitasi. Air dari sumur pada kedalaman tiga meter bisa disedot ke luar dengan debit yang lumayan. “Tak perlu pakai listrik. Air bisa naik dengan sendirinya,” kata laki-laki berumur 70-an tahun tersebut saat mendemonstrasikan alat temuannya.

Alat dan bahan yang dibutuhkan pun tidak banyak. Hanya butuh dua drum, pipa pvc, kayu broti, dan bahan-bahan murah lainnya. Jika ditotalkan menghabiskan uang sekitar Rp 1.200.000. Hasilnya, bisa mengalirkan air sekira 50 liter per 10 menit. Sudah lebih dari cukup untuk menyiram tanaman di pekarangan rumah. Pembuatan dan perawatan alat ini juga murah dengan masa pakai yang jauh lebih lama dari mesijn poma modern. “Tentu skalanya bisa ditingkatkan lagi menjadi lebih besar lagi,” kata Rebin yang juga berhasil meraih juara I pada Temu Karya tahun 2014 silam di Malang.

Sedangkan juara III diraih DKI Jakarta yang mempresentasikan Teknologi Pengolahan Limbah Bawang Merah untuk mendukung pertanian perkotaan. Mereka mengolah limbah bawang merah menjadi pupuk padat yang dijual Rp 15.000 per pak dengan berat 3 kilogram. Inovasi mereka bukan hanya meminimalisir bau di lingkungan terdekat area pembuangan limbah, melainkan juga telah memberikan keuntungan jutaan rupiah per bulan.

Dalam sambutannya, Gayatri K Rana berharap berbagai temuan inovatif tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

‘Anggur Aceh Halal’
Tampil dengan pakaian adat Gayo, Sadikin alias Gembel dan Hasanah, mendemonstrasikan cara membuat kopi rasa anggur. Beberapa alat peraga mereka bawa, mulai kopi hasil fermentasi yang sudah bercita rasa anggur, gula merah, hingga gelas.

Sadikin menjelaskan proses pemetikan biji kopi yang selektif, penjemuran, hingga fermentasi yang memakan waktu dua bulan. Praktis, setelah melewati serangkaian perlakuan tersebut, harga produk kopi rasa anggur ini mencapai Rp 300.000-600.000 per kilogram dalam bentuk bubuk di pasaran lokal. Jika disajikan dalam bentuk minuman seperti yang dipraktikkan Gembel selama ini, maka dalam satu kilogram kopi menghasilkan keuntungan Rp 1.500.000-3.000.000. “Jenis wine coffea yang kami tawarkan bisa diminum langsung di kebun kopi bagi yang ingin menikmati cita rasa kopi yang kuat,” kata Sadikin.

Diakui Sadikin, ada sejumlah masyarakat di Bener Meriah yang sudah mulai tertarik mengolah biji kopi ini. Cita rasa berbeda-beda, tergantung pada kualitas kopi, proses fermentasi, dan paramater lainnya.

Dia berharap masyarakat sekitar mau menggunakan inovasi ini. “Jika ada kesabaran lebih, maka akan menghasilkan keuntungan yang besar,” timpal Hasanah yang menemani Sadikin saat presentasi.

Namun, ada saja yang menanyakan kehalalan produk ini, mengingat hasil akhir sudah melalui proses fermentasi. Fermentasi sendiri adalah proses yang memanfaatkan kemampuan mikroba untuk menghasilkan metabolit primer dan sekunder, misalnya, menghasilkan alkohol. Tape adalah salah satu produk hasil fermentasi yang dibantu bakteri Saccharomyces cerevisiae. Terkait kehalalan, Gembel menjelaskan, pihaknya sudah memastikan kopi anggur made in Aceh ini halal. “Ini anggur syariah, insya Allah halal, ya,” kata dia. (sak) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id