Servis Lebih, Kunci Sukses Pedagang Aceh di Chow Kit | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Servis Lebih, Kunci Sukses Pedagang Aceh di Chow Kit

Foto Servis Lebih, Kunci Sukses Pedagang Aceh di Chow Kit

DI sela-sela meliput kegiatan yang diadakan Tourism Malaysia, yaitu “Malaysia Mega Familiarisation Programme (Mega FAM) dan 1Malaysia Super Sale & Shooping Malaysia Grand Launch 2016” di Kuala Lumpur (KL), 28 Februari-3 Maret 2016, wartawan Serambi Indonesia, Mursal Ismail, berkesempatan menjumpai para pedagang Aceh di pusat perdagangan Jalan Chow Kit, Kuala Lumpur, Rabu (2/3) siang.

Bagaimana kehidupan para pedagang Aceh di negeri jiran itu? Apa saja trik yang membuat mereka menguasai sebagian besar kawasan yang dulunya didominasi oleh pedagang keturunan Cina dan India ini? Berikut liputannya:

CHOW Kit adalah sebuah kawasan di pusat kota Kuala Lumpur, Malaysia. Ia berada di sekitar Jalan Chow Kit dan ditutupi oleh jalan-jalan paralel, yaitu Jalan Pantai dan Jalan Tunku Abdul Rahman. Dikutip dari wikipedia, nama Chow Kit merujuk kepada nama seorang penambang timah dan kanselor kota, yaitu Loke Chow Kit.

Kini, Chow Kit menjadi salah satu kawasan di Kuala Lumpur yang paling banyak warga Indonesia, termasuk warga Aceh. Mereka umumnya berdagang kelontong atau di sana disebut jualan runcit. Ada yang berjualan jamu, telur ayam, ikan, mi aceh, buah-buahan. Rumah makan khas Aceh juga mudah ditemukan di kawasan ini.

Karena keterbatasan waktu, Serambi hanya sempat mengamati dan mewawancarai para pedagang runcit di satu titik di Chow Kit. Delapan kedai runcit di sepanjang lorong itu, semua pedagangnya berasal dari Aceh. Rata-rata satu kedai dijaga dua orang. Menurut pengakuan mereka, taukenya juga orang Aceh.

Jika tak mendengar mereka bicara sesama pedagang dalam bahasa Aceh, hampir tak diketahui bahwa mereka orang Aceh. Soalnya mereka sudah sangat pandai menyesuaikan diri dengan bahasa Melayu ketika berbicara dengan pembeli. Apalagi hampir di semua kedai juga ditempel bendera Malaysia berukuran besar.

Meski bukan berjualan milik sendiri, ada di antara mereka sudah bertahun-tahun hidup di sana, menghidupi anak-anak dan istri yang dibawa dari Aceh. Bahkan uangnya masih tersisa untuk ditabung.

Adapun tauke mereka, malah sudah kaya raya, baik di Aceh maupun di Malaysia. “Tauke di Aceh sudah memiliki dua alat berat beko, lima truk, dan lain-lain,” kata Abdullah (40), warga Blang Jruen, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara yang berjualan di salah satu kedai di lorong itu.

Karena kini kondisi ekonomi Malaysia sedang melemah, hasil penjualan menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi rata-rata penjualan per hari sekitar 5-10 ribu ringgit. Dengan kurs 1 RM sekitar Rp 3.000, maka jumlah penjualan mencapai Rp 15 juta sampai Rp 30 juta per hari. “Keuntungannya kira-kira 20 persen dari nilai laku. Kalau dulu, sehari bisa laku mencapai 18 ribu ringgit,” ujarnya.

Bagaimana kisahnya hingga pedagang asal Aceh mampu bersaing bahkan bisa dikatakan telah menguasai kawasan perdagangan itu? Sumber-sumber Serambi di Chow Kit menyebutkan, orang Aceh di Malaysia rajin dan pandai berdagang. Bahkan ada kedai runcit milik orang Aceh yang buka 24 jam.

Kedai runcit milik pedagang asal Aceh juga menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, tidak hanya sebatas kelontong, kedai runcit milik pedagang asal Aceh juga menyediakan ikan dan sayur-sayuran. Banyak kedai runcit milik pedagang asal Aceh sudah seperti minimarket.

Kunci lainnya kesuksesan pedagang Aceh di Malaysia, seperti di Chow Kit dan Puchong adalah mereka ramah, tak terlalu perhitungan, dan pandai mengambil hati pembeli dengan servis spesial. Misalnya, bagi yang berjualan ikan, mereka bersedia membersihkan ikan secara islami hingga ikan itu siap untuk dimasak.

“Kadang pelayanan spesial seperti ini yang tak didapatkan dari pedagang lain,” kata Razi, mahasiswa S2 di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia asal Aceh Utara.

Amatan Serambi, kelebihan lainnya pedagang Aceh di Chow Kit adalah kekompakan. Meski berjualan barang yang hampir sama di satu titik, namun mereka tetap saling membantu, bahkan seperti tak bersaing.

Misalnya, ketika datang pembeli ke toko A, namun kebetulan penjaganya tak ada karena sedang shalat, maka pedagang Aceh di toko sebelah tetap menjual barang di toko A, padahal di tokonya juga tersedia barang tersebut.

Hal ini seperti terlihat dilakukan Rahmad, seorang pedagang asal Beurenuen, Pidie yang tetap melayani pembeli di kedai yang dijaga Kamarullah, karena pemuda asal Caleu, Pidie ini kebetulan sedang shalat Zuhur di luar kedai. Begitulah kunci sukses pedagang Aceh di Malaysia, khususnya di Chow Kit. (*) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id