Jejak Islam di Tiongkok | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Jejak Islam di Tiongkok

Foto Jejak Islam di Tiongkok

OLEH RUSMIATI, alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Banda Aceh, ikut program Magister Psikologi di Central China Normal University, melaporkan dari Wuhan, Tiongkok

TAHUN ini saya memasuki semester kedua belajar di Tiongkok. Tepatnya di kampus Central China Normal University (CCNU), Wuhan, Provinsi Hubei. Liburan musim dingin ini, saya gunakan kesempatan untuk menelusuri tempat-tempat wisata islami di Tiongkok.

Kota yang saya kunjungi adalah Xian atau Shangxi, Baoding di Hebei, Beijing, dan terakhir Kota Tianjin. Untuk menelusuri wisata Islam, pilihan utama saya tentulah Kota Xi’an, karena di sini peradaban Islam pernah bekembang, tepatnya di Kota Drum Tower (Kota Muslim Xi’an).

Di kota ini terdapat lebih dari 20 masjid yang beraksitektur khas Cina klasik. Misalnya, The Great of Mosque. Masjid tertua ini didirikan tahun 742 SM, zaman Dinasti Tang (618-907), yakni pada tahun pertama pemerintahan Kaisar Tian Bo. Saat itu banyak pedagang dari Arab dan Persia mendatangi Cina melalui “jalur sutra”. Kemudian mereka menetap di beberapa kota seperti Guangzhou, Quanzhou, Hoangzho, Yangzhou, dan Chang’an atau Xi’an. Selain berdagang, mereka juga berdakwah, menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.

Great Mosque Xi’an ini merupakan salah satu jejak bersejarah, bukti aktivitas dakwah mereka. Tak mengherankan jika Cina menjadi tujuan pedagang muslim karena dalam khazanah Islam ada anjuran: Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina.

Masjid ini sangat unik, tak sama dengan masjid pada umumnya yang ada di Indonesia. Atapnya tampak seperti kelenteng dan berbentuk runcing. Masjid ini dibangun masyarakat asli Tiongkok yang memeluk Islam saat pedagang Arab Saudi dan Persia berdakwah di sini.

Di dalam kompleks masjid ini terdapat beberapa ruangan, seperti: ruang shalat, perpustakaan, ruang rapat, ruang pengajian (tempat pertemuan mudir dengan murid yang akan me-muraja’ah hafalan).

Di dinding bagian dalam masjid ini terdapat kaligrafi dan tulisan-tulisan Arab yang berbentuk khas Cina. Keindahan di dalam masjid ini membuat hati kita teduh. Di bagian luar area masjid ini banyak kuliner halal dan pernik-pernik barang khas muslim, seperti baju koko, peci, kaligrafi, piring, dan minyak wangi. Saya merasakan bahwa kehidupan umat Islam di sini sangatlah kental.

Setelah seharian penuh mengelilingi kampung muslim di Xi’an, saya pun menuju Beijing. Kota ini dipenuhi tempat/bangunan bersejarah, seperti Tembok Besar Cina (The Great Wall), The Temple of Heaven, Jingshan Park, Beihai Park, Stadion Nasional (Bird Nest), dan lain-lain.

Saya sempatkan mengunjungi Tembok Besar Cina yang masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia. Tembok ini panjangnya sekitar 21 km. Dibuat sebagai benteng pertahanan Cina dari serangan musuh. Kini tembok ini berubah fungsi jadi tempat wisata favorit di Beijing.

Malah ada moto di sini bahwa “You are not a true hero until you climb the Great Wall of China/Kamu takkan menjadi pemenang jika belum sampai ke puncak Great Wall-nya Cina.”

Kota Beijing juga tak luput dari pengaruh Islam. Bukti bahwa Islam berkembang di sini adalah adanya masjid di Jalan Lembu, Distrik Xuanwu. Masjid itu adalah Masjid Niujie. Sudah berumur ratusan tahun. Menjadi simbol perkembangan peradaban Islam di Beijing. Luasnya 7.000 meter persegi, dibangun dengan gaya khas Cina.

Masjid ini berbeda jauh dengan masjid yang ada di Indonesia. Kubahnya segi enam, atapnya genteng hijau. Ini merupakan pusat komunitas muslim Beijing yang jumlahnya mencapai 200.000 jiwa.

Arsitekturnya kombinasi antara Arab dengan Cina. Masjid Niujie ini masjid terbesar di antara 68 masjid di Beijing, sekaligus masjid tertua dan menjadi titik awal masuknya Islam ke daratan Cina.

Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Thonghe dari Dinasti Liao, tepatnya tahun 966 Masehi oleh dua orang asal Arab. Diperluas tahun 1696, masjid ini sudah tiga kali direnovasi. Renovasi pertama tahun 1955, renovasi kedua tahun 1979, dan ketiga tahun 1996.

Terdapat beberapa ruangan dalam kompleks masjid ini, seperti: ruang shalat, tempat wudhu, kantor pengurus masjid, dan ruang pengajian. Yang sangat saya kagumi, ruang shalatnya terpisah antara laki-laki dan perempuan, demikian juga dengan kantor dan ruang pengajiannya.

Di dalam museum masjid ini terdapat beberapa kitab kuno, lukisan khas Cina kuno, kaligrafi Cina, kaligrafi Arab, dan beberapa foto para ulama dari awal masuknya Islam hingga sekarang.

Masyarakat yang tinggal di sekitaran masjid ini sangat ramah dan sopan. Masjid ini dinamakan Masjid Niujie karena Niujie artinya jalan sapi. Ini karena, sejak dulu warga di wilayah ini menjual halal food, terutama yang berbahan baku daging lembu. Kawasan masjid ini dipenuhi restoran-restoran muslim. Harga makanan halal lumayan mahal di sini, tapi tak membuat kita kecewa karena kelezatannya.

Jika Anda berkunjung ke tempat ini sebaiknya hari Jumat, karena Jumat banyak traveller muslim maupun nonmuslim yang datang.

Menjelajahi berbagai mesjid di kota ini tidaklah cukup dalam satu-dua hari saja, karena memang banyak. Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa peradaban Islam di Tiongkok kian berkembang.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id