Breuh Sigupai Harum Sejak di Persemaian | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Breuh Sigupai Harum Sejak di Persemaian

Breuh Sigupai Harum Sejak di Persemaian
Foto Breuh Sigupai Harum Sejak di Persemaian

BAGI masyarakat Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Breuh Sigupai, sudah tidak asing lagi, bahkan sudah menjadi ikon Abdya alias Bumoe Sigupai. Selama berlangsungnya Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XV, di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, kita bisa melihat langsung Breuh Sigupai, sekaligus mencicipinya hangat-hangat.

Beras yang awalnya hidup di ekosistem lahan kering tersebut, menurut Penyuluh Pertanian Kabupaten Abdya, Krisnur SP, tetap enak disantap hangat-hangat hanya dengan sambal tokok (semacam ikan teri tumis Aceh) dan kerupuk, atau hanya dengan ikan asin. Dikatakan, Breuh Sigupai memang sudah harum sejak masih di persemaian benihnya, apa lagi ketika sudah bermalai.

“Tapi jangan salah. Harum tersebut bukan karena ada perlakuan dengan menambah harum-haruman pada benih. Ini memang murni harum dari bawaannya,” kata Amrizal SP yang juga Penyuluh Pertanian Abdya.

Dia memastikan Breuh Sigupai tidak ada setaranya. Baik dari segi rasa, dan aromanya. Bila tadinya masa panen Breuh Sigupai 6 bulan, kini disingkat 4 bulan saja. “Breuh Sigupai pernah dilaboratoriumkan di Balai Induk Benih Sukamandi Jawa Barat. Breuh Sigupai yang tadinya jenis padi ladang, kini sudah bisa diadaptasikan ke sawah, dengan usia 4 bulan.” jelas Amrizal.

Dalam pembudidayaannya hampir tidak ada kendala. Tapi resisten terhadap penyakit busuk pelepah, yang siap menurunkan jumlah produksi. Menurut Amrizal kondisi tersebut, bisa jadi karena ekosistemnya sudah diarahkan ke irigasi. Tapi tetaplah nilai enonomisnya lebih tinggi bila ditanam di sawah.

Di stan Abdya, Breuh Sigupai dijual dalam sak 2 kg dan 5 kg. Beras yang sudah dijadikan buah tangan Abdya ini dijual Rp 20 ribu/kg. Tim Abdya memboyong 300 kg di ajang Penas KNTA 2017 ini. Setengahnya hingga petang kemarin sudah terjual setengahnya.

Bareh Solok
Bareh Solok tanak di dandang/dipagatok ulam pario//
Bunyi kulek cando badendang dek ditingkah/ehem/si samba lado//

Bareh Solok bareh tanamo bareh Solok lamak rasonyo// Itulah sebagian lirik lagu Bareh Solok (karya anonem dari Sumatera Barat), yang dirilis sekitar pertengahan tahun 1970, dan sempat hit lewat vokal Ernie Johan, dan Elly Kasim, dalam versi masing-masing. Waktu itu tentang Bareh Solok, bukan hanya dikenal lagunya. Berasnya juga.

Tentang Bareh Solok jangan sangka sudah punah. Seperti penuturan perempuan petani yang ikut pameran Penas KTNA di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, (9/5), Dani, Bareh Solok masih ada dan masih tulen sebagaimana aslinya. “Ya aslilah buk. Maksud saya murni Bareh Solok, ya dari kota Solok. Ini beras yang dulu jugak. Pulen. Enak rasanya. Bisa untuk nasi guri, bubur, dan macam-macam,” menjawab Serambi, ikhwal Bareh Solok yang legendaris dari negeri Jam Gadang itu.

Menurut dia, memang sekarang Bareh Solok (terutama varietas Anak Daro) sudah ada perbedaan dengan moyangnya Bareh Solok. Artinya sekarang ada Bareh Solok varietas Anak Daro yang dibudidayakan dengan pupuk kimia. Satu lagi, Bareh Solok varietas Anak Daro organik. Ada perbedaan produk. Yang organik lebih enak, lebih kembang bila ditanak, dan otomatis lebih sehat. Persamaan keduanya adalah masa budidaya, hanya 3 bulan 10 hari. Ketika dimasak sama-sama membutuhkan air relatif tidak banyak dibandingkan dengan baras varietas lain yang hampir sana yaitu Var. Ceredek dan Pisokan. Satu liter Bareh Solok, tanak dengan 1,5 liter air, dalam kondisi tidak lembek tidak keras. Secara kasat mata, ciri utama Bareh Solok berbutir bulat pendek, tidak panjang beras Basmati dari India, misalnya. Dari tampilannya, Bareh Solok memang tak jauh beda dengan beras lain. “Kalau di Aceh bisa disetarakan dengan beras Tangse,” kata salah seorang pengunjung.

Koodinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Lubuk Sikarah, Solok, Sumatra Barat, Aslinda S.PKP, mengatakan sejauh ini Bareh Solok sudah beredar hingga ke Pakan Baru, Jambi, Jakarta. Hampir semua kedai nasi di Sumbar mengguanak Bareh Solok. Sekarang di Solok sudah dibudidayakan di area 5-25 hektar dengan penerapan Jarwo (Jajar legowo) dengan teknologi 4:1, 2:1, 3:1 (jarak tanam). Bareh Solok pun telah menjadi ikon kota Solok.

Pantauan Serambi kemarin, banyak juga warga yang singgah dan membeli Bareh Solok. Var. Anak Daro, kemasan 2 kg seharga Rp25 ribu/zak, sangat diminati. Yang netto 5 kg dijual Rp60 ribu/zak. Hanya saja ukuran 2 kg lebih nyaman ditenteng, dalam kertas kresek ukuran sedang, apalagi untuk berkelilingan di seputar arena pameran.

Senin (8/5), Bareh Solok terjual 60 kg. Namun hingga menjelang Ashar kemarin, hanya tersisa satu zak isi 2 kg saja. “Kami bawa banyak buk. Ada 200 kg,” sebut Dani, sembari sedikit berpromisi, bahwa produknya bisa dipesan juga, sekarang atau suatu kali nanti.(nani hs) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id