Menyoal Modernisasi Pertanian | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menyoal Modernisasi Pertanian

Menyoal Modernisasi Pertanian
Foto Menyoal Modernisasi Pertanian

Oleh Nery Revisa

Apabila kamu tidak mampu melakukan suatu perubahan, setidaknya kamu mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.

MODERNISASI pertanian telah menjadi isu yang ramai diperbincangkan dan tak terlepas dari pro kontra. Maka dari itu, kita akan melihat modernisasi pertanian dari perspektif yang berbeda yaitu etika. Etiskah modernisasi pertanian? Sebelumnya, kita terlebih dulu perlu mengenal konsep modernisasi sebelum kita menilai etis atau tidak. Modernisasi adalah konsep yang menggabungkan secara penuh transisi dan transformasi masyarakat tradisional agar menjadi modern (Hussain et al, 1981; Lenin, 1964: Matunhu, 2011). Menurut sistem modernitas, kebijakan untuk meningkatkan standar hidup orang miskin dapat dengan cara menyebarkan pengetahuan dan informasi tentang teknik produksi yang lebih efisien.

Modernisasi pertanian mendorong petani untuk mencoba bibit baru, metode produksi baru, dan keterampilan pemasaran yang baru (Ellis dan Biggs, 2001; Matunhu, 2011). Smith menyatakan bahwa modernisasi adalah tentang pertukaran praktik pertanian yang sudah lama dengan praktik yang lebih baru (Smith, 1973; Matunhu, 2011 ).

Pendorong modernisasi
Perkembangan teknologi merupakan satu pendorong modernisasi. Teknologi baru diciptakan untuk membantu manusia dalam menjalani setiap aktivitas, termasuk aktivitas di bidang pertanian. Hal ini akan mengibatkan perubahan, namun kita tidak bisa memungkiri bahwa perubahan selalu akan terjadi dari waktu ke waktu.

Tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri. Perubahan bukanlah ancaman namun dorongan untuk terus bergerak mengasah keterampilan sehingga dapat beradaptasi dengan perubahan. Modernisasi pertanian di Indonesia, khususnya Aceh adalah dengan menggunakan teknologi dalam bertani mulai dari tahap menanam, memelihara, hingga memanen.

Combine harvester merupakan satu alat teknologi berupa mesin pemanen dengan kombinasi tiga operasi yang berbeda, yaitu menuai, merontokkan, dan menampi, yang dijadikan dalam satu rangkaian operasi.

Secara umum fungsi operasional dasar combine harvester adalah sebagai berikut: (1) memotong tanaman yang masih berdiri, (2) menyalurkan tanaman yang terpotong ke selinder; (3) merontokkan gabah dari tangkai atau batang; (4) memisahkan gabah dari jerami; dan (5) membersihkan gabah dengan cara membuang gabah kosong dan benda asing.

Berdasarkan pada fungsi combine harvester tersebut, maka petani dapat mengurangi biaya dalam proses panen. Awalnya, sebelum menggunakan combine harvester petani membutuhkan banyak buruh tani untu melakukan pemotongan dan memakan waktu yang cukup lama. Apabila petani ingin cepat maka dapat mempekerjakan banyak buruh sehingga meningkatkan biaya, namun dengan menggunakan combine harvester petani dapat meminimilisir biaya secara ekonomis dan proses pemotongan dapat diselesaikan dengan efisien dan efektif.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Mekanisasi Alat Pertanian Dinas Pertanian Aceh, Ir Bambang mengatakan bahwa Dinas Pertanian Aceh telah membangun sejumlah gudang penyewaan dan perbaikan alat-alat mesin pertanian di sejumlah kabupaten/kota. Semua jenis mesin pertanian disewakan kepada petani untuk mendukung kelancaran kerja.

Jenis-jenis mesin pertanian yang disediakan di UPTD Alsintani yaitu: traktor besar 9 unit, traktor sedang (hand tractor) rotari 21 unit, hand tractor singkal 21 unit, mesin tanam padi (rice transplanter) 2 unit, mesin potong atau panen padi (combine harvester) 13 unit, power treser 52 unit, corn sheller 41 unit, dan pompa air 48 unit (aceh.URI.co.id, 29/11/2016).

Harus membuka diri
Walaupun UPTD telah menyediakan berbagai macam alat pertanian, namun beberapa petani belum dapat menerima penggunaan mesin dalam proses bertani. Suhardi (Ketua Kelompok Tani Bahagia Gampong Kuta Bahagia), misalnya, menyatakan bahwa para petani tidak terampil dalam menggunakan mesin perontok padi jenis pedal itu (aceh.URI.co.id, 29/4/2016). Hal ini menunjukkan bahwa petani belum siap dalam menghadapi modernisasi pertanian. Oleh karena itu, petani harus mampu membuka diri untuk meningkatkan keterampilan dalam mengoperasikan mesin, bukan dengan memilih tetap bertahan dengan cara lama.

Dilansir dari aceh.URI.co.id (16/3/2017), Muhammad Yasar juga menyampaikan bahwa ada beberapa desa di kawasan Aceh Besar secara ekstrem menolak menggunakan alat-alat teknologi pertanian. Masyarakat menolak hadirnya alat-alat teknologi pertanian, seperti mesin pemanen karena dapat menyebabkan buruh tani merasa kehilangan pekerjaannya. Padahal, kehadiran alat-alat teknologi pertanian bukan untuk mengancam hilangnya pekerjaan para buruh tani.

Selain itu, Yuswar Yunus menyatakan bahwa mekanisasi pertanian hanya merupakan sarana atau alat untuk mencapai tujuan. Implementasi alsintan tidak bisa lepas dengan tujuan swasembada pangan berkelanjutan, diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta mewujudkan kesejahteraan petani Aceh (aceh.URI.co.id, 16/3/2017).

Modernisasi pertanian bila ditanjau dari segi etika, merupakan sistem yang etis karena tujuannya tidak untuk merugikan suatu pihak manapun melainkan untuk memudahkan petani dalam setiap proses bertani sehingga dapat lebih ekonomis, efisien dan efektif. Berkurangnya penggunaan tenaga manusia karena telah dikerjakan oleh mesin bukan berarti menutup lapangan pekerjaan untuk buruh tani melainkan ini peluang bagi para buruh tani untuk meningkatkan keterampilannya agar dapt mengoperasikan mesin.

Bagi yang mau berubah dan meng-upgrade keterampilan, maka modernisasi ini merupakan suatu hal yang menguntungkan. Berdasarkan prinsip utilitas, petani dapat meminimalisir biaya dan memaksimalkan manfaat dengan menggunakan mesin karena dengan menggunakan mesin setiap proses dapat berjalan dengan cepat. Sehingga biaya yang dikeluarkan dapat diminimalisir, maka dari itu harapan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dapat terwujud.

Modernisasi pertanian juga membuka lapangan pekerjaan baru, yaitu di bidang operator mesin dan fasilitator dalam penyuluhan-penyuluhan penggunaan mesin. Sehingga tetap memberikan hak kepada masyarakat untuk dapat bekerja dengan mengambil peluang-peluang kerja baru tersebut.

* Nery Revisa, mahasiswi Magister Sains Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id