Nurlif tak Persoalkan Gugatan Machsalmina | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Nurlif tak Persoalkan Gugatan Machsalmina

Nurlif tak Persoalkan Gugatan Machsalmina
Foto Nurlif tak Persoalkan Gugatan Machsalmina

BANDA ACEH – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Aceh, TM Nurlif akhirnya memberikan keterangan terkait pemecatan Machsalmina Ali dari posisi sekretaris partai tersebut. Machsalmina yang tidak menerima diberhentikan secara sepihak itu menggugat Nurlif ke mahkamah partai. Tetapi Nurlif tidak mempersoalkan gugatan itu.

“Sikap gugatan itu memang ketentuan yang diberikan oleh partai kepada kader partai yang merasa perlu menyampaikan keberatan. Kita menghormati kalau ada keberatan dari kader, kita hormati. Tapi sekali lagi yang saya lakukan bukan semena-mena,” katanya kepada Serambi, Senin (8/5) yang ketika dihubungi sedang di Aceh Tenggara membuka Musda Golkar.

Ia mengatakan, pemecatan yang dilakukan tidak semena-mena, melainkan sudah meminta banyak pendapat dari pengurus dan pihak lain. Apalagi, dalam pleno ia diberikan mandat oleh pengurus DPD I untuk melakukan evaluasi terhadap kader partai jelang menghadapi agenda politik ke depan yaitu Pilkada 2018, pileg serta Pilpres 2019. Ia menegaskan dirinya tidak ada persoalan pribadi dalam masalah ini.

Sebelumnya diberitakan, politikus Golkar, Machsalmina Ali, tak terima diberhentikan secara sepihak dari jabatannya Sekretaris DPD I Partai Golkar Aceh. Dia siap melawan keputusan tersebut dengan menggugat Ketua DPD I, TM Nurlif ke mahkamah partai. Pak Mach, demikian dia biasa disapa, terlihat sangat emosi. Beberapa kali nada suaranya sempat meninggi. “Akan saya gugat ke mahkamah partai. Saya tidak terima,” pungkas mantan calon wakil gubernur Aceh ini saat ditanyai Serambi, Minggu (7/5).

Seperti diketahui, Machsalmina resmi diberhentikan dari sekretaris DPD I Partai Golkar Aceh terhitung 4 Mei 2017. Dalam surat pemberhentian yang ditandatangani Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, TM Nurlif dan Sekretaris Syukri Rahmat, disebutkan, pemberhentian dilakukan karena Machsalmina tidak dapat menunjukkan sikap kerja sama sehingga menimbulkan suasana yang tidak kondusif di kalangan internal kepengurusan DPD I dan DPD II Partai Golkar.

Menanggapi hal itu, Nurlif menjelaskan dirinya mengambil kebijakan di organisasi setelah melalui pertimbangan matang dengan tujuan agar pengurus partai menjadi produktif bukan kontraproduktif. “Partai ini tidak boleh tidak solid. Pertimbangan itu yang kemudian saya diberi mandat oleh pengurus DPD I Partai Golkar untuk melakukan evaluasi dan pada akhirnya melakukan rotasi termasuk pergantian antarwaktu. Tidak ada masalah pribadi,” tegasnya.

Ia menyatakan idealnya seorang sekretaris itu lebih sering di kantor ketimbang pengurus lainnya. Karena sekretaris merupakan motor organisasi. Semua manajemen organisasi lebih banyak ditangani oleh sekretaris, bukan tugas ketua. Tetapi selama ini keberadaan Machsalmina sebagai sekretaris dinilai tidak dapat menunjukkan sikap kerja sama dan jarang berada di kantor. Akhirnya, posisi Machsalmina diganti oleh Syukri Rahmat.

“Kalau misalnya seorang sekretaris jarang di kantor, surat-surat harus diantar ke rumah, kadang-kadang ada yang tidak ditandatangani, kemudian pergi ke luar daerah tanpa pemberitahuan, apalagi ketika kampanye pergi ke daerah tanpa koordinasi dengan DPD I, inikan harus menjadi pertimbangan sehingga organiasai tidak macet,” ulasnya.

“Mungkin karena kesibukan Pak Mach yang lain, sehingga bisa jadi Pak Mach jarang di tempat, apalagi pada saat menjelang pilkada dan dalam pilkada. Padahal kita sudah menyiapkan ruangan untuk Pak Mach sebagai cawagub untuk dapat berkantor setiap hari di DPD I Golkar, tapi jarang masuk dan hampir tidak pernah menggunakan ruang itu dan lebih memilih di tempat lain. Sehingga koordinasi pemenangan pilkada menjadi sulit,” tambahnya.

Soal penggunaan dana Rp 500 juta yang dipersoalkan kepadanya, Nurlif menjelaskan dana itu bisa dikatakan bukan dana partai. Dana itu, katanya, digunakan untuk menunjang kegiatan pengurus partai yang turun ke semua daerah. “Kita menugaskan korda yang bertugas di wilayah kabupaten/kota masing-masing, mereka bertugas melakukkan koordinasi baik dengan DPD II maupun dengan kandidat dalam rangka mengefektifkan kerja pemenangan pada pilkada lalu,” katanya.

Menurutnya, jumlah yang diberikan kepada korda-korda yang turun ke semua kabuapten/kota bervariasi, sesaui dengan jumlah pengurus yang turun, jarak tempuh, jumlah kabupaten/kota yang dikunjungi, biaya kegiatan yang dilakukan dan lamanya mereka di daerah. “Jadi bervariasai. Kemudian dari dana itu kita juga membantu kandidat paslon yang kita anggap perlu mendapatkan dukungan, kita juga beri bantuan dengan jumlah variasi,” ungkap dia.

Politisi partai berlambang pohon beringin itu juga menyanggah anggapan bahwa dirinya iri dengan dipilihnya Machsalmina Ali sebagai cawagub Aceh berdampingan dengan Tarmizi A Karim sebagai cagub Aceh pada pilkada 2017. Padahal, katanya, ketika ke luar putusan DPP Partai Golkar yang memilih Machsalmina menjadi cawagub, ia selaku ketua DPD I langsung meminta pengurus DPD I dan DPD II hingga oragnisasi yang berafiliasi dengan Golkar untuk memenangkan pasangan yang diusung Golkar bersama partai lain.

“Bahwa itu kemudian tidak berhasil, kita juga perlu mengambil hikmah dari itu. Jadi tidak iri, saya selaku kader partai harus taat pada azas partai,” pungkasnya seraya menyampaikan permohonan maaf karena dalam dua hari belakangan tidak bisa berkomunikasi dengan media. Ia mengatakan, dalam beberapa hari ini ia terus melakukan konsolidasi partai dan kader ke daerah untuk persiapan partai menghadapi Pilkada 2018, pileg serta Pilpres 2019.(mas) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id