Kejari Tahan 4 Tersangka Damkar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kejari Tahan 4 Tersangka Damkar

Kejari Tahan 4 Tersangka Damkar
Foto Kejari Tahan 4 Tersangka Damkar

* Diduga Menyimpang dari Spesifikasi

BANDA ACEH – Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh menahan empat tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan kendaraan pemadam kebakaran (damkar) modern seharga Rp 17,5 miliar milik Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh.

Jaksa juga menahan keempatnya dengan rincian, dua orang dititip di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Banda Aceh dan dua orang lagi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Perempuan dan Anak Lhoknga, Aceh Besar, Senin (8/5).

Penetapan para tersangka ini cukup ditunggu-tunggu publik. Pasalnya, jaksa telah menangani kasus ini sejak 5 Januari 2015. Bahkan jaksa sudah menyita mobil damkar sumbangan Pemerintah Aceh ini pada Senin, 7 Maret 2016. Mobil damkar itu kini terparkir di Kantor Damkar, Jalan Soekarno-Hatta, Lamteumen Banda Aceh. Akibatnya, mobil itu tak bisa digunakan ketika terjadi kebakaran di Banda Aceh gara-gara menjadi barang bukti kasus rasuah.

Kepala Kejakasaan Negeri (Kajari) Banda Aceh, Husni Thamrin SH didampingi Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus), Muhammad Zulfan SH mengatakan, keempat tersangka yang ditahan kemarin adalah Siti Maryami selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen (KPA/PPK) pada Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh (DPKA), Syahrial selaku Ketua Pokja Unit Layanan Pengadaan (ULP) Provinsi Aceh, Ratziati Yusri, Komisaris Utama PT Dazhen Karya Perdana, dan Dheni Okta Pribadi, Direktur PT Dazhen Karya Perdana. Dua nama terakhir merupakan ibu dan anak.

Dari empat yang ditahan tersebut, dua orang di antaranya sudah dilakukan pelimpahan tahap dua atau tahap penuntutan, yaitu terhadap Siti Maryami dan Syahrial. Sedangkan untuk dua tersangka lainnya masih dalam tahap penyidikan. “Tersangka yang dalam tahap penyidikan dan belum selesai masih ada dua lagi, yaitu perkara atas nama Dheni Okta Pribadi selaku Direktur PT PT Dazhen dan atas nama Ratziati Yusri selaku Komisaris Utama PT Dazhen,” kata Husni.

Ia jelaskan, keempat tersangka diduga melakukan rasuah dengan cara markup harga pembelian mobil damkar modern. Berdasarkan hasil perhitungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh, nilai korupsi yang terjadi dalam kasus itu Rp 4,7 miliar dari pagu Rp 17,5 miliar. “Lebih detailnya dapat diikuti dalam persidangan nanti,” katanya sebelum keempat tersangka dibawa ke “hotel prodeo”.

Menurut Husni, tidak tertutup kemungkinan akan ada tersangka lain dalam kasus ini. “Semua sangat tergantung pada penyidikan lebih lanjut nantinya. Bisa saja ada tersangka-tersangka lainnya,” kata Husni. Meskipun sebelumnya ada sepuluh nama calon tersangka yang masuk dalam listing jaksa, tapi hingga kemarin baru empat tersangka yang ditetapkan dan ditahan. “Dalam penyidikan ada yang bisa digolongkan kepada tersangka, ada yang tidak, makanya kita buat calon tersangka saat itu,” tambahnya.

Keempat tersangka ini dibidik dengan Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Husni juga menjelaskan alasan lamanya proses penyidikan karena ada beberapa item yang perlu didalami. Pihaknya bahkan meminta bantu saksi ahli teknis dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ahli pengadaan barang dari LPP, dan auditor dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Aceh.

“Pendalamanan ini butuh waktu lama. Kami mohon maaf, ini bukan unsur segaja karena memang demikian alur ceritanya. Dan ini sudah termasuk cepat dari awal 2015 kita proses dan alhamdulillah sekarang sudah tampak titik terangnya. (Dalam penanganan) kasus ini kita juga minta supervisi ke KPK agar jangan ada unsur main-main dalam menangani kasus ini,” ungkapnya.

Sekadar informasi, pengadaan itu berawal dari permintaan Wali Kota Banda Aceh yang kala itu dijabat Mawardi Nurdin (almarhum) ke Gubernur Aceh untuk mengadakan satu unit mobil damkar dengan spesifikasi yang diajukan, yakni Fire Ladder Cella ALP 295 merek Ladder Cella standar Italia dengan pagu Rp 17,5 miliar. Permohonan itu disetujui Gubernur Aceh.

Proses pelelangannya diumumkan melalui LPSE pada 21 Maret 2014 dan dimenangkan oleh PT Dhezan Karya Perdana dengan nilai kontrak Rp 16,8 miliar.

Sementara chasis damkar Volvo dan tangganya everdigm dirakit oleh karoseri PT Asnita selaku rekanan Feridome (Korea Selatan) di Indonesia. “Terhadap pelaksanaan pengadaan tersebut diduga telah menyimpang dari spesifikasi, karena tak sesuai dengan ketentuan,” kata Husni.

Dalam spesifikasi pengadaanya, chasis damkar tangga standar Eropa ini adalah built up (satu paket standar Eropa) dengan spesifikasi penggerak (6×4), wheel base (4500 mm), cabin (single cabin), mesin (6cyl), turbo sharge, dan displacement min 12.419 cm.

Selain itu, tenaga maksimal (480 HP pada minimal 1.700-1.900 rpm), torsi maksimal (2.300 nm at 1.000-14.000 rpm), GVW (33.000 kg), sistem rem dilengkapi fitur ABS dan ASR), transmisi semiotomatis, standar emisi (euro 3), steering (power steering), dan baterai 24 volt. (mas) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id