‘Tarek Pukat’, Menjaring Ikan Menjalin Kebersamaan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Tarek Pukat’, Menjaring Ikan Menjalin Kebersamaan

‘Tarek Pukat’, Menjaring Ikan Menjalin Kebersamaan
Foto ‘Tarek Pukat’, Menjaring Ikan Menjalin Kebersamaan

HAWA laut menelusup di Gampong Jawa, Kuta Raja, Banda Aceh, Senin (8/5) pagi. Perahu berwara-wiri dan sebagiannya terlihat tertambat di tepi muara. Namun, ada pemandangan berbeda pagi itu, serombongan penari membetot perhatian pengunjung lewat atraksi tari tarek pukat yang mereka tarikan.

Dalam iringan rapa-i dan seurune kalee, para penari dalam balutan busana adat itu terlihat lincah memainkan jala. Ya, tarian tarek pukat merupakan sebuah seni yang terinspirasi dari budaya masyarakat pesisir Aceh.

Hari itu di hadapan para tamu dari seluruh provinsi dan sedikitnya sepuluh negara, tarian yang merupakan refleksi dari budaya gotong royong itu tampil memesona banyak mata.

Aceh yang didapuk menjadi tuan rumah perhelatan akbar Pekan Nasional (Penas) Petani-Nelayan XV pun menyuguhkan budaya masyarakat pesisir. Sebuah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi dan lestari hingga kini.

“Tarek pukat merupakan budaya yang menunjukkan semangat kebersamaan. Hal seperti ini harus tetap dijaga,” terang Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah, kepada awak media.

Pria yang akrab disapa Abu Doto itu turut serta bersama para nelayan menarik pukat. Orang nomor satu di Aceh itu tampil dalam balutan kaos, celana panjang, lengkap dengan sepatu boot. Sementara para nelayan yang terbagi dalam dua kelompok terlihat kompak dalam balutan seragam biru hitam, lengkap dengan sepatu boot dan topi lebar khas nelayan.

Dalam bahasa Aceh, tarek pukat berarti menarik pukat ikan, di mana kegiatan ini berlangsung di daerah pesisir dan menjadi kegiatan rutin para nelayan. Mula-mula digambarkan nelayan berlayar di laut sekira 1 mil, kemudian melemparkan pukat, sementara di bibir pantai para nelayan lainnya bersiap mengikatkan tali pukat ke pinggang.

Tali-temali yang sudah terpasang di pinggang itu pun akan memudahkan saat menarik pukat, apalagi kalau tarek pukat dilakukan beramai-ramai. Ritual ini sangat kental dengan kebudayaan Aceh. Tak heran, itu karena provinsi di ujung barat Indonesia ini diapit oleh pantai. Riak riang di wajah para nelayan membayang di bawah mentari yang bersinar garang. Langit dan laut biru berlatar gugusan bukit di kejauhan membuat mata tak jenuh memandang. Ombak bermandikan cahaya matahari yang berkejar-kejaran di bibir pantai menjadi nyanyian merdu Pasie Gampong Jawa.

Para tetamu dan masyarakat setempat lebur dalam kebersamaan warisan leluhur itu. Kebersamaan yang terbungkus indah dan hingga kini terawat baik. Menjaring ikan, menjalin kebersamaan. Meski hasilnya tak sampai satu keranjang, tapi lazim dibagi-bagikan secara cuma- cuma kepada siapa saja yang turut membantu menarik pukat. Wajah- wajah sumringah pun tetap membayang sebagai wujud syukur akan kekayaan bahari yang telah memberi kehidupan bagi manusia.

Ya, begitulah dari hari ke hari, di hampir semua pinggir pantai di Aceh, tradisi tarik pukat masih bertahan. Pukat dilemparkan ke laut yang ada ikannya, sedangkan di bibir pantai para nelayan lainnya bersiap mengikatkan tali pukat ke pinggang dan menariknya dalam posisi berjalan mundur.

Hal yang terus dilakukan berulang-ulang ini menyebabkan kebanyakan penarik pukat berpinggang ramping atau kecil. Lalu, tradisi tarik pukat ini pun melahirkan sebuah pemeo: Tarek pukat, ubiet keuieng, rayuek… (tarik pukat, kecil pinggang, besar…) Nah, bagi yang pernah dengar pemeo ini silakan lengkapi. Yang belum tahu, bertanyalah kepada yang sudah tahu. Jak hai rakan, ta tarek pukat. (nurul hayati) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id