Anak Nelayan Demo PN | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Anak Nelayan Demo PN

  • Reporter:
  • Selasa, Mei 9, 2017
Anak Nelayan Demo PN
Foto Anak Nelayan Demo PN

* Minta Ayahnya Dibebaskan

MEULABOH – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, Senin (8/5) menggelar sidang perdana perkara dugaan pelanggaran UU Perikanan dengan terdakwa enam nelayan Aceh Barat. Sementara itu itu di luar ruang sidang ratusan nelayan tradisional di Aceh Barat melancarkan unjuk rasa. Aksi ini juga turut diramaikan anak dan istri dari enam terdakwa.

Sidang kemarin diketuai Said Hasan SH dengan hakim anggota M Tahir SH dan M Al-Qudri SH dengan JPU dari Kejari, Ronald Reagan Siagian SH dan Dedek Sumarta Suir SH. Terdakwa didampingi penasehat hukum dari LBH Pos Meulaboh, Herman SH dan Wahyu Pratama SH. Enam terdakwa yang duduk di kursi pesakitan adalah Erfin, M Mizal, M Din, Yulian Saputra, Aliman, Baktiar.

JPU dalam kesempatan itu membacakan enam berkas dakwaan, antara lain menyatakan terdakwa melanggar Pasal 85 UU Nomor 45 Tahun 2009 perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Pasal 55 ayat (1) angka 1 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda Rp 2 miliar. Setelah membacakan dakwaan, hakim mempertanyakan kembali kepada para terdakwa.

Melalui penasehat hukumnya terdakwa akan menyampaikan nota eksepsi (pembelaan) secara tertulis. Sidang kembali dilanjutkan pada Selasa (9/5) hari ini dengan agenda pembacaaan eksepsi terdakwa.

Sementara itu di luar ruangan sidang massa menggelar unjuk rasa. Aksi yangdimulai pukul 10.00 WIB tersebut mendapat pegawalan ketat dari aparat kepolisian Polres Aceh Barat. Para nelayan di Aceh Barat kemarin juga memilih tidak melaut sebagai bentuk solidaritas memperjuangkan nasib enam rekan mereka yang ditangkap Polair Polda Aceh pada 23 Maret 2017, dan disidang di PN Meulaboh.

Selain diikuti peserta dari nelayan, aksi demo juga turut diramaikan aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMuR) Aceh Barat. Massa secara bergantian menyampaikan orasi menggunakan pengeras suara yang mendesak hakim membebaskan enam terdakwa. Desakan itu juga disuarakan anak dan istri para terdakwa. “Suami kami mencari nafkah untuk kami, kini siapa membiayai hidup kami,” ujar seorang istri nelayan dengan cucuran air mata.

Aksi demo terpantau sempat memanas diwarnai saling dorong pagar antara aparat dengan massa serta isak tangis anak nelayan, istri dan keluarga terdakwa. Massa meluapkan rasa kecewanya kepada pihak penegak hukum yang memaksakan kasus ini tetap diteruskan ke pengadilan. “Kami meminta hakim membebaskan enam terdakwa,” ujar Koordinator Aksi, Indra Jeumpa.

Sebab, dalam surat edaran Menteri Kelautan dan Perikanan menjelaskan bahwa tidak dibenarkan kasus tersebut diproses hukum, tetapi lebih pada langkah untuk mengalihkan kepada alat tangkap yang ramah lingkungan dengan masa waktu 6 bulan dimulai 3 Januari-3 Juli 2017. “Namun sangat disayangkan penegak hukum tidak paham dengan aturan hukum sehingga memaksakan kehendak mereka,” ujar peserta aksi.

Unjuk rasa ratusan nelayan Aceh Barat kemarin selain mengeruduk PN Meulaboh juga berlanjut ke Kantor Kejari Aceh Barat, yang terletak berdekatan. Massa juga kecewa kepada pihak jaksa yang tetap melanjutkan kasus ini ke pengadilan dan mengabaikan surat edaran menteri. Massa menyatakan akan tetap bertahan dan bermalam di depan PN Meulaboh dan Kejari Aceh Barat untuk menyampaikan tuntutannya.

“Kami akan bermalam di sini. Kami akan dirikan tenda dan meminta enam rekan kami dilepas,” kata Indra Jeumpa. Hingga pukul 15.00 WIB sore kemarin, massa masih memadati depan PN dan Kejari Aceh Barat. Seperti diberitakan sebelumnya Polair Polda Aceh menahan enam nelayan Aceh Barat pada 28 Maret 2017.

Keenam nelayan tersebut sebelumnya ditangkap Polair Polres Aceh Barat di perairan Meulaboh dalam kasus penggunaan alat tangkap yang diduga melanggar UU Perikanan. Selanjutnya pada 25 April 2017 kasus tersebut dilimpahkan Polair Polda Aceh ke Kejari Aceh Barat beserta tersangka tetap ditahan di Lembaga Permasyarakatan (LP) Meulaboh.(riz) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id