“Hujan Batu” di Negeri Orang, Tapi Tetap Menarik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

“Hujan Batu” di Negeri Orang, Tapi Tetap Menarik

“Hujan Batu” di Negeri Orang, Tapi Tetap Menarik
Foto “Hujan Batu” di Negeri Orang, Tapi Tetap Menarik

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur telah mengirim utusan dan surat permohonan kepada Mendagri Malaysia guna meminta pembebasan para WNI yang ditahan sejak pekan lalu. Dari 68 WNI yang ditahan di Port Klang itu, 64 orang di antaranya merupakan warga Aceh yang berencana pulang ke kampung halaman guna menyambut bulan suci Ramadhan 1438 Hijriah. .

Selain melobi elite Malaysia, pihak KBRI juga berjanji menyiapkan surat perjalanan laksana paspor (SPLP) kepada mereka jika telah dibebaskan penguasa Malaysia nantinya. “Jika sudah ada SPLP, mereka bisa kembali secara nyaman ke Indonesia,” kata Presiden Persatuan Komunitas Aceh di Malaysia, Datuk Mansyur Usman.

Sedangkan Pemerintah Aceh yang diharapkan lebih proaktif mengurus pembebasan para tahanan itu, hingga kemarin baru sekadar berkomunikasi dengan pejabat-pejabat KBRI di Kuala Lumpur. Belum ada pengiriman pejabat berwenang ke sana bagi percepatan pembebasan warga Aceh yang sebagian di antaranya adalah wanita dan beberapa balita.

Kasus penahanan, deportasi, bahkan kecelakaan warga Aceh saat dalam proses “cari makan” dengan status pendatang haram, sebetulnya sudah sangat sering terjadi. Paling kurang setahun sekali pasti ada kejadian. Dan, yang memprihatinkan, setiap kali ada masalah senacam itu, pejabat-pejabat berwenang di Aceh seperti tak tahu bertindak, sehingga dianggap kurang peduli.

Karena itulah, terkait dengan penahanan 64 warga Aceh di Port Klang itu, Irwandi Yusuf (gubernur terpilih Aceh pada Pilkada 2017) yang dikenal dekat dengan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Sri Najib Tun Razak, mengatakan, “Tidak, saya tidak akan hubungi Najib soal ini, karena bukan wewenang saya. Masih ada pejabat resmi. Tapi, jika pejabat resmi tidak mengupayakan pembebasan mereka, maka saya akan berusaha mencari cara agar warga Aceh yang ditahan itu dapat dibebaskan.”

Ya, penyelesaian kasus perkasus, Pemerintah Aceh mestinya memberdayakan semua potensi yang ada. Jadi, tidak semata-mata menggunakan jalur formal. Sebab, antara Aceh dan Malaysia ini bukan hanya dekat secara geografis, tapi juga historis dan budaya.

Setiap kasus kecelakaan yang menewaskan banyak pendatang haram di Malaysia, opengusioran paksa para WNI yang masuk secara illegal ke negara itu, harusnya selalu mengingatkan pemerintah kita tentang penyediaan lapangan kerja yang cukup bagi warganya. Dulu, katanya “hujan emas” di negeri orang memang pantas menjadi daya tarik. Tapi, kini terkadang “hujan batupun” di Malaysia, masih saja banyak warga Aceh yang ke sana. Ada apa?

Jawabannya, karena di sana masih ada harapan, walau terkadang harus berhadapan dengan pengalaman-pengalaman menyakitkan. Sedangkan di sini, di negerinya sendiri, mungkin para pencari kerja itu seperti kehilangan harapan. Maka, ke depan, dalam konteks ini tugas utama Pemerintah Aceh adalah membuka lapangan kerja secara konkret agar tak banyak lagi warga Aceh yang masuk secara haram ke Malaysia.

Jika terpaksa harus bertarung nasib ke negeri orang, maka fasilitasil;ah mereka agar bisa bekerja di luar negeri secara sah. Nah?! (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id