Machsalmina Melawan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Machsalmina Melawan

Machsalmina Melawan
Foto Machsalmina Melawan

* Gugat Nurlif ke Mahkamah Partai

BANDA ACEH – Politikus Golkar, Machsalmina Ali, tak terima diberhentikan secara sepihak dari jabatannya sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Aceh. Dia siap melawan keputusan tersebut dengan menggugat Ketua DPD I, TM Nurlif ke mahkamah partai.

Pak Mach, demikian dia biasa disapa, terlihat sangat emosi. Beberapa kali nada suaranya sempat meninggi. “Akan saya gugat ke mahkamah partai. Saya tidak terima,” pungkas mantan calon wakil gubernur Aceh ini saat ditanyai Serambi, Minggu (7/5).

Seperti diketahui, Machsalmina resmi diberhentikan dari sekretaris DPD I Partai Golkar Aceh terhitung 4 Mei 2017. Dalam surat pemberhentian yang ditandatangani Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, TM Nurlif dan Sekretaris Syukri Rahmat, disebutkan, pemberhentian dilakukan karena Machsalmina tidak dapat menunjukkan sikap kerja sama sehingga menimbulkan suasana yang tidak kondusif di kalangan internal kepengurusan DPD I dan DPD II Partai Golkar.

Atas dasar tersebut, pada rapat pleno 27 Desember 2016, DPD I Partai Golkar Aceh mengusulkan Pergantian Antarwaktu (PAW) kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Persetujuan DPP keluar pada 27 April 2017 dan diterima oleh DPD I pada 4 Mei 2017.

Menurut Machsalmina, proses pemberhentian dirinya itu sangat aneh dan tidak prosedural. Apalagi rapat pleno pengusulan PAW dilaksanakan pada 27 Desember 2016. “Tanggal 27 Desember 2016, itu saat saya lagi sibuk-sibuk pilkada. Partai juga sedang sibuk. Jadi kapan rapatnya? Saya sebagai seketaris partai kenapa tidak tahu dan tidak diundang? Ini kan aneh, melanggar AD/ART,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan alasan pemecatan yang menyebut dirinya tidak bisa bekerja sama. Pak Mach mengaku selalu siap bekerja sama dan selalu bekerja untuk partai, sejauh sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku.

“Seperti persoalan di Golkar Langsa. Itu proses pemilihan ketuanya melanggar aturan. Nurlif meminta saya menandatangani surat pemberhentian plt yang lama, tetapi saya tolak karena yang diangkat sebagai ketua bukan kader Golkar, tetapi Wakil Ketua Partai Gerindra Langsa dan harus dipilih secara aklamasi. Saya tidak mau teken karena itu melanggar aturan. Apa ini yang dia maksud saya tidak bisa bekerja sama?” beber mantan bupati Aceh Selatan ini.

Selama ini, Machsalmina mengaku tidak pernah satu kali pun mendapat teguran dari partai. Seharusnya, apabila memang ada kader berbuat salah, maka terlebih dahulu diberikan surat peringatan (SP) dan jika tetap tidak berubah, baru kemudian diberhentikan. “Ini SP 1, SP 2, dan SP 3 tidak ada. Kok saya tiba-tiba diberhentikan. Alasannya saya tidak bisa bekerja sama, bekerja sama yang bagaimana?” ujarnya.

Jadi, sambung dia lagi, yang tidak bisa bekerja sama itu sebenarnya adalah Nurlif. “Kalau ada masalah, selalu dilakukan sendiri, bahkan saya tidak dilibatkan, hanya disuruh teken saja. Ini yang membuat saya sering menolak, sehingga tanda tangan saya sering di-scan” ungkap Pak Mach lagi.

Ia juga menyebut cara kerja TM Nurlif sangat otoriter, mematikan kader, dan membahayakan masa depan partai. Cara-cara itulah yang dilakukan dalam proses penentuan calon bupati/wali kota kemarin. “Manajemen itulah yang dipakai Ketua DPD I Golkar Aceh. Sekarang kita lihat, di daerah yang menjadi lumbung Golkar seperti di Singkil, Nagan Raya, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah, calon yang diusung Golkar justru kalah. Kalau seperti ini cara kerjanya, bisa hancur Golkar,” tandas Machsalmina.

Karena itu, dia menduga dirinya sengaja didepak dari sekretaris partai lantaran Nurlif iri tak bisa jadi calon gubernur, apalagi rapat pleno pengusulan PAW itu dilaksanakan hanya beberapa bulan sejak ia ditetapkan sebagai calon wakil gubernur Aceh mendampingi Tarmizi Karim. “Dulu kan dia (Nurlif) yang berambisi maju. Tetapi gagal karena DPP menunjuk saya untuk maju mendampingi Pak Tarmizi. Mungkin saya dipecat karena dia iri tak jadi cagub,” tukas Machsalmina.

Ditanya apakah ia akan menerima tawaran jabatan sebagai Dewan Pertimbangan Partai Golkar Aceh? Machsalmina dengan tegas menolak. “Saya tak perlu jabatan,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Yusuf Ishak yang dicopot dari jabatan ketua harian partai. Dia katakan, Nurlif selalu bekerja sendiri tanpa melibatkan pengurus yang lain, termasuk dalam penggunaan anggaran. Anggaran dimaksud meliputi Rp 500 juta uang bantuan dari tim Tarmizi Karim, Rp 3 miliar dari Setya Novanto, dana dari anggota DPRA Rp 70 juta setahun, dan iuran bulan Rp 3 juta.

“Dana-dana itu tidak pernah dibicarakan dan dipertanggungjawabkan. Jadi dia bekerja sendiri, merangkap semuanya, dia ketua, dia sekretaris, dia bendahara,” ujar Yusuf Ishak. Ia pun juga akan menggugat Nurlif ke mahkamah partai.

Hingga berita ini diturunkan pukul 22.00 WIB malam tadi, Serambi belum berhasil memperoleh konfirmasi dari Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, TM Nurlif. Nomor hp-nya yang dihubungi beberapa kali tidak diangkat. Nurlif juga tidak membalas sms yang dikirim Serambi untuk meminta konfirmasi terkait berbagai tudingan yang tertuju kepadanya.(yos) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id