Promosikan Aceh Damai, Aman, dan Nyaman | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Promosikan Aceh Damai, Aman, dan Nyaman

Promosikan Aceh Damai, Aman, dan Nyaman
Foto Promosikan Aceh Damai, Aman, dan Nyaman

GUBERNUR Aceh dr Zaini Abdullah berharap peserta Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan (Penas KTNA) XV tahun 2017 menjadi duta promosi Aceh saat kembali ke daerah masing-masing. Harapan itu disampaikan di hadapan peserta Penas KTNA dari seluruh Indonesia saat memberi sambutan pada acara pembukaan di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Sabtu (6/5).

“Khusus kepada kaum tani dan nelayan peserta penas petani-nelayan, selamat berbagi pengetahuan, pengalaman, serta menikmati kedamaian dan keramahan rakyat Aceh. Kami percaya setelah kembali dari Aceh, saudara-saudara dapat menjadi duta promosi Aceh bahwa Aceh saat ini sungguh damai, aman, nyaman, dan warganya sangat ramah,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta Penas sekitar 35 ribu orang.

Pernyataan itu disampaikan karena selama ini Aceh sebagai daerah bekas konflik kerap diisukan sebagai daerah yang kurang aman. Namun, hal itu terbantah tatkala tamu yang datang ke Aceh merasa nyaman berpergian kemana pun. “Selamat menikmati berbagai sajian kuliner Aceh, khusunya kopi gayo dari gampong kedua Bapak Presiden,” ungkapnya.

Gampong kedua Presiden Jokowi yang dimaksud Doto Zaini adalah Bener Meriah.  Jauh sebelum menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan Presiden Republik Indonesia ke 7, Jokowi pernah tinggal di Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah yang saat itu masih bergabung dengan Kabupaten Aceh Tengah. Saat itu, Jokowi masih bekerja di PT Kertas Kraft Aceh (KKA) yang berkantor di Kabupaten Aceh Utara. Ia menetap di Aceh Tengah terhitung sejak 1986 hingga 1989.

Gubernur juga menyampaikan terimakasih kepada Presiden Jokowi yang sudah hadir ke Aceh untuk membuka kegiatan akbar yang dihadiri peserta dari 34 provinsi. “Sebagai tuan rumah, sungguh sebuah kehormatan bagi kami untuk menyambut bapak ibu sekalian,” ungkapnya.

Menurut Zaini, untuk menjadi tuan rumah Penas KTNA merupakan impian rakyat Aceh sejak lama, mengingat hampir sebagian besar rakyat Aceh kaum tani dan nelayan. Karena itu, tidak heran jika sektor pertanian dan kelautan merupakan sektor terbesar serapan tenaga kerja. “Alhamdulillah, berkat dukungan Bapak Presiden dan seluruh pihak terkait, dalam lima tahun terakhir ini usaha tani dan nelayan Aceh terus menunjukkan peningkatan,” ujarnya.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, ulas Zaini, nilai tukar petani (NTP) Aceh terus mengalami kenaikan. Sampai April 2017 ini sudah mencapai 95,05. Produksi padi Aceh menurut data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh di tahun 2016 mencapai 2,3 juta ton gabah kering. Sedangkan untuk komoditi jagung mecapai 316 ribu ton. Kenaikan juga dialami produksi tanaman keras, seperti kelapa sawit, kopi, dan karet.

Produksi di bidang perikanan terutama ikan tangkap dan ikan budidaya juga terus meningkat. Keadaan ini membuat Pemerintah Aceh semakin bersemangat mengembangkan pertanian dan perikanan agar Aceh menjadi lumbung pangan nasional. “Jika dulu Aceh memberi kontribusi bagi pembangunan nasional melalui sektor minyak dan gas, maka ke depan sektor ini menjadi andalan Aceh dalam meningkatkan perekonomian Aceh dan nasional,” pungkasnya.

Sementara Ketua KTNA, Winarno Tohir dalam sambutannya di antaranya menyampaikan, KTNA merupakan mitra kerja pemerintah dalam menyukseskan program pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dan kedaulatan pangan dalam menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045.

Pihaknya bersama Menteri Pertanian juga sudah menyepakati 10 kesepakatan melalui rembug utama KTNA, salah satunya, Kemerinterian Pertanian tidak memberikan rekomendasi impor impor beras, cabe, bawang merah, jangung, dan selanjutnya impor dikurangi secara bertahap untuk kedelai, daging, gula, dan lainnya.(mas/una/dan)   (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id