Mesir, Negeri Para Anbia | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mesir, Negeri Para Anbia

  • Reporter:
  • Minggu, Mei 7, 2017
Mesir, Negeri Para Anbia
Foto Mesir, Negeri Para Anbia

OLEH ZIKRILLAH SYAHRUL, putra asal Lhoksukon, Aceh Utara, penerima Beasiswa LPSDM Aceh 2015, sedang menempuh Magister di Jamiah Dual Arabi, melaporkan dari Kairo, Mesir

TAK terasa waktu berjalan sangat cepat. Sudah setahun lebih saya berada di Negeri Kinanah ini, Negeri Para Anbia. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kisah mengapa Mesir dijuluki demikian.

Kalau kita lihat dalam sejarah 25 nabi dan rasul, hanya ada Nabi Idris, Yusuf, Musa, dan Harun yang lahir di Mesir dan ditugaskan berdakwah di Bumi Kinanah ini. Namun, sebagaimana kita ketahui saat ini adalah bulan Rajab, bulan Nabi Muhammad melaksanakan Israk dan Mikraj. Di langit pertama Rasullullah berjumpa dengan Nabi Adam, di langit kedua berjumpa Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yusuf.

Di langit keempat, Nabi Muhammad berjumpa Nabi Idris. Di langit kelima berjumpa Nabi Harun, di langit keenam berjumpa dengan Nabi Musa dan di langit ketujuh berjumpa Nabi Ibrahim. Semua nabi ini pernah berdakwah atau singgah di Mesir, Negeri Seribu Menara.

Berbicara tentang Mesir berarti membahas sejarah panjang ribuan abad silam. Keberadaannya telah dikuasai silih berganti oleh penguasa dunia. Mesir bahkan telah memiliki peradaban jauh sebelum Islam lahir di Haramain. Setelah menjadi negeri muslimin, Mesir mencatat banyak peristiwa yang membuatnya tak mungkin luput dari sejarah Islam.

Jika ditarik awal mula negeri Mesir, maka era Fir’aun-lah yang mungkin tercatat menjadi era prasejarah. Alquran banyak mengisahkan para nabi Allah yang berjuang menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Fir’aun. Sebut saja Nabi Musa dan Harun. Keduanya lahir di Mesir dan menjadi utusan Allah untuk mendakwahkan tauhid di Negeri Nil ini.

Namun, sebelum era Nabiyullah Musa dan saudaranya Harun, banyak nabi yang pernah tinggal atau pun sekadar singgah di Mesir. Sebut saja kisah perjalanan Nabi Yusuf. Beliau dijual sebagai budak saat remaja hingga kemudian tinggal di sebuah keluarga saudagar di Mesir.

Di sanalah beliau mendapat cobaan dan diutus sebagai seorang nabi dan rasul. Di akhir kisah, Nabi Yusuf bahkan menduduki jabatan dalam pemerintahan Mesir. Tak hanya itu, sang ayah yang juga utusan Allah, Nabi Ya’qub, kemudian tinggal bersama putranya tercinta di Mesir. Jauh sebelum era Nabi Yusuf dan Ya’qub, nabi kedua, yaitu Idris juga dikisahkan tinggal di Bumi Kinanah itu.

Selain Nabi Yusuf, Harun, Musa, dan Idris, Nabi Ibrahim pun pernah berkunjung ke Mesir. Beliau melawat bersama sang istri, Siti Sarah. Namun, saat itu Nabiyullah Ibrahim tak menetap di Mesir, melainkan hanya singgah saja. Akan tetapi, Siti Sarah, ibunda Nabi Ishaq, pernah tinggal di Mesir selama beberapa hari.

Kemudian, pasca-Nabi Musa membawa Bani Israil ke tanah Palestina, Mesir tak lagi banyak dikunjungi para rasul, melainkan utusan beberapa nabi saja yang tak termasuk dalam 25 nabi dan rasul. Seperti Nabi Khidir, Nabi Daniel, dan Nabi Samuel yang diangkat menjadi nabi di Mesir, tapi bukan sebagai rasul. Hingga setelah lama tak terjamah kehadiran utusan Allah, Mesir kedatangan tamu besar, yakni Nabi Isa.

Sebenarnya tanah Palestinalah yang banyak melahirkan para nabi dan rasul. Akan tetapi, banyaknya kisah menarik dan sepak terjang nabi di Negeri Piramida dan Seribu Menara itu membuat Mesir mendapat julukan “Negeri Para Nabi”. Bahkan dikabarkan di kawasan Semenanjung Sinai, Mesirlah, lokasi makam seorang nabi dan rasul Allah, yaitu Nabi Saleh.

Sebagaimana kita ketahui Semenanjung atau Gunung Sinai di Mesir menjadi salah satu tempat bersejarah bagi kaum muslim. Tempat ini dipercaya sebagai tempat Nabi Musa as menerima wahyu berupa 10 perintah Allah yang juga dikenal dengan sebutan The Ten Commandement. Sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa itu kemudian termaktub dalam Kitab Taurat yang kala itu diperuntukkan bagi umat-umat terdahulu, jauh sebelum diwahyukannya Alquran kepada Nabi Muhammad saw.

Kini, Gunung Sinai menjadi salah satu tujuan wisata penting di Mesir, selain Piramid, Sphinx, dan tempat-tempat lain yang menjadi saksi sejarah Yahudi, Nasrani, dan Islam. Gunung Sinai dapat ditempuh dari wilayah Ismailia yang terletak di sisi utara Terusan Suez dengan menggunakan transportasi darat, seperti bus pariwisata. Perjalanannya dapat ditempuh kurang lebih 8 sampai 10 jam.

Di kaki Gunung Sinai tak ada permukiman penduduk. Yang ada hanya satu bangunan kuno, yakni Biara St Catherina. Konon, biara ini dibangun tahun 530 Masehi oleh Kaisar Romawi, Yustianus I. Meski telah ada sejak berabad-abad silam, tapi bangunan ini tetap berdiri kokoh hingga kini. Sekarang biara ini berfungsi sebagai tempat penginapan para turis yang berziarah ke Gunung Sinai.

Tinggi Gunung Sinai kurang lebih 2.500 meter di atas permukaan laut. Dua puncaknya yang tinggi menjulang masing-masing disebut Rasus Safsafah dan Jabal Musa. Jalur yang harus ditempuh untuk mendaki Gunung Sinai lumayan sulit. Para wisatawan akan menemui jalan yang curam, kecil, penuh bebatuan dengan posisi nyaris tegak lurus.

Islam memasuki Mesir di era Khalifah Umar bin Khattab. Shahabat Rasulullah, Amr bin Ash-lah yang diutus untuk memperkenalkan Islam ke negeri yang dikuasai penguasa tangguh dunia kala itu, Byzantium.

Begitulah sekilas sejarah, sehingga Mesir sangat layak mendapatkan julukan legenda “Negeri Para Anbia”.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id