Semarak Penas KTNA XV | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Semarak Penas KTNA XV

Semarak Penas KTNA XV
Foto Semarak Penas KTNA XV

Oleh Azhar

SEMARAK, itulah kesan awal saat kita mengunjungi lokasi acara. Berbagai agenda digelar sepanjang pelaksanaan Pekan Nasional Petani dan Nelayan (Penas KTNA) XV di Banda Aceh, yang dihadiri oleh sekitar 35 ribu peserta dari seluruh penjuru Nusantara, termasuk delegasi ASEAN. Perhelatan akbar petani dan nelayan yang berlangsung pada 6-11 Mei 2017, di antaranya kegiatan sarasehan, pameran dan ekspo produk-produk pertanian, temu tani, serta berbagai ajang yang bertujuan memperlihatkan kepada kita kemajuan sektor pertanian dan perikanan serta kehutanan.

Kehadiran peserta, tentunya, tidak hanya terbatas untuk mengikuti Penas semata-mata. Ibarat sambil menyelam minum air, begitu barangkali di benak setiap peserta yang akan hadir. Lazimnya, setiap orang berkunjung ke suatu tempat baru, tentu akan mencari destinasi yang perlu dikunjungi seperti keindahan alam, adat budaya, dan berbagai jenis kuliner lokal menjadi bidikan tamu yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras yang ada.

Memperkenalkan Aceh
Berbagai persepsi mungkin terbetik di benak tamu, terutama mereka yang belum pernah berkunjung, misalnya; Aceh identik dengan daerah bekas konflik, penghasil ganja, pemberlakuan syariat Islam dan terakhir daerah yang pernah diterjang dasyatnya gempa dan gelombang tsunami. Persoalannya, apabila yang dipersepsikan itu positif tentu tidak bermasalah bagi kita. Lantas bagaimana jika yang dipersepsikan adalah negatif, padahal ia tidak benar?

Oleh karena itu, momen pelaksanaan Penas ini sebagai ajang bagi masyarakat Aceh untuk menunjukkan dan membuktikan kepada tamu bahwa Aceh merupakan daerah yang ramah kepada tamu. Bagi mereka yang pernah berkunjung dalam kapasitas sebagai pekerja sosial semasa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami 2004, tentu kunjungan kali ini merupakan kunjungan nostalgia. Sementara, bagi tamu yang belum pernah datang, tentu mereka memiliki berbagai harapan dan pengalaman yang akan dibawa pulang, baik dalam konteks pelaksanaan Penas maupun pengalaman lain yang berkaitan dengan destinasi wisata.

Dalam konteks pariwisata Aceh hari ini, destinasi yang dapat “dijual” dalam perspektif waktu adalah destinasi yang sudah ada sebelum tsunami dan destinasi yang muncul setelah tsunami 2004. Jenis produk pertama dijelaskan di atas bersifat konkret (tangible). Selain itu, produk yang berpotensi yang dimiliki oleh masyarakat Aceh dan layak untuk “dijual” adalah keramahtamahan. Produk ini bersifat abstrak (intangible), namun dapat dirasakan, dinikmati dan akan menjadi kenangan indah yang dibawa pulang oleh para tamu.

Banyak destinasi wisata yang dapat”dijual” kepada tamu terutama yang terletak di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Destinasi seperti tapak bekas tsunami seperti PLTD Apung, Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Kapal atas rumah, Masjid Raya Baiturrahman, Musium tsunami dan berbagai gerai makanan dan minuman tradisional berbasis lokal merupakan destinasi “wajib” dikunjungi tamu. Selain itu, menurut hemat penulis ada dua lokasi yang dapat direkomendasikan yaitu desa wisata Lubok Sukon dan desa wisata Nusa. Kedua lokasi berada di Aceh Besar.

Bagi tamu yang ingin menyaksikan kehidupan masyarakat Aceh yang masih kental dengan nuansa Islami dan kekerabatan serta makanan tradisional seperti sie reuboh, kuah beulangong dan berbagai penganan lokal lainnya mereka dapat menyaksikannya di desa wisata Lubok Sukon. Sementara, destinasi di desa Nusa, peserta Penas dapat memperoleh informasi, bahkan testimoni bagaimana masyarakat desa yang selamat dari ganasnya bencana gempa dan gelombang tsunami 2004 silam, bisa bangkit dan bahkan menjadi “pioner” dalam membangun industri pariwisata. Sebagai ilustrasi, di desa yang berpaut hanya beberapa kilometer dari laut, peserta dapat melihat bagaimana warga mendaur-ulang produk-produk bekas pakai menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Kesiapan masyarakat
Idealnya sebuah perhelatan besar, tentu memerlukan persiapan matang. Persiapan tersebut meliputi akomodasi, transportasi dan konsumsi. Terkait dengan akomodasi, menurut panitia, para peserta ditempatkan di rumah-rumah penduduk di seputaran lokasi acara. Secara terminologi ilmu pariwisata, tamu yang menginap di rumah-rumah penduduk dikenal dengan istilah homestay (Azhar, 2011). Tentu, model penempatan peserta di rumah-rumah penduduk merupakan satu peluang untuk memastikan apakah masyarakat Aceh masih memiliki nilai-nilai keramahtamahan memuliakan tamu adat budaya kita.

Menyangkut dengan transportasi peserta, meskipun panitia menyediakan fasilitas transportasi tapi terbatas pada hari-hari pelaksanaan. Tentu, peserta di sela-sela acara mempunyai agenda mengunjungi berbagai destinasi dan tentu memerlukan sarana transportasi. Oleh karena itu, masyarakat penyedia jasa akomodasi yang memiliki fasilitas kenderaan roda empat berpeluang meraup tambahan pendapatan dari jasa sewa mobil. Hal tersebut tergolong sebagai konsep pariwisata berbasis masyarakat di mana partisipasi adalah sebuah keniscayaandalam pembangungan pariwisata.

Selain akomodasi dan transportasi, kebutuhan konsumsi juga hal yang memberi kesempatan kepada warga untuk mendapatkan pendapatan. Para peserta memerlukan makanan dan minuman selama mereka berada di destinasi. Oleh karena itu, restoran dan rumah-rumah makan dapat ambil bagian di sini. Tentu saja dengan tetap menjaga agar harga-harga makanan dan minuman tidak sampai di-mark-up sesuka hati.

Sebagai penutup, perhelatan akbar temu petani dan nelayan seluruh penjuru Nusantara ditambah delegasi dari ASEAN merupakan satu peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh warga Banda Aceh. Perhelatan tersebut sekurang-kurangnya sebagai wadah untuk mempromosikan berbagai sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam; sektor pertanian, perikanan dan perkebunan, serta industri pariwisata.

Oleh karena itu, warga masyarakat harus berperan dan mengambil bagian dalam berbagai aktivitas seperti di bidang transportasi, akomodasi dan konsumsi selama pelaksanaan Penas berlangsung. Terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah keramah-tamahan yang ditunjukan oleh warga Banda Aceh selaku tuan rumah, sebagai representasi seluruh penduduk provinsi Aceh, dapat dirasakan dan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan oleh peserta Penas KTNA XV 2017 ini. Semoga!

Dr. Ir. Azhar, M.Sc., Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Doktor Manajemen Pariwisata UUM Malaysia. Email: [email protected] (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id