Kuasa Hukum Kasatpol PP Pijay Klarifikasi Kajari | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kuasa Hukum Kasatpol PP Pijay Klarifikasi Kajari

Kuasa Hukum Kasatpol PP Pijay Klarifikasi Kajari
Foto Kuasa Hukum Kasatpol PP Pijay Klarifikasi Kajari

* Bukan Tipuan, tapi Utang

SIGLI – Muhammad Isa Yahya selaku kuasa hukum Kasatpol PP dan WH Pidie Jaya, Asiah binti Hasan MM, mengatakan keberatan jika kliennya dituduh terlibat dalam serangkaian penipuan, seperti tertulis pada subjudul di Harian Serambi Indonesia kemarin.

Sebab, menurutnya, kasus yang terjadi antara tersangka Asiah dengan saksi pelapor adalah kasus utang-piutang, bukan penipuan.

“Perlu kami jelaskan kasus tersebut benar, tapi hanya utang-piutang. Kami perlu klarifikasi bahwa apa yang telah diberitakan itu tidak benar,” kata M Isa kepada Serambi di Sigli, Kamis (4/5).

Menurtnya, saksi pelapor dengan inisial ALR telah melakukan perjanjian damai dengan tersangka pada 11 April 2017. Dari utang Rp 150 juta telah dibayar sebagian tersangka kepada ALR. Juga surat damai telah diserahkannya ke Polres Pidie.

Kemudian, lanjutnya M Isa, pada 22 April 2017, kliennya telah melakukan perdamaian dengan RDW. Sebagian pinjaman dari RDW telah dibayar, tapi masih ada sisanya. Surat damai pun sudah diserahkan kuasa hukum tersangka kepada Polres Pidie.

Saksi pelapor ketiga berinisial TF, kata M Isa Yahya, juga telah dilakukan perdamaian serta sudah pernah dibayar utang, tapi belum lunas. Pihak tersangka telah menyerahkan jaminan berupa setifikat tanah kepada saksi pelapor. Begitu juga segala dokumen perjanjian perdamaian telah diserahkan kepada Polres Pidie.

“Jadi, kalau perkara ini dianggap utang-piutang, maka kasus ini masuk dalam ranah perdata,” ungkapnya.

Menurut M Isa, jika Kajari Pidie menyatakan bahwa tersangka menjanjikan proyek kepada ketiga saksi pelapor dan Kajari menyatakan telah ditipu tersangka yang seluruhnya kontraktor.

Ia yakin, Kajari tidak membaca seluruh dokumen dari penyidik kepolsiain. Bahwa, salah satu di antaranya merupakan sebagai pegawai (penegak hukum).

Kata M Isa, yang menjadi persoalan dalam perkara ini adalah mereka melakukan tindak pidana penyuapan terhadap pejabat pemerintah.

“Karena itu, Bapak Kajari jangan hanya membaca Pasal 378 KUHP. Seharusnya, baca juga Pasal 209 KUHP juncto Pasal 5 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 209 (1) diancam pidana penjara paling lama dua tahun dan delapan bulan atau denda paling banyak Rp 300,” jelasnya.

M Isa menyebutkan, pada Pasal 209 ke-1 berbunyi barang siapa memberi atau menjanjikan sesuatu benda kepada seorang pejabat dengan maksud diserahkan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, maka bertentangan dengan kewajiban.

Sedangkan Pasal 5 UU Nomor 31 Tahun 1999 menyatakan setiap orang yang melakukan tindak pidana seperti tertuang pada Pasal 209 KUHP, maka dipenjara paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun. Adapun dendanya minimal Rp 50 juta, maksimal Rp 250 juta.

“Apakah tidak ada pasal penyuapan dalam undang-undang. Jadi, menurut kami, perkara ini sama dengan perkara kalah perjudian. Apakah boleh Pak Kajari kontraktor atau pencari pekerjaan menyuap pejabat pemerintah untuk mendapatkan proyek? Seharusnya mendapatkan proyek itu dengan cara ikut lelang atau tender, bukan menyuap pejabat pemerintah. Jadi, penerima suap dan pemberi suap sama-sama melakukan kesalahan di depan hukum,” tegasnya.

Ia sarankan, penegak hukum dalam memberi keterangan seharusnya sempurna dan komprehensif sebagaimana keadaan yang sebenarnya, sehingga publik dalam membaca berita tersebut mengerti dan memahami apa yang sesungguhnya, bukan direkayasa.

“Kami sebagai kuasa hukum tersangka dan menyatakan tersangka salah, para saksi pelapor juga salah, karena telah menyuap tersangka sebagai pejabat pemerintah. Apakah penyidik Polres Pidie berani menetapkan saksi pelapor sebagai tersangka?” tegasnya.

“Kami sebagai kuasa hukum tersangka memohon kepada penegak hukum untuk menyampaikan pernyataan yang benar dan transparan, sehingga jangan salah persepsi masyarakat yang membacanya,” demikian M Isa. (naz) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id