UIN Ar-Raniry Juara Umum Pionir | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

UIN Ar-Raniry Juara Umum Pionir

UIN Ar-Raniry Juara Umum Pionir
Foto UIN Ar-Raniry Juara Umum Pionir

BANDA ACEH – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh ditetapkan sebagai juara umum pada Pekan Ilmiah Olahraga, Seni, dan Riset (Pionir) VIII Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia.

Keputusan itu dibacakan pada acara penutupan Minggu (30/4) malam di lapangan sepak bola UIN Ar-Raniry. “Menetapkan kontingen UIN Ar-Raniry sebagai juara umum dan berhak memperoleh piala bergilir Kementerian Agama Republik Indonesia,” kata Ketua Panitia Pionir VIII, Prof Dr Syamsul Rijal MA saat membacakan keputusan pemenang Pionir VIII.

UIN Ar-Raniry berhasil meraih enam emas, tiga perak, dan sembilan perunggu. Posisi kedua diraih IAIN Tulungagung dengan enam emas, tiga perak, dan tiga perunggu. Sementara posisi ketiga diraih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dua emas, enam perak, dan dua perunggu.

Syamsul Rijal juga membacakan para pemenang di kategori etnokarnival, baliho, dan stan terbaik yang meramaikan even nasional tersebut. Kategori etnokarnival terbaik satu diraih oleh UIN Malang, terbaik kedua di raih IAIN Palu, Sulawesi Tengah, dan terbaik ketiga IAIN Pekalongan.

Kategori pameran, stan pameran terbaik pertama diraih Stan Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Ar-Raniry, terbaik kedua diraih Stan UIN Raden Fatah Palembang, dan tebaik ketiga Stan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Ar-Raniry.

Sementara itu, stan kreatif dan favorit disabet oleh Stan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar-Raniry. Kategori pemasangan baliho terbaik I diraih UIN Sultan Syarif Kasim, Riau, kedua dipegang Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, terbaik ketiga IAIN Jambi, keempat dipegang IAIN Kendari, dan kelima digondol Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh.

Acara penutupan Pionir VIII PTKI se-Indonesia dilakukan secara resmi oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Farid Wajdi Ibrahim MA mewakili Menteri Agama. Dalam sambutannya, Farid Wajdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan Pionir VIII.

Secara khusus, Farid Wajdi juga mengapresiasi keberhasilan kontingen UIN Ar-Raniry sebagai juara umum meski hanya dengan persiapan dua bulan saja.

Menurutnya, jika persiapan sampai tiga bulan, tidak menutup kemungkinan akan memborong setengah dari emas yang tersedia. “Kalau empat bulan kita latihan, satu pun kontingen lain tidak dapat medali, semua akan pulang dengan tangan kosong dan dengan hati sedih,” kata Farid disambut tawa hadirin.

Kepada kontingen yang belum mendapat juara, Farid berpesan agar tidak gundah. Farid mengapresiasi semua pihak yang telah menyukseskan Pionir VIII.

Menurutnya, kesukseskan even nasional tersebut merupakan hasil kerja sama semua pihak. “Rektor tidak ada apa-apa, suksesnya Pionir ini berkat usaha keras saudara-saudaralah semua,” ujarnya dengan suara lantang.

Pada kesempatan terpisan, Rektor juga mengapresiasi keberhasilan kontingen UIN Ar-Raniry sebagai juara umum. “Dari awal kita kejar dua prestasi, yaitu sukses pelaksanaan Pionir secara umum, yaitu dengan tidak ada cacat dan cela dalam penyelenggaraannya, dan sukses mencapai hasil maksimal dalam prestasi atlet di lapangan,” ujar Prof Farid.

Menurut Prof Farid, sebagai tuan rumah, UIN Ar-Raniry memiliki keuntungan tersendiri dalam penyelenggaraan Pionir kali ini, sebab UIN Ar-Raniry bisa menyertakan jumlah kontestan sesuai kebutuhan even ini, yaitu sebanyak 120 peserta.

Dua tahun lalu, pada pergelaran even yang sama di Palu, UIN Ar-Raniry hanya mampu meraih satu medali emas pada cabang tenis meja ganda putra. Sementara juara umum pada saat itu diraih oleh IAIN Banten.

Penutupan Pionir VIII Minggu malam itu dimeriahkan oleh tarian meuseudara yang dibawakan 200 penari dari Sanggar Seni Seulaweut UIN Ar-Raniry.

Selain tarian resmi penutup Pionir, para kontingen dari berbagai provinsi juga tidak ketinggalan ikut tampil memeriahkan panggung hiburan Minggu malam.

Kontingen IAIN Ambon membawakan tarian ratoh jaroe sebagai simbol persaudaraan dengan Aceh.

Tarian ratoh jaroe umumnya ditarikan oleh para penari perempuan, tetapi berbeda dengan yang ditampilkan kontingen Ambon. Mereka menampilkan para lelaki sebagai penari ratoh jaroe. Penampilan mereka tambah ramai dengan adanya kolaborasi tarian orlapei dari Ambon.

Tarian kolaborasi ini mereka beri nama “orlapeililakesah”. Penampilan kontingen ini mendapat apresiasi luar biasa dari para penonton. Apalagi, saat kolaborasi tarian “orlapeililakesah” ditampilkan, penonton terkesima dengan nada musik Eropa dalam tarian tersebut.

Tarian orlapei merupakan tarian daerah asal Ambon. Tarian ini adalah tarian sambutan kepada para tamu kehormatan pada acara-acara desa di Maluku Tengah. Gerakan tarian ini menggambarkan suasana hati yang gembira dari seluruh masyarakat terhadap kedatangan tamu kehormatan ke desanya. (ari) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id