Pemprov Diusul Bangun RS Khusus | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pemprov Diusul Bangun RS Khusus

Pemprov Diusul Bangun RS Khusus
Foto Pemprov Diusul Bangun RS Khusus

BANDA ACEH – Pemerintah provinsi (Pemprov) di Indonesia, termasuk Pemprov Aceh diusul membangun rumah sakit khusus penyakit kritis yang membutuhkan penanganan cepat, seperti penyakit jantung dan stroke.

Demikian salah satu kesimpulan simposium ICU without Wall (ICU tanpa dinding atau batas) di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Sabtu, 29 April 2017, seperti disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Anastesiologi dan Terapi Intensif (Perdatin) Aceh, dr Teuku Yasir SpAn KIC ketika menjawab Serambi kemarin.

Simposium nasional ini dikuti sekitar 300 peserta se-Indonesia mulai mahasiswa, perawat, dokter umum, dokter ICU, dan dokter spesialis. Sehari sebelumnya mereka juga mengikuti workshop tentang ini. Adapun penyelanggaranya Jakarta Cvitical Care Alumnie (JCCA) bekerja sama Perdatin Jaya serta Perdatin Aceh.

Teuku Yasir menyebutkan simposium itu melahirkan kesimpulan berupa perencanaan jangka pendek. Misalnya ke depan mereka terus meningkatkan sumber daya manusia (SDM) para medis tentang ICU tanpa batas yang juga harus dibantu oleh Pemerintah.

“Untuk perencanaan jangka menengah, Pemerintah Daerah perlu memikirkan untuk membuat RS khusus penyakit kritis, seperti jantung dan stroke,” kata Teuku Yasir menjawab Serambi kemarin.

Menurut Teuku Yasir, RS khusus seperti di luar negeri itu diperlukan karena penanganan pertamanya harus dilakukan secepatnya, meski nanti ketika masa penyembuhan sudah bisa dirawat di RS umum. Selain itu, dr Yasir juga menyebutkan beberapa kesimpulan lainnya dalam simposium itu, termasuk perencanaan untuk jangka panjang.

Sebelumnya di sela-sela simposium ini, Ketua Jakarta Cvitical Care Alumnie (JCCA), dr Yohanes George SpAn KIC mengatakan tak semua pasien kritis harus dirawat di ruang intensif care unit (ICU). Bahkan, menurutnya berdasarkan data kesehatan dunia, 70 persen pasien kritis yang dirawat di ICU semestinya bisa dicegah atau tak perlu dirawat di ruang ICU, jika penanganannya cepat dan tepat dilakukan di luar ruang ICU atau ICU tanpa batas (ICU without Wall

Karena itu, kata Yohanes mereka kerap menyelenggarakan workshop dan seminar tentang itu yang mengangkat tema “Triage, ICU Admision and Early Warning System” dan kali ini di Banda Aceh. “Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan para medis, terutama dokter agar bisa menentukan secara cepat dan tepat dari awal apakah pasien bisa mereka tangani secara intensif tanpa harus ke ruang ICU atau harus ke ruang ICU,” kata Yohanes, salah satu ahli anastesi RS Pondok Indah, Jakarta ini.

Yohanes menambahkan ICU tanpa dinding ini juga dapat mengurangi biaya perawatan pasien ditanggung BPJS, apalagi jika pasien harus menanggung sendiri. Pasalnya, perawatan di ICU sangat mahal lantaran berbagai peralatannya. “Di RSUZA, Banda Aceh, peralatan di ruang ICU untuk satu tempat tidur pasien saja mencapai Rp 2-5 miliar,” timpal Direktur RSUZA, dr Fachrul Jamal SpAn KIC.

Lebih dari itu, Yohanes menyebutkan ICU tanpa dinding ini juga dapat mempercepat perawatan, mengurangi angka kematian, dan memudahkan pasien karena tak perlu pemasangan berbagai alat medis di ruang ICU. (sal) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id