Pendidikan Keluarga dan Kehidupan Anak | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pendidikan Keluarga dan Kehidupan Anak

Pendidikan Keluarga dan Kehidupan Anak
Foto Pendidikan Keluarga dan Kehidupan Anak

Oleh Siti Zahara A. Djalil

ANAK merupakan amanah Allah Swt yang paling berharga dan bernilai dalam kehidupan pasangan suami isteri. Tanpa kehadiran seorang anak, rasanya belum lengkap kebahagian sebuah keluarga. Oleh sebab itu, banyak pasangan suami isteri yang belum dikaruniai buah hati rela mengeluarkan uang ratusan juta untuk berobat, hanya sekadar ingin mendapatkan keturunan. Maka pada saat Allah telah memberikan amanah berupa anak, sudah sepantasnya orang tua menjaga, menyayangi dan memberi pendidikan yang layak serta sesuai dengan ajaran Islam kepada anak-anaknya.

Ada beberapa tahapan perkembangan anak yang perlu diperhatikan dan dipahami oleh para orang tua dalam rangka memberikan perhatian dan pendidikan yang baik, sehingga anak-anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Pada saat seorang isteri dinyatakan hamil, nisalnya, hal tersebut biasanya merupakan berita gembira, tidak hanya bagi pasangan tersebut, bahkan bagi keluarga besar kedua belah pihak.

Ada hal penting yang harus diperhatikan dan dipahami pada saat ibu sedang mengandung antara lain: Pertama, ibu harus menjaga kandungan dengan mengkonsumsi makanan yang halal dan bergizi, begitu pula harus mengkonsumsi minuman yang halal dan bermanfaat untuk kesehatan ibu dan anak; Kedua, ibu harus melakukan tindakan-tindakan yang memberikan nilai positif bagi perkembangan bayi dalam kandungan. Ibu harus mengisi waktu senggang dengan membaca Alquran dan berzikir, sehingga pada saat anak lahir akan terbiasa berinteraksi dengan Alquran; Ketiga, Ibu harus berusaha keras untuk tidak stress pada saat hamil; Keempat, suami harus berusaha memberikan kasih sayang dan ketenangan jiwa kepada isteri yang sedang hamil.

Pada saat pasangan suami isteri ingin menambah jumlah anak, maka seharusnya suami menanyakan kesiapan isteri untuk mengandung lagi. Ada sebagian suami memaksa kehendak untuk mempunyai anak yang banyak, padahal kondisi dan kemampuan isteri tidak memungkinkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Apabila kondisi tersebut terjadi, maka pihak yang sangat tertekan adalah isteri dan dapat dipastikan bahwa anak yang ada dalam kandungan ibu pun berada dalam kondisi yang tidak nyaman dan tenang.

Ajak berkomunikasi
Allah Swt memerintahkan ibu menyusui anak dalam masa dua tahun. Artinya, dalam masa tersebut sebaiknya ibu jangan hamil dulu, sehingga air susu ibu (ASI) yang diberikan kepada anak masih dalam kondisi yang baik sesuai dengan aturan kesehatan. Pada saat menyusui, sebaiknya ibu membaca Alquran yang sudah bisa dihafal dan mengajak bayi untuk berkomunikasi. Apabila ibu hendak melakukan shalat, maka sebaiknya bayi tersebut diletakkan berdekatkan dengan tempat ibunya shalat. Hal tersebut diharapkan anak akan terbiasa dengan gerakan shalat yang dilihatnya sejak dia bayi.

Usia anak 0-5 tahun merupakan masa-masa keemasan dalam perkembagan anak. Semua anak dilahirkan dalam keadaan putih bersih seperti kertas putih tanpa coretan apapun. Orang tua terutama ibu merupakan orang pertama dan utama yang mencoret-coret kertas tersebut. Apabila coretan tersebut dilakukan dengan perencanaan dan pola yang benar, maka pada saat kertas tersebut sudah penuh dengan coretan akan bisa menghasilkan coretan yang menarik dan penuh makna.

Pada masa tersebut seharusnya orang tua mengisi otak anak dengan pembelajaran akidah dan pendidikan lainnya, serta keteladanan yang baik dari orang tua. Pada usia tersebut anak lebih suka belajar meniru apa yang mereka dengar dan lihat. Pendengaran anak pada usia tersebut lebih kuat dibandingkan dengan pancaindera yang lain. Oleh karena itu, orang tua harus memperdengarkan kata-kata yang indah, ayat Alquran dan bacakan serta ceritakan kisah-kisah orang shalih yang akan menginspirasi hidupnya di masa yang akan datang. Bercerita merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling andal dalam membentuk karakter anak. Anak balita sangat senang mendengar cerita. Artinya pada saat hati mereka senang, maka otak mereka akan terbuka untuk menerima pembelajaran dari orang tua.

Anak usia 0-5 tahun lebih banyak berkomunikasi dengan keluarga inti. Apabila kedua orang tuanya bekerja, sebaiknya mencari babysitter yang paham cara mendidik anak secara Islam. Kadang kala ada ibu dan ayah yang tidak mau pekerjaannya diganggu oleh buah hatinya, maka mereka memberi HP, Tab dsb sebagai mainan bagi anaknya. Akhirnya hal tersebut menjadi suatu kebiasan yang tidak baik bagi anak, apalagi kalau sampai anak tersebut melihat aksi-aksi pornografi secara tidak sengaja. Berhati-hatilah orang tua dalam memilih dan memberi mainan kepada anak balita.

Pada saat anak dibangunkan di pagi hari, sebaiknya ibu/ayah mengucapkan salam dan kata-kata kasih sayang seperti, aku sayang kamu karena Allah dan diharapkan anak membalas kata-kata tersebut. Setelah mereka shalat Shubuh, biasakan mereka untuk membaca dan menghafal Alquran walau hanya beberapa ayat. Orang tua harus mengajarkan mereka untuk disiplin waktu berdasarkan kesepakatan yang telah dimusyawarahkan antara orang tua dan anak. Orang tua juga harus membiasakan anak untuk shalat tepat waktu, puasa, berpakaian sopan dan menutup aurat di rumah atau di luar rumah.

Pada saat anak akan berangkat sekolah, orang tua harus membiasakan anak untuk berpamitan sama orang tua dengan bersalaman dan kemudian orang tua mencium kening serta mengusap kepala anak diiringi dengan doa agar anak tenang jiwanya pada saat belajar di sekolah. Pada usia 5-12 tahun, pergaulan anak sudah lebih luas. Mereka sudah mempunyai teman bermain baik di rumah maupun di sekolah. Pada usia tersebut anak-anak akan sangat mudah untuk menerima apapun yang diajarkan oleh guru, teman bermain dan orang terdekat. Orang tua harus terus mengontrol perkembangan anaknya baik perkataan atau sikap lainnya. Pada saat anak pulang sekolah, sebaiknya orang tua menanyakan apa yang dipelajari anak di sekolah dan siapa kawannya bermain. Lebih baik lagi kalau orang tua kenal keluarga kawan anak bermain di rumah dan di sekolah.

Cinta Alquran
Orang tua harus mengusahakan agar anak pada usia tersebut sudah mampu membaca Alquran dan buku dengan baik dan benar serta memotivasi anak untuk cinta membaca Alquran dan buku. Orang tua harus memilih sekolah yang mampu mengakomodasi keinginannya terhadap anak tersebut. Anak harus diajarkan cara bicara yang santun, menghormati yang lebih tua dan mencintai yang lebih muda agar pada saat anak dewasa, mereka akan menjadi orang yang punya toleransi, suka membantu yang lemah dan kejujuran merupakan motto hidupnya.

Masa SMP dan SMA adalah masa paling sulit yang dilalui oleh anak. Apabila masa-masa sebelumnya sudah dijalani dengan baik dan mereka sudah mempunyai bekal aqidah yang kuat, maka pada masa ini akan mampu mereka jalani dengan baik pula. Tetapi, kadang kala orang tua kurang peduli pada masa sebelumnya dan baru sadar pada saat anak sudah SMP dan SMA serta mereka sudah mengalami banyak masalah.Orang tua baru sadar bahwa pemberian material yang cukup tidak menjamin bahwa anak akan bersikap dan bertindak sesuai dengan ketentuan yang ada.

Pada masa balita, orang tua harus memperlakukan anak sebagai raja dan ratu. Pada masa TK dan SD orang tua harus membimbing dan mengajari anak tentang kehidupan. Pada masa SMP dan SMA jadikan anak sebagai kawan dan orang tua harus menyediakan waktu sebagai tempat curhat bagi anak-anaknya. Anak akan selalu ingat untuk pulang ke rumah, karena mereka tahu ayah dan ibu tercinta sudah menunggu dengan dekapan kasih sayang yang mereka rindukan.

Pada masa tersebut orang tua tidak sanggup lagi mengikuti ke mana anak pergi, dengan siapa mereka berkawan, apa yang mereka lakukan dan sebagainya. Apabila seorang anak mampu melewati masa SMP dan SMA dengan baik, maka masa kuliah dan seterusnya akan mudah mereka jalani dengan bekal ilmu dan akidah yang telah mereka dapatkan dari orang tua dan sekolah.

Allah Swt dalam surat An-Nisa’ ayat 9 telah memperingatkan para orang tua untuk tidak meninggalkan keturunan atau anak-anak dalam keadaan lemah. Artinya, orang tua bertanggung jawab terhadap kehidupan anaknya di masa yang akan datang. Anak bisa mengiring orang tuanya ke dalam neraka, apabila orang tua tidak mendidik anak tersebut dengan baik dan benar. Begitu pula anak dapat mengajak orang tuanya masuk surga karena anak tersebut sudah mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, apalagi kalau mampu menghafal Alquran 30 juz.

Oleh karena itu, orang tua harus mempersiapkan anaknya melalui pendidikan keluarga yang mantap, sehingga anaknya siap bersaing di dunia untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan mendapatkan syurga di kehidupan selanjutnya. Orang tua sukses bukan hanya sekedar mampu mendidik anak untuk memperoleh gelar sarjana, tetapi lebih kepada kemampuan mendidik karakter anak yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bissawab.

* Siti Zahara A. Djalil, SE, M.Si, Ak., Guru SMAN 9 Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id