Pendidikan dari Ayunan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pendidikan dari Ayunan

Pendidikan dari Ayunan
Foto Pendidikan dari Ayunan

Oleh Mukhtaruddin Yacob

HARI ini, 2 Mei 2017, masyarakat Pendidikan di seluruh Tanah Air memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-58. Hardiknas kali ini dikemas dengan tema “Percepat Pendidikan Merata dan Berkualitas” menarik untuk disimak.

Barangkali, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyadari jika pendidikan selama ini masih jauh dari harapan. Kesempatan yang belum merata hingga kualitas pendidikan yang masih belum menggembirakan. Salah satunya adalah fakta masih banyak sekolah di Indonesia berjalan apa adanya sampai kualitas guru dan perangkat sekolah yang kurang sigap.

Karena itulah, mereka menetapkan tema tersebut agar tidak lagi terjadi ketimpangan antardaerah, jenjang dan pengambil kebijakan. Pemerataan pendidikan perlu, kualitas juga penting, keadilan jauh lebih penting.

Memang keadilan adalah hal relatif, tergantung cara menilai dan memandangnya. Namun, ada hal tak bisa diabaikan adalah berkarakter. Karena karakter modal kekuatan bangsa agar bisa bersaing dengan bangsa lain sebagaimana intisari pidato Mendiknas Muhadjir Effendy menyambut Hardiknas 2017 (www.kemdikbud.go.id).

Nilai-nilai islami
Masyarakat Aceh mengenal budaya pembangunan karakter atau akhlak berupa kearifan lokal (local wisdom). Memasukkan nilai-nilai islami melalui kalimat zikir menjadi poin penting dalam setiap kesempatan bersama keluarga, terutama anak-anak mereka.

Lailaha illlallah, kalimah thaibah beukai ta mate (Tiada Tuhan selain Allah, kalimah yang baik bekal dibawa mati). Soe nyang amai kalimah nyan, seulamat iman sampoe oh mate (Siapa saja yang sempat mengucapakan kalimah tersebut, maka imannya selamat saat meninggal dunia nanti).

Cuplikan syair bait di atas sering terdengar saat para ibu-ibu tengah menidurkan anaknya dalam ayunan. Berbekal pengetahuan seadanya, para ibunda mengisi relung hati anak-anaknya dengan nilai religius melalui kalimah zikir.

Lantunan syair Islam kerap dilakoni para ibu rumah tangga di Aceh hingga era 1990-an, saat pengaruh globalisasi belum begitu terasa. Mereka sadar menyampaikan kalimat zikir akan membuat anak-anak mereka kuat agama dan teruji karakter dari ketimpangan sosial seperti kejahatan.

Saat itu, bukan hanya sang ibu. Anak-anak pun terbiasa dengan nyanyian ritual dalam berbagai irama. Anak-anak pun belum banyak disuguhkan media yang merusak perkembangan mental mereka. Maka, ayunan adalah pendidikan dini melepas mereka bertarung dengan dunia. Bukankah hadis Nabi Muhammad saw menganjurkan, “Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat” yang kemudian diadopsi dunia barat dengan jargon long live education.

Syair bernuansa religius ini pun bisa melekat pada anggota keluarga mereka lainnya. Bahkan syair tersebut bisa meninabobokan anak yang larut dalam lantunan kalimat thaibah. Syair ini juga diyakini para orang tua dulu bisa membendung perkembangan psikologis anak-anak mereka dari budaya barat dan negatif.

Sayangnya, syair demi syair ini tenggelam bahkan hilang seiring munculnya media hiburan seperti televisi dan lahirnya beragam media hiburan, semisal telepon selular pintar yang menggerus mental masyarakat.

Meskipun kalimatnya sangat pendek, paling tidak dua bait syair di atas mengingatkan mereka pada kata-kata baik dan mendekatkan anak mereka dengan Allah Swt sebagai sang pencipta.

Masyarakat Serambi Mekkah sangat menyadari jika kehidupan dunia rentan godaan dan serangan negatif. Serangan bukan hanya menggerogoti perkembangan anak secara fisik, tapi juga memberangus akhlak. Maka, mereka mengisi pondasi akhlak keturunan mereka dengan nilai Islami sebagai modal membendung pengaruh luar.

Pondasi akhlaqul karimah atau akhlak mulia penting karena pengaruh dunia dalam era globalisasi nyaris tanpa jeda. Tak heran jika pendidikan Agama Islam masih ditambah dengan pendidikan karakter. Pendidikan akhlak itu harus dimulai dari ayunan, saat anak baru mengenal dunia.

Lebih bermartabat
Masyarakat Aceh tempo doeloe boleh saja dibilang gaptek atau gagap teknologi. Namun, jangan keliru jika pola pendidikan anak yang ditempuh para endatu (nenek moyang) kita jauh lebih bermartabat dan mengena sasaran dibandingkan saat ini.

Keras dan tegas. Mungkin kata yang sangat apik untuk menggambarkan pola pendidikan zaman dulu. Namun, pola keras dalam tanda kutip bahkan melahirkan para generasi yang berakhlak mulia, beretika, dan saling menghargai, juga menghormati satu sama lainnya.

Masyarakat Jepang sangat sadar jika pembentukan karakter adalah elemen penting dalam hubbun wathan (cinta tanah air). Meskipun pendidikan warga Jepang setinggi langit, mereka masih mengagungkan budaya nenek moyang seperti penggunaan sumpit dan kimono atau pakaian tradisional Jepang. Bahkan dalam film Oshin yang terkenal era 1980-an, Oshin jadi tontonan menarik.

Pembangunan karakter menjadikan negeri matahari terbit melesat menjadi negara maju. Meskipun didera bencana yang bertubi-tubi, tak membuat bangsa Nippon ini putus asa. Maka, jadilah Jepang sebagai bangsa besar karena kerja keras, disiplin tinggi, dan pembangunan karakter yang tak pernah surut.

Lain halnya dengan Indonesia, bahkan Aceh sekalipun. Generasi kita kerap meniru bukan berguru. Sehingga modal besar Aceh yang istimewa di bidang pendidikan tinggal nama, karena kondisi Aceh yang masih harus bangkit lagi dari ketertinggalan selama ini. Bukan tak mungkin Aceh bisa bangkit, karena bangsa Jepang yang luluh lantak karena bom atom kembar Hiroshima dan Nagasaki justru menjadi bangsa besar karena istiqamah dalam pembangunan manusia, terutama karakternya.

Jika merujuk pada tema Hardiknas tahun ini, “Percepat Pendidikan Merata dan Berkualitas” mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia harus bangkit dengan pendidikan tanpa mengabaikan kualitas. Saatnya keluarga terlibat aktif dalam pendidikan informal agar lahir generasi unggulan. Karena pendidikan bukan hanya tanggungjawab pemerintah tapi juga keluarga sebagai awal pendidikan informal. Selamat Hardiknas 2017!

* Mukhtaruddin Yacob, pengajar lepas dan peminat pendidikan, tinggal di Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id