Aspirasi Buruh Masih Seperti Yang Dulu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aspirasi Buruh Masih Seperti Yang Dulu

Aspirasi Buruh Masih Seperti Yang Dulu
Foto Aspirasi Buruh Masih Seperti Yang Dulu

Kemarin, 1 Mei 2017 sebagian besar buruh dunia turun ke jalan guna memperingati Hari Buruh Internasional. Di Indonesia, peringatan yang ditandai dengan unjuk rasa menununtut banyak hal kepada pemerintah dan pengusaha itu tidak berlangsung merata. Buruh hanya turun ke jelana di beberapa kota besar speerti Jakarta, Surabaya, dan lain-lain.

Di Aceh, bahkan tergolong sepi. Selain karena hari libur, kondisi ekonomi Aceh yang lesu juga mungkin menjadi alasan bagi para buruh di daerah ini untuk tak “berbirahi” menggelar aksi besar. Meski demikian, mereka tetap memiliki aspirasi. Paling tidak para buruh pasti punya keinginan kuat untuk memperjuangkan kenaikan upah.

Di Indonesia, hingga beberapa tahun ke depan, perayaan Hari Buruh Internasional ini masih diwarnai keprihatinan besar. Ini terkait dengan kondisi hubungan industrial yang belum sepenuhnya kondusif dan masih banyaknya kasus kekerasan yang mencederai rasa kemanusiaan pada buruh kita di dalam dan luar negeri. Makanya, jikapun tidak tahun ini, tahun depan para buruh perlu menjadikan momentum peringatan “May Day” untuk mengakhiri kemelut perburuhan yang menghalangi kita maju.

Lalu, tuntutan buruh yang belum banyak beranjak dari sebelumnya, kenaikan upah minimum, penghapusan sistem alih daya, dan perlindungan pekerja, tentu menjadi indikator bahwa belum ada pemahaman yang sama untuk menyelesaikan isu alot krusial tanpa melupakan konteks makro situasi domestik dan tuntutan global.

Secara nasinal, terlihat masih tingginya rasa saling curiga. Di kalangan buruh masih ada anggapan pemerintah berkonspirasi dengan pelaku usaha untuk menekan buruh. Keberadaan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dianggap macan ompong karena adanya pembiaran dan penerbitan aturan oleh pemerintah yang justru bertentangan dengan semangat UU itu sendiri.

Di sebagian kalangan dunia usaha, buruh diposisikan sebagai musuh terbesar karena aksi anarkistis dan tuntutan mereka dianggap faktor yang mengancam kesinambungan perusahaan. Sedangkan pemerintah sering tak berdaya menjembatani dua kepentingan serta menciptakan situasi kondusif agar kepentingan pencari kerja dan pemberi kerja tak bertabrakan.

Di Aceh, antara pekerja dengan perusahaan juga sering bermasalah. Walau industri dan buruh di sini hanya sedikit dibanding daerah-daerah di Pulau Jawa, tapi pemerintah povinsi dan pemerintah kabupaten/kota tetap harus “rajin” menyelesaikan persoalan buruh dan perusahaan, terutama buruh dan perusahaan perkebunan. Sebab, berlarut-larutnya konflik antara pekerja dengan perusahaan bisa berakibat terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja. Lebih parah lagi adalah “perginya” perusahaan-perusahaan dari Aceh. Dan, jik itu terjadi, maka yang rugi bukan hanya buruh dan perusahaan, tapi juga daerah ini.

Ingat, minimnya investasi luar masuk Aceh adalah salah satu penyebab melambatnya perkembangan atau pertumubuhan ekonomi di daerah ini. Makanya, Hari Buruh Internasional ini tak salah juga jika dijadikan momentum bagi “pencanangan” Aceh sebagai daerah layak investasi. Tentu, karena masih sagat banyak tenaga kerja di sini yang membutuhkan lapangan kerja. (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id