Tapak Tilas Kejayaan Islam di Istanbul | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tapak Tilas Kejayaan Islam di Istanbul

  • Reporter:
  • Minggu, April 30, 2017
Tapak Tilas Kejayaan  Islam di Istanbul
Foto Tapak Tilas Kejayaan Islam di Istanbul

OLEH JURNALIS J HIUS, Travelblogger Aceh, melaporkan dari Istanbul, Turki

NENEK moyang bangsa Turki sebenarnya berasal dari daratan perbatasan Cina, tepatnya di Pegunungan Altai. Karena diusir oleh dinasti yang berkuasa pada masa 177 tahun Sebelum Masehi, sehingga bangsa yang disebut tu-kin oleh bangsa Cina ini bermigrasi dan hidup secara nomaden di dataran tinggi Asia.

Corak hidup inilah yang menjadikan nenek moyang bangsa Turki dikenal sebagai pembuat permadani paling bagus di dunia, karena sejak dulu sudah terbiasa membuat karpet sebagai alas dan dinding pada tenda-tenda kehidupan berpindahnya. Hingga kini berbagai merek permadani Turki terkenal hingga ke seluruh dunia.

Selain letaknya di antara dua benua (Asia dan Eropa), Istanbul pun menjadi saksi kejayaan dua imperium terbesar di dunia, yakni Rumawi Timur (Byzantium) dan Ottoman (Utsmani). Masa kejayaan dua kerajaan itu dapat dilihat dari fungsi bangunan Hagia Sofia yang pada awalnya dibuat sebagai gereja terbesar di dunia pada masa 537-1453 Masehi. Namun, sejak Konstantinopel direbut Sultan Mehmed al Fatih, bangunan itu jadi penanda jatuhnya Byzantium ke tangan tentara muslim dan Hagia Sofia diubah jadi masjid sejak 1453-1931 Masehi.

Saya berkesempatan mengelilingi old town Istanbul dan tak lupa untuk mengelilingi masjid-masjid di kota dengan penduduk 15 juta jiwa ini.

Di tiap sisi Kota Istanbul dengan mudah didapati masjid, bentuknya hampir sama dengan ruangan utama masjid, ditandai dengan kubah dan dikelilingi menara. Yang berbeda hanyalah jumlah menaranya. Sema, yang menemani saya selama di Turki, menceritakan bahwa jumlah menara masjid di Turki menandakan peruntukan masjid tersebut dibuat. Masjid dengan empat menara adalah masjid yang dibangun oleh sultan, sedangkan masjid yang dibangun dengan dua menara dibangun untuk ibunda atau anak perempuan sultan.

Masjid yang paling terkenal di Istanbul adalah Masjid Sultan Ahmed atau biasa disebut dengan Masjid Biru (Blue Mosque) oleh karena interiornya dilapisi keramik berwarna biru. Masjid ini terletak bersebelahan dengan Hagia Sofia, diselingi taman. Masjid dengan enam menara ini memiliki arsitektur campuran Rumawi dan Islam yang sangat khas dan dipenuhi oleh kaligrafi indah karya arsitektur Seyyid Kasim Gubari, salah satu kaligrafer terbaik pada masa itu.

Di luar, Masjid Biru dikeliling oleh taman indah yang bila didatangi pada bulan April akan menyajikan mekarnya bunga tulip yang menjadi ciri khas di Turki (selain di Belanda).

Hagia Sofia dulunya juga masjid, tapi sekarang difungsikan sebagai museum. Jadi, kita hanya bisa mengunjungi Hagia Sofia sebagai turis. Masjid indah lainnya di Istanbul adalah Masjid Eyup Sultan. Namanya diambil dari nama sahabat Nabi Muhammad bernama Abu Ayyub. Dia pemimpin pasukan muslim dalam menaklukkan Kerajaan Konstantinopel tahun 674 M semasa pemerintahan Dinasti Umayyah.

Ketika itu, umur Abu Ayyub sekitar 98 tahun. Meski tua, tapi Abu Ayyub tetap bersikeras ikut dalam rombongan. Pemimpin ekspedisi adalah Yazid bin Muawiyyah. Sampai kini makam Abu Ayyub terletak di pelataran masjid ini sebagai simbol perjuangannya dalam menjalankan perintah Nabi Muhammad untuk menaklukkan Konstantinopel.

Di dalam pekarangan Istana Topkapi (istana pertama yang dibangun di masa pemerintahan Al Fatih) terdapat gereja yang diubah fungsinya jadi masjid pada masa Beyazit II dalam misi mengubah semua gereja menjadi masjid di seluruh daerah Ottoman. Tapi sekarang berubah fungsi menjadi museum, terutama pada masa Republik Turki.

Masjid indah lainnya sekaligus terbesar adalah Suleymaniye Cami. Masjid ini dibangun atas perintah Sultan Suleymaniye Agung. Dimulai tahun 1550, selesai tahun 1558.

Masih banyak masjid indah di Istanbul. Namun, kunjungan saya dua hari tak cukup untuk mengelilingi semuanya. Masjid-masjid di Istanbul bisa dimasuki secara gratis oleh wisatawan, tak hanya umat muslim. Hanya saja, ada batas untuk wisatawan yang bermaksud shalat. Pihak pengelola juga menyediakan semacam sarung dan jubah untuk wisatawan yang tak menutup auratnya.

Istanbul juga terkenal dengan peninggalan benteng Konstaninopel yang tetap diabadikan oleh Pemerintah Turki untuk menghargai sejarah. Benteng yang memiliki panjang total 22 km ini hampir sebagian sudah runtuh, namun menjadi keunikan tersendiri untuk menandakan keaslian dari bangunan yang dibangun sejak awal Masehi tersebut.

Di Istana Topkapi pun tersimpan warisan Nabi Muhammad dan berbagai peninggalan khalifah seperti pedang dan jubah yang dibawa ke Turki oleh Sultan Salim dari Mesir. Di samping warisan Rasulullah dan para sahabat, Istana Topkapi juga menyimpan relikui tokoh-tokoh terkenal Islam. Misalnya, potongan serban Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, mangkuk Nabi Ibrahim, tongkat Nabi Musa, pedang Nabi Daud, serban Nabi Yusuf, plus jubah dan sajadah Fatimah az-Zahra.

Lewat tapak tilas (bekas jejak) sejarah ini, Turki mengajarkan kepada kita bahwa menghargai sejarah dan menampilkannya kepada generasi masa kini dapat menimbulkan rasa cinta yang sangat mendalam pada Islam. Mudah-mudahan banyak kebaikan dari Turki yang dapat dipelajari untuk memajukan Islam di Aceh.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id