Menginap di Rumah Warga, Membuka Isolasi Wilayah Pedalaman | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menginap di Rumah Warga, Membuka Isolasi Wilayah Pedalaman

Menginap di Rumah Warga, Membuka Isolasi Wilayah Pedalaman
Foto Menginap di Rumah Warga, Membuka Isolasi Wilayah Pedalaman

* Melihat Bakti Nyata TNI di Bekas Desa Konflik

Potret kemiskinan penduduk Desa Pasir Putih sudah berlangsung puluhan tahun. Wilayah yang dulunya kerap terdengar dentuman senjata itu kini mulai menggeliat berbenah dan membangun. Pasir Putih ini ditetapkan sebagai salah satu lokasi sasaran kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-98 yang dimotori Kodim 0105 Aceh Barat.

RUMAH itu terlihat jauh dari layak huni. Barisan papan dindingnya semakin keropos. Beberapa bagian bahkah sudah usang dimakan usia. Melongok agak ke dalam, pemandangan semakin miris. Tak ada perabotan mewah, alat dapur modern apalagi lantai berlapis keramik. Sebaliknya, rumah itu hanya berisi peralatan seadanya berlantaikan tanah.

Nurhayati (37), sudah terbiasa hidup di rumahnya yang tak layak huni itu. Ia menghabiskan hari-harinya bersama suami dan keempat anaknya. “Beginilah kondisi rumah kami. (Papannya) sudah sangat lapuk,” ujar wanita paruh baya ini kepada Serambi Sabtu lalu. Kehidupan Nurhayati adalah potret kemiskinan di Desa Pasir Putih, Kecamatan Meureubo, sebuah bekas desa konflik di pedalaman Kabupaten Aceh Barat.

Saat Serambi menyambangi desa berpenduduk 507 jiwa (119 KK) itu Sabtu lalu kemiskinan dan kemelaratan hidup tergambar jelas dari wajah para penduduknya. Nyaris tanpa perhatian dan sentuhan pembangunan. Potret kemiskinan lebih kontras tampak dari rumah warga yang masih didominasi rumah kayu berdinding papan usang yang dibangun puluhan tahun lalu. Jalan-jalan desa juga masih darurat dan belum tersentuh aspal.

Konflik berkepanjangan yang mendera Aceh beberapa tahun silam menjadi mimpi buruk warga setempat. Nurhayati dan keluarganya terpaksa harus mengungsi. Namun pasca tsunami 2004 disusul perjanjian damai antara Pemerintah RI-GAM pada 2015, Nurhayati bersama warga lainnya kembali pulang dan menetap di Desa Pasir Putih.

“Kami mulai menetap di desa ini tahun 2004. Kami direlokasi kembali ke sini. Rumah ini kira-kira sudah berumur 30 tahun lebih,” tutur wanita asal Pulau Jawa ini. Nurhayati bersama penduduk asal Pulau Jawa lainnya terdampar di Aceh karena mengikuti program transmigrasi. Hingga kini ia sudah menetap di desa itu sekitar 30 tahun. Segala pahit getir hidup di tengah konflik bersenjata sudah ia rasakan.

“Kira-kira waktu saya masuk ke Aceh dulu bersama orang tua, usia saya masih tujuh tahun,” ujar ibu empat anak ini. Menjadi warga transmigrasi di Aceh sejak puluhan tahun lalu, ternyata tidak mengubah hidup Nurhayati. Lilitan kemelaratan hidup dan kemiskinan hingga kini masih mendera penduduk Desa Pasir Putih yang mayoritas dihuni warga trans asal Pulau Jawa.

“Memang pernah diusulkan dibangun rumah lebih layak, tapi ya tidak pernah dapat warga desa kami,” ujar Toimah (80), penduduk Desa Pasir lainnya kepada Serambi. Wanita renta ini juga mengungkapkan rasa prihatin atas kondisi rumahnya yang berlantai tanah dan tak layak huni. Hidup Toimah tak kalah miris dengan keluarga Nurhayati.

Bahkan jepitan ekonomi yang menderanya, membuat Toimah harus mengonsumsi makanan pokok dari ubi kayu karena tak mampu membeli beras. Selain warga transmigran, Desa Pasir Putih yang masih berada di bawah Pemerintahan Desa Balee, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat juga dihuni warga lokal.

* * *

Potret kemiskinan penduduk Dusun Pasir Putih yang sudah berlangsung puluhan tahun belakangan mulai terbuka ke publik. Desa Pasir Putih ditetapkan sebagai lokasi sasaran program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-98 yang dimotori Kodim 0105 Aceh Barat. Program tentara membangun desa ini dibuka 5 April lalu, dan berakhir 5 Mei 2017 mendatang.

“Kami berharap keberadaan TMMD di desa kami menjadi awal pembangunan di sini. Selama ini desa kami kurang mendapat perhatian dalam sektor pembangunan,” ujar Keuchik (Kades) Persiapan Desa Pasir Putih, Abdul Jalil Darwis kepada Serambi.

TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) adalah salah satu wujud operasi bakti TNI, yang merupakan program terpadu lintas sektoral antara TNI dengan departemen, lembaga pemerintah nondepartemen dan pemerintah daerah serta komponen bangsa lainnya. TMMD dilaksanakan secara terintegrasi bersama masyarakat, guna meningkatkan akselerasi kegiatan pembangunan di daerah pedesaan, khususnya daerah yang tergolong tertinggal, terisolasi, perbatasan, dan daerah kumuh perkotaan serta daerah lain yang terkena dampak akibat bencana.

Sebagai awal dari dimulainya Program TMMD ini, Kodim 0105 Aceh Barat membuka akses jalan sepanjang 2,7 kilometer yang dipusatkan di Desa Balee, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat pada 5 April lalu. Pembangunan jalan ini menghubungkan dua desa terisolir di Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan itu dibuka Bupati HT Alaidinsyah dihadiri Dandim Letkol Inf Herry Riana Sukma dan unsur Muspida. Pembukaan TMMD juga dirangkai dengan pengobatan gratis kepada warga Desa Balee serta sunatan gratis untuk anak kurang mampu.

Dandim Aceh Barat Letkol Inf Herry Riana Sukma mengatakan program TMMD dilaksanakan selama 30 hari dengan anggaran senilai Rp 903 juta. Kegiatannya antara lain pembukaan jalan, pembuatan jembatan dan kegiatan nonteknis lainnya. Kehadiran Program TMMD bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi yang lebih penting yaitu terbangunnya semangat gotong royong, meningkatnya kepedulian sosial dan semangat kebersamaan membangun desa sebagai basis ketahanan wilayah menuju ketahanan nasional.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat membuka Rapat Paripurna TMMD di GOR Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (20/1/2017) seperti dilansir situs tni.mil.id menekankan beberapa poin penting dari program TMMD. Pertama, pelaksanaan TMMD tidak keluar dari tujuan dan semangat TMMD. Kedua, keberhasilan TMMD bukan bangunan fisik semata, tetapi yang lebih penting adalah dampak positif dari pelaksanaan TMMD. Ketiga, pelaksanaan TMMD dimaknai sebagai program yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Keempat, evaluasi hasil TMMD sebelumnya untuk dapat meningkatkan dan mencapai hasil yang optimal pada pelaksanaan TMMD yang akan datang. Kelima, laksanakan TMMD dengan niat ingin berbuat terbaik, berani, tulus dan ikhlas semata-mata hanya untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Sumur tua warisan TNI
Kehadiran TNI membangun di Desa Persiapan Pasir Putih, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat kini semakin terasa nyata bagi masyarakat. Serambi yang mengunjungi desa itu merekam berbagai aktivitas dan kerja keras sejumlah anggota TNI Kodim 0105/Aceh Barat dan Bataliyon Infanteri (Yonif) 116/Garda Samudra (GS) yang dikerahkan ke desa itu.

Aparat berbaju loreng tersebut tampak bahu membahu merampungkan sebuah waduk penampungan air desa. Waduk itu dibangun untuk menampung air dari sebuah sumur tua dengan kedalaman satu meter, namun tidak pernah kering dan menjadi sumber air penduduk setempat. Sumur yang dinamakan “mon mata” tersebut ternyata dibangun prajurit TNI BKO saat Aceh masih dalam kondisi berstatus darurat militer pada 2004.

Danrem 012/TU Kolonel Inf Nefra Firdaus dan Dandim Aceh Barat Letkol Inf Herry Riana Sukma dan Danyonit 116 Garda Samudra Letkol Inf Wahyu RS yang meninjau lokasi TMMD pada Sabtu pekan lalu berkesempatan menyaksikan keberadaan sumur tua di Desa Pasir Putih tersebut. Perwira TNI itu juga ikut merasakan tetesan air sumur “mon mata” yang menjadi simbol kehidupan warga desa tertinggal itu.

Menyatu dengan warga
Kegiatan TMMD di desa pedalaman Aceh Barat bisa dikatakan telah melahirkan terobosan dan inovasi baru dalam pelaksanaannya dibandingkan program TMMD beberapa tahun silam. Terobosan ini ditandai dengan munculnya tren baru yaitu prajurit TNI yang dikerahkan ke desa sasaran TMMD di Aceh Barat yang mencapai 120 orang diinapkan di rumah-rumah penduduk. Setiap rumah ditempati lima anggota. Keberadaan prajurit TNI di rumah warga diharapkan dapat lebih mendekatkan TNI dengan rakyat sebagaimana semboyan; TNI lahir dari rakyat untuk rakyat.

“Kalau TMMD dulunya dibuat tenda. Tapi kini para anggota menetap di rumah penduduk. Apa yang penduduk makan itu pula yang prajurit kita makan,” ujar Danrem Kolonel Inf Nefra Firdaus didampingi Dandim Aceh Barat Letkol Inf Herry Riana Sukma. Program TMMD di Aceh Barat saat ini masih berlangsung hingga 5 Mei mendatang. Rencanya akan ditutup Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Moch Fachruddin.

Pelaksanaan kegiatan TMMD di lapangan juga kian terasa, bahkan mendapat sambutan antusias warga ketika Bupati Aceh Barat HT Alaidinsyah membuka program TMMD pekan lalu. Usman (80), warga Desa Balee, Kecamatan Meureubo menyatakan terharu dengan adanya pengobatan gratis di desanya yang merupakan bagian dari program TMMD Ke-98.

“Semoga kegiatan seperti ini ke depan dapat terus ada karena sangat terasa manfaatnya untuk masyarakat,” ujar Usman yang mengeluh sakit tangan, lalu mendatangi lokasi berobat gratis TMMD yang membuka posko di desanya. Di mata Bupati Aceh Barat HT Alaidinsyah, program TMMD dinilai bukan hanya membangun secara fisik. Namun juga dapat memacu menghidupkan perekonomian penduduk daerah pedalaman.

Menurutnya pemilihan Desa Balee sebagai desa sasaran kegiatan TMMD karena selama ini desa tersebut jauh dari perkotaan. Diharapkan dengan pembukaan jalan-jalan baru dan pembangunan infrastruktur desa lainnya, dapat membuka akses bagi warga memasarkan hasil pertanian penduduk.

Harapan ini pula yang digantungkan Nurhayati, Toimah dan Abbas Suwardi, penduduk Desa Pasir Putih yang selalu menanti tibanya keajaiban perubahan hidup pascahadirnya kegiatan TMMD di desa mereka. “Kami selalu mengantungkan harapan dan impian, suatu waktu nanti rumah kami tidak lagi seperti ini berlantai tanah dan dinding yang sudah lapuk,” ujar Nurhayati dengan nada terharu.(rizwan) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id