Seni Pertunjukan Aceh, Apa Kabar? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Seni Pertunjukan Aceh, Apa Kabar?

Seni Pertunjukan Aceh, Apa Kabar?
Foto Seni Pertunjukan Aceh, Apa Kabar?

Oleh Teuku Kemal Fasya

ALHAMDULILLAH, di tengah kelesuan seni pertunjukan di Aceh, Kemah Seniman Aceh (KSA) ke-5 berhasil dilaksanakan pada 14-16 April lalu. Ucapan syukur patut diungkapkan meskipun segala keterbatasan dan derai keringat menjadi tumbalnya. Meskipun acara ini ditopang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dengan anggaran minimal, acara dwi tahunan ini berhasil digelar.

KSA menjadi wadah berkumpul komunitas seniman Aceh, pegiat kebudayaan, dan masyarakat penikmat seni baik dari Aceh maupun luar Aceh. Kafilah dari Dewan Kesenian Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara juga ikut hadir. Rupa-rupa kegiatan baik pementasan musik, drama, dialog kesenian, pameran seni rupa, workshop pementasan singkat juga dilaksanakan.

Memang ada juga kritik bahwa seni pertunjukan lebih mendapatkan ruang, sedangkan seni rupa hanya seperti sosok “Mante”, kecil dan cepat-mencelat hilang dari apresiasi. Kritik juga membahana karena booklet yang seharusnya bisa menjadi legacy tidak juga dibuat. Namun asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya baik seni pertunjukan terutama teater dan seni rupa sama-sama meranggas nasibnya. Keduanya tidak cukup hidup di Aceh.

Baru saja kejadian ketika Pemko Subulussalam membuat monumen, tapi mendapat protes dari sebagian elemen masyarakat karena dianggap menghadirkan berhala di tanah Hamzah Fansury itu. Itu terjadi karena seni rupa belum cukup dipahami dan mudah diftnah oleh visi non-seni sehingga menenggelamkan Aceh ke titik terendah peradaban. Sculpture is not for a worshiper. Tidak ada yang mau menyembah monumen. Lagi pula keyakinan masyarakat pun tak sedangkal itu.

Demikian pula seni teater. Di Aceh sendiri, Prodi Teater ada di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, tapi peminatnya bagaikan ikan depik di Danau Lut Tawar, sedikit dan semakin susah dicari. Bahkan angkatan 2016 peminatnya tak sampai 10 orang. Banyak masalah yang terjadi, baik dari sisi pengelolaan internal pendidikan tinggi itu sendiri atau problem makro yang gejalanya mulai terjadi di banyak tempat.

Bukan pilihan utama
Di mata umum, teater bukan lagi pilihan utama bagi penikmat seni pertunjukan mengisi waktu luang, rekreasi, spiritual, dan intelektualnya. Perkembangan teknologi film dan industri visual yang semakin mudah, murah, dan indah di sana-sini ikut membentuk kematian teater. Manusia modern telah menyuling peradaban seni pertunjukan hingga hanya diterima pada aspek fungsionalnya; menonton, terhibur, dan kemudian kembali sepi.

Perkembangan teknologi visual dan film telah membentuk manusia seperti didefinisikan Jacques Ellul, filsuf Perancis sebagai masyarakat teknologis (technological society). Masyarakat teknologis adalah kita saat ini, terhunjam dalam pelbagai hal teknis dan semakin jauh dengan dimensi humanis dan kultural manusia yang kompleks dan plural.

Terkait tentang kepastian, dunia film menjanjikan hal itu; bersih dan pasti. Adegan dan dialog yang keliru bisa retak dan setelah itu masih mengalami proses editing pascarekaman. Namun dalam dunia teater hal itu tidak terjadi. Integritas sebuah teater ditunjukkan dengan adegan dan dialog yang panjang dan rumit tanpa kekeliruan walau sebesar zarah pun. Jika kekeliruan terjadi, politik improvisasi harus bisa menutupnya rapat-rapat dari mata sang penonton. Jika tidak, dunia tontonan kiamat.

Di dunia teater, proses yang tak bertepi dan tak terprediksi harus dijalani. Adapun dunia film “kepastian” (dalam cerita, scene, karakter) dan preditabilitas menjadi makanan sehari-hari. Film komedi Empang Breuh atau Cinta Meudabel contohnya, telah mencuri para pengunjung seni pertunjukan Aceh. Mereka tak harus hadir ke gedung pertunjukan dan harus mengeluarkan biaya.

Pada era 1990-an hingga awal 2000-an saya masih merasakan nikmat menonton pertunjukan teater ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta. Sebagai penonton, kita dapat bercakap-cakap dengan aktor termasuk dengan sutradara setelah pertunjukan usai. Kita memiliki ruang untuk menonton dan berwacana setelah menikmati pertunjukan yang syahdu atau menggelegar itu. Intimasi antara penonton dan pemain terjadi di dunia teater.

Dalam dunia film, penonton adalah ombak yang terombang-ambing dan kemudian terempas di tepian. Siapa yang mengenal Mark Wahlberg, Sophie Marceau, atau Robert de Niro? Apakah Anda pernah berkorespodensi dan kemudian dijawab oleh mereka? Meskipun Anda penonton maniak film-film mereka dan menghapal dialog-dialognya luar kepala, Anda tidak intim secara personal dengan mereka dan vice versa.

Ketika saya bersama teman-teman harus “lari” ke Solo karena pementasan Kiai Kanjeng dilarang pentas di Yogyakarta, ada kepuasan spiritual yang membuncah, meskipun harus pulang dini hari lagi ke Yogyakarta. Hal itu terjadi akibat proses reprositas yang subtil, mengikat batin penonton dan komunitas pertunjukannya. Kata-kata penyemangat yang disampaikan Emha Ainun Nadjib kepada kami sang penonton di akhir pementasan di Taman Budaya Solo adalah doa yang dibawa pulang padahal badan dan tulang sudah terasa gemeretak.

Tidak membahagiakan
Saat ini apa lagi yang diharapkan dari dunia teater? Secara finansial dunia teater tidak membahagiakan. Para teaterawan tidak kaya-raya seperti para pematung dan perupa. Kalau ada contoh sukses seperti Teater Koma, Teater Garasi, atau Bengkel Teater (yang juga semakin sunyi sepeninggal WS Rendra), itu hanya sepenggal cerita dari sejumlah kecil teater yang digerakkan dengan penuh idealisme selama puluhan tahun, sembari belajar memperbaiki manajemen seni pertunjukan.

Bicara tentang manajemen teater, itu lagu lama yang usang. Sebuah wacana yang tak kunjung ada upaya reparasi yang serius. Di Aceh sendiri, selain Teater Kosong Ampon Yan yang baru mementaskan A Wak Tam Ong yang menjadi satirisme dan kebingungan menghadapi situasi sosial yang semakin kompleks, tidak ada lagi komunitas teater yang bisa bertahan.

Dunia teater Aceh hanya menemukan lorong kehidupannya secara komedis-slapstick, dan tentu susah membuat pementasan teater modern dengan tema-tema non-realis. A Wak Tam Ong sendiri adalah pementasan yang dilakukan dengan gratis karena ditopang oleh pemerintah. Bagaimana jika pementasan itu berbayar seperti yang dilakukan Teater Koma dengan Opera Ikan Asin-nya, apakah ada penontonnya?

Dunia teater di Aceh memang mengalami pemiskinan, baik secara harfiah dan metaforis. Praktik seni dengan eksplorasi tubuh seperti teater masih dilihat dalam kacamata syariat Islam atau sistem dogmatis lainnya yang kemudian disalahartikan sebagai wujud bid’ah, kesesatan, pendangkalan moral, dsb.

Politisasi agama seperti itu akhirnya memaksa komunitas teater memolitisasi pertunjukannya dengan embel-embel “teater islami”, teater dakwah, dan pelbagai penamaan pejoratif. Ruh teater sebagai eksposisi seni pertunjukan (performance art) yang paling komplit harus menurut ukuran estetika, artistika, dan dramatika yang tepat dan kuat. Ia harus menjadi bagian dari blok sejarah kehidupan masyarakat.

Harus disadari bahwa pertunjukan teater bukan hanya sandiwara yang menuntut teknik dan kematangan perwatakan sebagai hiburan. Ia adalah penanda dalam kebudayaan masyarakat, dan sedapat mungkin ia menjadi isme-isme baru yang menghadirkan perenungan dan imajinasi percakapan yang lebih luas, bahkan setelah pementasan telah berlalu.

Seperti kata Putu Wijaya, teater harus menuntut kegelisahan intelektual dari pelakunya. Ia akhirnya tidak hanya diarahkan untuk mengembangkan imajinasi tentang cerita dan tubuh, tapi juga akal budi. Teater menjadi poros spiritual baru yang meneguhkan pesona dan tuntunan bagi masyarakatnya untuk melihat kehidupan dan masa depan. Jika tidak, ia akan menuruti takdir seperti bait puisi Sitor Situmorang, “bunga di atas batu, dibakar sepi”.

* Teuku Kemal Fasya, Dewan Pakar Dewan Kesenian Aceh. Email: [email protected] (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id