Pionir VIII dan Peluang Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pionir VIII dan Peluang Aceh

Pionir VIII dan Peluang Aceh
Foto Pionir VIII dan Peluang Aceh

Oleh Zulfata

SAAT ini, kegiatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (Pionir) VIII sedang berlangsung di Aceh, tepatnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Kegiatan yang dibuka oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, pada 26 April 2017 lalu, diikuti oleh 2.250 mahasiswa dari 55 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia (www.kemenag.go.id).

Adapun kegiatan yang diperlombakan antara lain riset (penelitian Ilmiah), kaligrafi, tahfiz Alquran, debat bahasa Arab/Inggris, musikalisasi islami, desain busana muslim, tenis meja, catur, panjat tebing hingga sepakbola. Kita patut mengapresiasikan kinerja civitas akademik UIN Ar-Raniry yang telah berusaha secara optimal, sehingga Pionir VIII 2017 ini dapat digelar di bumi Serambi Mekkah. Hasil akhir dari kegiatan Pionir VIII 2017 dapat dijadikan sebagai pemetaan awal dalam memahami wajah generasi Aceh kedepan sebagai pelopor peradaban Aceh. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, sementara ini generasi muda Aceh setelah masa Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) hanya menang di kreativitas pribadi atau kelompoknya, sehingga belum mampu merambah dalam bentuk kebijakan publik bagi kemaslahatan secara massif.

Berbeda dengan generasi muda di masa PUSA yang selalu aktif mengontrol kebijakan guna terwujudnya kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Dalam konteks ini dapatkah percikan-percikan Pionir VIII 2017 menciptakan semangat generasi muda Aceh yang lebih baik dari masa PUSA?

Argumentasi di atas tidaklah bersifat spekulatif atau utopis, melainkan sebuah argumentasi yang bersifat provokatif positif agar momen Pionir VIII dapat dijadikan sebagai batu loncatan semangat juang generasi Aceh dalam bentuk “perjuangan ilmiah”, sehingga generasi Aceh tidak hanya menguasai “perang fisik”, tetapi perang intelektual juga harus dikuasai.

Pusat ilmiah
Kegiatan akbar Pionir VIII 2017 di Aceh secara tidak langsung mengingatkan kita pada masa aktivitas ilmiah Hamzah Fanshuri dan eksistensi Jami’ah Baiturrahman yang telah dicatat oleh sejarah bahwa Aceh pernah menjadi pusat ilmiah di tingkat internasional.

Pada masa itu, Aceh pernah menjadi pusat kajian ilmiah berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang diikuti oleh peminat ilmu (pelajar) yang berasal dari berbagai negara, di antaranya adalah negara Arab Saudi, India, dan Turki. Sungguh tidak berlebihan jika mengatakan bahwa melalui aktivitas Pionir VIII 2017 ini, Aceh berpeluang besar untuk mengembalikan kejayaan ilmiah seperti yang terjadi pada masa kerajaan Aceh tempo doeloe.

Setidaknya ada tiga peluang bagi Aceh atas pelaksanaan Pionir VIII 2017 ini: Pertama, peluang persuasif. Hal ini berpotensi untuk mempengaruhi tamu-tamu undangan dari PTKIN di Indonesia bahwa daerah Aceh nayaman dan tentram untuk dikunjungi. Seiring dengan itu, tanpa dipromosi, Aceh akan dinilai langsung oleh masyarakat di luar Aceh. Penilaian tersebut sejatinya tidak hanya dari sisi aktivitas Pionir VIII 2017, melainkan dari sisi ketertiban lalu lintas, penerapan syariat Islam, hingga panorama wisata di Aceh.

Berkaitan dengan argumentasi ini, terdapat kata bijak menyatakan bahwa masyarakat yang perperadaban adalah masyarakat yang mampu menjadikan setiap momen sebagai peluang pembangunan bagi daerahnya, dan disinilah kita akan menerima penilaian nantinya, apakah masyarakat Aceh telah berperadaban atau tidak dalam pandangan masyarakat di luar Aceh;

Kedua, peluang kontemplatif. Bisa dijelaskan bahwa di balik perayaan Pionir VIII 2017 tersirat suatu semangat perenungan dan introspeksi diri tentang di mana posisi Aceh. Sehingga ke depannya pemerintah dan masyarakat Aceh selalu siap menjadi tuan rumah dalam berbagai kegiatan Nasional. Sudah saatnya Aceh keluar dari persoalan “kesibukan internal” dan mulai bangun serta tampil untuk unjuk diri di berbagai event Nasional.

Hal ini tentunya akan mendorong semangat generasi Aceh dalam mengembangkan bakat-bakatnya yang terpendam. Tanpa disadari, terkadang masih adanya generasi Aceh berbakat yang terdapat di berbagai pelosok desa, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk bersaing menuju pentas Nasional, dikarenakan kurangnya informasi yang mereka ketahui;

Ketiga, peluang kompetisi. Konteks ini tersimpan makna bahwa tanpa kompetisi tidak akan diketahui siapa pemenang dan bagaimana kemampuan yang berkompetisi. Terdapat anggapan bahwa berbicara kompetisi hanya bicara kalah dan menang, Sejatinya argumen yang sedemikian tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya pula salah. Tetapi, substansi kompetisi adalah tingkat usaha dan kerja keras serta bukan pula bicara hasil, karena hasil merupakan korelasi (sebab akibat) dari usaha dan kerja keras. Begitu juga dengan generasi muda Aceh yang ikut dalam kegiatan PIONIR VIII tersebut, mampukah mereka membuktikan kepada masyarakat Aceh bahwa usaha dan kerja keras mereka telah optimal?

Jika di Pionir VIII 2017 ini tidak adanya pemenang dari kontingen Aceh, maka ini menjadi catatan bagi UIN Ar-Raniry dan pemerintah Aceh. Sebaliknya, jika pemenang banyak diraih oleh kontingen Aceh, maka sudah diwajibkan untuk terus mencetak generasi-generasi pemenang pada kompetisi lain di masa yang akan datang. Insya Allah, Aceh akan jaya jika generasinya gigih dalam berkompetisi, dapat dipastikan bahwa budaya optimisme akan menjadi ciri khas dari budaya generasi muda di Aceh.

Sportif berprestasi
Pionir VIII 2017 yang berlangsung selama satu minggu tersebut akan menjadi saksi bisu dalam proses pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Aceh. Hal ini sesuai dengan tema kegiatan tersebut, Sportif dalam Prestasi Damai dalam Keberagaman. Kemenangan kompetisi bukanlah segala-galanya, bila perilaku korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) tumbuh subur dalam kompetisi Pionir VIII 2017 tersebut. Melalui tulisan ini, penulis mengharapkan agar praktik lapangan dari Pionir VIII 2017 tidak bertolak-belakang dengan tema yang ditampilkan.

Tumpuan harapan masyarakat Aceh melalui kegiatan ini sejatinya berada di tangan para peserta Pionir VIII 2017 asal kontingen Aceh. Berkompetisilah secara sehat dan sportif, dengan segenap kemampuan, sehingga keluar sebagai pemenang secara ksatria. Ini, tentunya, bukan berarti kontingen selain Aceh tidak boleh menang, Tetapi, sebagai masyarakat Aceh, argumentasi seperti itu dianggap wajar dan alamiah dalam memberikan motivasi terhadap kontingen asal Aceh.

Bagi kontingen di luar Aceh, kami ucapkan selamat datang dan selamat menikmati situasi intelektualisme, keagamaan dan politik di Aceh. Fokus utama tulisan ini sejatinya hanya bertujuan sebagai instrumen penyatu dan terjalinnya silaturrahim bagi seluruh kontingen yang berkompetisi dalam Pionir VIII 2017. Selamat berkompetisi!

* Zulfata, Sud., Kepala Badan Pengelola Latihan HMI Banda Aceh periode 2016-2017, mantan peserta Cabang Riset pada Pioner VII 2015 di Palu, Sulawesi Tengah. Email: [email protected] (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id