Aceh Harus Miliki Asrama untuk Mahasiswa di Yogya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aceh Harus Miliki Asrama untuk Mahasiswa di Yogya

Aceh Harus Miliki Asrama untuk Mahasiswa di Yogya
Foto Aceh Harus Miliki Asrama untuk Mahasiswa di Yogya

Gubernur Zaini Abdullah tiga hari lalu bersama Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X membahas tentang sengketa asrama mahasiswa Aceh di Jalan Poncowinatan Nomor 6 Yogyakarta. Dalam pertemuan itu Gubernur Zaini menjelaskan bahwa mahasiswa Aceh sangat membutuhkan asrama tersebut sebagai akomodasi selama belajar di sana. Dan, Sultan Yogya ini menyatakan akan menelusuri asal-usul masalah lahan tersebut dan akan membantu mencari solusinya. Sesuai permintaan Sultan, Gubernur Zaini mengatakan Pemerintah Aceh akan segera mengirim surat resmi kepada Sultan Yogya agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti. “Semoga soal asrama ini segera selesai,” kata Gubernur Zaini.

Saat ini para mahasiswa Aceh yang menempati asrama tersebut selama menuntut ilmu di Yogyakarta, benar-benatr sedang dilanda kegelisahan. Bahkan, mereka sudah disomasi untuk segera “angkat kaki” dari asrama yang sudah dihuni para mahaiswa Aceh sejak tahun 1963 atau 54 tahun silam.

Para mahasiswa ini telah dengan berbagai cara berusaha mempertahankan asrama itu agar tak jatuh ke pihak lain. Usaha-usaha yang dilakukan mahasiswa untuk mempertahankan asrama itu antara lain dengan melakukan unjukrasa guna mengetuk hati Pemerintah Aceh supaya serius mengurus soal asrama yang sudah bersengketa sejak beberapa tahun terakhir.

Bangunan yang dikenal dengan Asrama Ponco itu memang statusnya Hak Guna Bangunan (HGB). Lalu, pada awal tahun 2016 seorang warga menggugat status asrama itu. Dan sang penggu8gat menang setelah belasan kali persidangan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Atas keputusan itu, para mahasiswa Aceh yang digugat langsung menyiapkan berkas banding peerkara itu.

Ya, dengan duduk perkara seperti itu, siapapun tak mungkin melakukan campur tangan lagi, kecuali menunggu keputusan pengadilan tinggi dan terakhir ke Mahakamah Agung. Jadi, sambutan Sultan Yogyakarta atas “curhatan” Gubernur Aceh, tentu harus kita lihat sebagai pernyataan simpatik saja kepada mahasiswa Aceh yang sedang belajar di Yogyakarta.

Sesungguhnya, Pemerintah Aceh sudah sangat terlambat menyikapi sengketa asrama itu. Harusnya, ketika beberapa tahun lalu mahasiswa Aceh mengingatkan tentang bakal ada gugatan, Pemerintah Aceh segera turun tangan sebelum sempat dibawa ke meja hijau. Ya, kini “nasi sudah jadi bubur”. Apa boleh buat.

Nah, satu hal yang perlu dicatat banyak mahasiswa Aceh yang menuntut ilmu di Yogyakarta dan kota-kota besar lainnya sangat membutuhkan akomodasi murah. Oleh sebab itu, Pemerintah Aceh harus punya program untuk pengadaan asrama mahasiswa di beberapa kota yang paling diminati putra-putri Aceh. Antara lain, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.

Ini penting, mengingat subsidi atau beasiswa yang diberi kepada mahasiswa dan pelajar berprestasi kita di Aceh dan luar daerah sangat kecil. Jadi, sekali lagi, perlu dipikirkan pengadaan akomodasi murah bagi pelajar dan mahasiswa asal Tanah Rencong yang belajar atau kuliah di luar Aceh. (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id