Warga Jepang Gemar Menolong | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warga Jepang Gemar Menolong

Warga Jepang Gemar Menolong
Foto Warga Jepang Gemar Menolong

OLEH JEFRIZA MSc, Mahasiswa Program Doktoral pada Universiti Sains Malaysia, melaporkan dari Kyoto University, Jepang

BEPERGIAN sendiri dari Bandara Penang (Malaysia) ke Kansai (Jepang) dengan transit di Kuala Lumpur, ini kali kedua saya lakukan ke kota yang jauh, setelah melawat ke Paris, Helsinki, dan Amsterdam.

Penerbangan selama sembilan jam dari KLIA2 ke Kansai sangatlah menarik, mengingat Kansai termasuk bandara tercanggih di dunia.

Kansai (KIX) International Airport adalah pulau buatan yang berfungsi sebagai bandara internasional, terletak di tengah-tengah Teluk Osaka atau 38 kilometer barat daya Stasiun Osaka.

Tujuan saya ke Jepang adalah untuk presentasi oral mengenai penggunaan radar data untuk gempa dan longsor di Aceh yang diadakan di Westin Miyako Hotel, Kyoto, pada 27-28 April 2017.

Karena saya pergi sehari sebelumnya, sehingga berkesempatan bepergian ke tempat seorang sahabat di Kyoto University, Ikhsan yang pernah satu sekolah S2 dengan saya di Universiti Sains Malaysia.

Saat ini Ikhsan sudah berkeluarga dan punya seorang anak yang sedang kuliah S3 di Universitas Kyoto.

Berbekal aplikasi WhatsApp dan messenger, Ikhsan memberi arahan bagaimana harus naik kereta api menuju kampusnya. Saya pun naik kereta api resmi Pemerintah Jepang, JR Kansai Airport, ke Kyobashi Station di Osaka.

Sesampai di Kyobashi Station, saya beli minuman dan onigiri (nasi hangat yang dipadatkan berbentuk segitiga, bulat, atau seperti karung beras), dilanjutkan dengan membeli tiket kereta api di mesin.

Saat itu sedang ramai pengunjung. Dengan melihat peta besar tujuan dan harga tiket ke Obaku yang tercantum di atas mesin, saya bayar tiket seharga 390 yen. Kemudian saya tekan tombol harga 390 yen dan memasukkan koin 500 yen. Sejumlah kembalian dan tiket pun keluar.

Akan tetapi, karena banyak koin yang berbeda jumlah dan ukurannya mulai 1, 10, 20, 50, 100 yen, dan saya sedang memegang peta, hp, plus tas, akibatnya sejumlah koin jatuh dari genggaman saya dan berserakan di lantai.

Di luar dugaan saya, dengan sigap dan spontan ada pelajar lokal yang bantu mengumpulkan koin-koin tersebut di saat stasiun sedang ramai-ramainya dengan pengunjung.

Bukan kali itu saja saya mendapat bantuan spontan. Di minimarket dalam kampus pun, kasir yang ramah juga membantu apabila pelanggan, termasuk saya, sedang kesusahan. Sikap ramah, mudah menghargai, dan gemar menolong orang lain itu sangatlah penting bagi pengungjung atau turis yang bertamu ke Jepang.

Selain itu, para pelajar yang beragama Islam disikapi dengan baik, sehingga kami dapat menunaikan shalat di surau kampus, bergabung dengan mahasiswa dari negara lainnya seperti Malaysia, Mesir, Yordania, dan sebagainya. Sejauh yang saya amati, pendeknya toleransi beragama sangat baik di Universitas Kyoto ini.

Esoknya saya mempresentasikan kegunaan radar data untuk menganalisis gempa bumi yang terjadi di Pidie Jaya akhir tahun lalu. Alhamdulillah, presentasi ini pun berjalan lancar dan mendapat respons positif dari para peserta.

Pendeknya, selain gempa yang memicu tsunami pada 26 Desember 2004, fenomena gempa darat yang bermula dari soil liquefaction (pencairan tanah akibat jenuh) di Pantai Manohara, Pidie Jaya, juga menarik perhatian ahli-ahli geologi dan kegempaan di Jepang. Hmmm… Aceh selalu menginspirasi, termasuk dalam hal penyebab dan eskalasi bencananya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id