RSUZA dan FK Unsyiah Bahas Soal Kematian Ibu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

RSUZA dan FK Unsyiah Bahas Soal Kematian Ibu

RSUZA dan FK Unsyiah Bahas Soal Kematian Ibu
Foto RSUZA dan FK Unsyiah Bahas Soal Kematian Ibu

BANDA ACEH – Bagian Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh dan Fakultas Kedokteran (FK) Unsyiah, Kamis (27/4) menggelar diskusi kesehatan tentang angka kematian ibu di rumah sakit tersebut. Kegiatan itu bekerja sama dengan Family Medicine dari Universitas McMaster, Kanada.

Diskusi tersebut dihadiri puluhan spesialis obgyn, bidan, dan dokter umum di Aceh, dengan tema “Maternal Mortality in Aceh. Why is Indonesia Struggling and How can You Help?” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Kematian Ibu di Aceh. Mengapa Indonesia masih Berjuang (mengurangi angka kematian Ibu) dan bagaimana peran anda.

Pembicara utama pada acara itu, Dr dr Mohd Andalas SpOG dari bagian Obgyn RSUDZA memaparkan gambaran kesehatan ibu di Provinsi Aceh saat ini, dimana angka kematian ibu di Aceh pada tahun 2016 mencapai 136 kasus. “Target angka kematian ibu di Aceh harus kurang dari 112, tapi tahun 2016 mencapai 136 kasus. Artinya angka itu tinggi,” jelasnya, dan menyebut hal itu mungkin dikarenakan distribusi bidan belum merata dan performanya belum optimal.

Dia menambahkan, target World Health Organization (WHO) yaitu 100 bidan per 100.000 penduduk. Sedangkan saat ini jumlah bidan di Aceh sudah melebihi target WHO, yaitu sekitar 200 bidan per 100.000 penduduk. “Artinya jumlah tenaga medis yang lebih dari cukup di Aceh itu, belum mampu mengurangi angka kematian ibu di Aceh,” kata Andalas.

Sementara itu, pemateri lainnya dalam diskusi kesehatan itu dari Universitas McMaster, Kanada, Dr Keyna Bracken mengatakan, kematian ibu di Aceh umumnya diakibatkan oleh pendarahan pascapersalinan dan penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi) saat kehamilan. “Dua penyebab ini sebenarnya bisa dideteksi sejak awal dan dapat dicegah,” ujar Bracken.

Dia juga menekankan pentingnya tenaga kesehatan, baik bidan maupun dokter umum di layanan primer, untuk mampu mengenali tanda-tanda bahaya kehamilan sehingga kematian ibu dapat dicegah. “Masyarakat juga harus tersosialisasi dengan baik, terutama ibu hamil dan keluarganya untuk mengenali tanda-tanda bahaya itu,” jelasnya.

Acara tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Hanif, Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dr Warqah Helmi, Kepala BKKBN Provinsi Aceh, dr M Yani MKes dan perwakilan dokter dari semua bagian di RSUDZA.(fit) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id