Mencari Jejak Kamar Tidur Nabi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mencari Jejak Kamar Tidur Nabi

Mencari Jejak Kamar Tidur Nabi
Foto Mencari Jejak Kamar Tidur Nabi

OLEH Hj NUR ASIAH IBRAHIM SAg, Pembimbing Ibadah Umrah asal Aceh, melaporkan dari Kota Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi

INFORMASI tentang indahnya kisah hidup Nabi Muhammad saw yang saya terima sejak kecil sampai hari ini, baik melalui cerita lisan maupun dari sejumlah referensi, membuat saya saat berada di dalam Masjid Nabawi seperti memasuki lorong waktu.

Hati, pikiran, dan perasaan saya seakan terlempar jauh ke belakang, membayangkan betapa indahnya tempat ini ketika Rasulullah dulunya beserta keluarga dan sahabatnya tinggal dan beraktivitas di sini.

Saat berada di Raudhah, tiba-tiba hati saya terbetik membayangkan kamar tidur Rasulullah saw yang dalam catatan sejarah disebut begitu sederhana. Padahal, dengan kekuasaan dalam genggamannya, Nabi Muhammad dapat saja menyiapkan tempat tinggalnya yang lenih mewah dari istana raja-raja Negeri Rum. Tapi beliau tidak melakukan itu, sebaliknya memilih hidup sederhana.

Dalam catatan sejarah memang disebutkan bahwa Rasulullah saw dan keluarganya tinggal tak jauh dari dinding Masjid Nabawi. Saat itu bangunan masjid suci ini tak sebesar sekarang. Kamar Rasulullah dan istrinya memang berdempetan dengan dinding masjid, sehingga ketika Nabi hendak ke masjid, baik untuk shalat atau bertemu sahabatnya, akses dari tempat tinggal Nabi ke Masjid Nabawi begitu dekat.

Sejarah mencatat, tak hanya Nabi Muhammad yang tinggal dekat Masjid Nabawi. Sejumlah sahabat Nabi saw lainnya yang tidak memiliki keluarga yang dikenal dengan ahlusshuffah juga tinggal di sini.

Ketika kemudian Masjid Nabawi diperluas beberapa kali dan luasnya menjadi berpuluh kali dari luas bangunan awalnya, maka dapat dipastikan lokasi yang dulu menjadi kamar tidur Rasulullah saw tersebut telah berada dalam Masjid Nabawi.

Lalu di mana salah satu lokasi kamar tidur Rasulullah saw dulu?

Untuk mencari jejak kamar Rasulullah tidaklah terlalu sulit. Salah satunya yang sangat mudah dipastikan adalah rumah atau kamar Ummul Mukminin Saidatina Aisyah radhiallahu’anhu, salah satu istri Nabi Muhammad. Di kamar Saidatina Aisyah inilah di sela-sela waktunya Nabi Muhammad beristirahat.

Lantas, di mana posisi kamar Saidatina Aisyah itu? Sejumlah sumber sejarah yang mu’tamat menyebutkan bahwa posisi kamar Saidatina Aisyah itulah posisi yang sekarang menjadi makam Rasulullah saw. Berada di sudut kiri arah kiblat masjid mulia ini.

Ketika Nabi Muhammad wafat, beliau mewasiatkan dikuburkan di dalam kamarnya sendiri, yaitu kamar yang menjadi tempat tinggal Nabi saw dengan istrinya, Siti Aisyah. Ketika itu, meski telah menjadi kuburan, Aisyah tetap tinggal di kamar tersebut dan berharap ketika wafat nanti beliau juga dikuburkan di sini, dekat sang Nabi.

Tapi, beberapa waktu kemudian keadaan berubah. Ketika Abu Bakar sahabat Nabi saw yang juga ayahanda Saidatina Aisyah mendekati ajal, beliau minta izin kepada Aisyah agar dapat dikuburkan di samping Nabi saw dan Aisyah pun mengizinkannya.

Kemudian, ketika Umar bin Khattab, khulafaur rasyidin kedua, mendekati ajal, beliau juga minta izin Aisyah untuk dikuburkan di samping kedua sahabatnya itu. Sejumlah sumber sejarah menyebutkan, Aisyah begitu dilematis dengan keingan Umar itu, karena ia pun sudah berencana untuk dikuburkan di samping suami dan ayah yang sangat dicintainya itu. Tapi karena rasa hormatnya kepada Umar bin Khattab, maka Aisyah juga mengizinkannya.

Posisi kuburan ketiga orang yang sangat dimuliakan oleh umat Islam di dalam Masjid Nabawi itu seperti posisi shalat antara imam dan makmum. Artinya, Abu Bakar jadi makmumnya Nabi saw, kemudian Umar bin Khattab menjadi makmumnya Abu Bakar. Pada awalnya, ketiga makam mulia ini berlokasi di luar Masjid Nabawi, tetapi setelah adanya perluasan dan perbaikan masjid makam Nabi Muhammad saw dan kedua sahabat itu masuk dalam masjid.

Sejarah mencatat, beberapa kali ada pihak yang coba mencuri jasad Nabi Muhammad. Karena itu, makam Rasulullah sejak Pemerintahan Bani Ummayyah, Umar bin Abdul Aziz (91 H) dibangun sekat mukhamas–tembok segi lima sebagai benteng yang tingginya 6,5 m. Mukhamas ini tak beratap dan tak berpintu agar orang sulit melihat ke dalam. Untuk mengamankan dari pencurian, atas inisiatif Sultan Nuruddin (577 H), makam Rasulullah sekelilingnya dicor dengan timah.

Jika kita kunjungi Masjid Nabawi saat ini, di belakang mimbar ada jalan untuk memberi kesempatan bagi peziarah mengunjungi makam Rasulullah, namun tak dibolehkan shalat di area ini karena di depan imam. Posisi kuburan ditandai dengan kubah hijau di atasnya. Kubah hijau yang dikenal dengan nama Kubah Khudra itu dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud (1233 H). Kini menjadi ciri khas atau identitas Masjid Nabawi.

Para pembaca, bila Anda berkesempatan berkunjung ke Madinah, singgahlah dan rasakan aura spiritual kamar tidur sang Rasul sekalian berziarah ke makamnya. Ya, berziarah ke makam mulia ini serasa melakukan tapak tilas ke kamar Rasulullah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa’ala ali sayyidina Muhammad.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id