Fenomena Matahari Sabit dan Khusyuknya Shalat Kusuf | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Fenomena Matahari Sabit dan Khusyuknya Shalat Kusuf

Foto Fenomena Matahari Sabit dan Khusyuknya Shalat Kusuf

MASYARAKAT Aceh, pagi kemarin menyaksikan peristiwa langka–bahkan bisa jadi peristiwa sekali seumur hidup–berupa gerhana matahari. Meski bukan berada di lintasan gerhana matahari total (GMT), tetapi fenomena gerhana matahari sebagian (GMS) yang disaksikan masyarakat Aceh, kemarin memunculkan decak kagum atas bukti kekuasaan Allah SWT. Masjid, meunasah, dan pesantren yang melaksanakan shalat gerhana (shalat kusuf) penuh sesak dengan jamaah.

Tepat pukul 06.50 WIB, Rabu (9/3) bulan menyembul dan membentuk matahari sabit. Puncaknya pukul 07.20 WIB tatkala pergerakan bulan membentuk piringan dan menutup 70-76 persen matahari di langit Aceh.

Serambi merekam peristiwa alam tersebut bersama ratusan warga yang menyemut di Gedung Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Ulee Lheue, Banda Aceh.

Usai shalat Subuh berjamaah, warga yang dipawangi Badan Hisab dan Rukyah Kanwil Kemenag Aceh beserta tim BMKG berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. TDMRC merupakan gedung mitigasi tsunami di bawah Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh.

Tak tanggung-tanggung, enam teleskop dan empat teodolik milik Kanwil Kemenag dan BMKG diboyong guna menyaksikan peristiwa tersebut. Berjejer bertengger di atas atap gedung tiga lantai itu. Penyelenggara juga menyediakan 200 kacamata khusus kepada pengunjung. Nyala antusiasme warga nyata membayang. Mengantre lantaran jumlah pengunjung yang datang melebihi kacamata yang tersedia pun tak menjadi masalah.

Sebagian menyulap klise film atau memakai kacamata dan helm rayben untuk pelindung. Selain dijubeli fotografer profesional, pasukan tongsis pun tak ketinggalan beraksi mengabadikan peristiwa langka tersebut.

Ya, selalu ada cara buat orang yang kesulitan tapi kreatif. Mereka datang dari berbagai kalangan dan lintas generasi. Antusiasme warga menyaksikan peristiwa tersebut secara langsung merupakan bukti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Waktu bisa mengubah banyak hal. Tak seperti tatkala Aceh terakhir kali dillintasi GMT puluhan tahun silam, kini tak ada ketakutan yang membayangi di wajah mereka. Malah pengalaman berburu gerhana matahari menjadi momen yang ditunggu-tunggu.

“Gerhana matahari merupakan bukti kekuasaan Allah. Ini bukan ajang wisata,” ujar Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal dalam sambutannya.

Di Indonesia, Aceh merupakan wilayah yang pertama kali dilintasi gerhana matahari. Selain di TDMRC Banda Aceh, titik lainnya yang dijadikan lokasi melihat gerhana matahari yaitu KP3 Lhokseumawe.

Seperti halnya Aceh, sejumlah wilayah lain di Indonesia juga dilintasi GMS. Sementara GMT hanya melintasi 12 provinsi. Fenomena alam yang hanya terjadi di Indonesia tersebut tak hanya menyedot perhatian warganya, tapi juga mencuri perhatian warga asing yang berbondong-bondong ke negeri dengan gugusan kepulauan terbesar ini. Disaksikan dan dimaknai dengan berbagai cara tersendiri.

Usai menyaksikan fenomena gerhana matahari, ratusan warga Banda Aceh melaksanakan shalat kusuf atau shalat gerhana matahari di Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, Banda Aceh yang tak jauh dari Gedung TDMRC. Bahkan sejumlah warga terpaksa shalat di halaman masjid akibat ramainya jamaah.

Shalat di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue diimami oleh Ustaz Ivan Aulia Lc MA sedangkan khatib Ustaz Fathurrami Lc MSi, akademisi dari Unsyiah. Shalat gerhana juga dilakukan di hampir semua daerah di Aceh.

Ustaz Fathurrami yang pada intinya menyampaikan bahwa peristiwa tersebut terjadi bukan karena disebabkan adanya peristiwa lain, tapi semata-mata sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah swt. “Pagi ini kita telah menyaksikan gerhana matahari yang menampakkan keindahan, tapi peristiwa ini dijadikan sebagai bukti kekuasaan Allah,” katanya di hadapan ratusan jamaah.

Nabi mengatakan terjadinya gerhana matahari bukan karena adanya kematian manusia. “Tapi inilah bukti kebesaran Allah. Saat terjadi gerhana kita dianjurkan untuk banyak takbir dan berzikir kepada Allah untuk mengharapkan kebaikan Allah. Kejadian ini menujukkan betapa besarnya kekuasaan Allah,” ujarnya.

Shalat gerhana juga dilakukan oleh sekitar 700-an santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Babun Najah, Rabu (9/3) sekira pukul 07.37 WIB melaksanakan shalat gerhana (kusuf) di Mushalla Ponpes setempat.

Pelaksanaan shalat kusuf tersebut diimami langsung Pimpinan Ponpes Babun Najah, Drs Tgk H Muhammad Ismi Lc MA atau akrab disapa Abu Madinah. Sebelum pelaksanaan shalat, Abu Madinah memberikan arahan tata laksana shalat kusuf.

Dalam khutbahnya, Abu Madinah menyampaikan peristiwa gerhana matahari seperti yang terjadi Rabu (9/3) pagi kemarin bukanlah saat-saat untuk menggelar pesta pora dan foya-foya di tepi pantai.

Melainkan peristiwa tersebut seharusnya diisi dengan shalat gerhana, mendengar tausiyah, dan melakukan taubat kepada Allah SWT. Menurut Abu Madinah, di masa Rasulullah, hanya sekali terjadi gerhana matahari ketika Rasulullah di Madinah setelah hijrah. Ketika itu beliau keluar dengan dengan penuh khusyu’ dan dalam keadaan takut pada Allah Ta’ala.

“Apa yang dilakukan Rasul saat itu, yaitu mendirikan shalat kusuf bersama para sahabatnya. Beliau memperpanjang bacaan, rukuk dan sujudnya. Lama bacaan beliau seperti sedang membaca surat Al Baqarah,” papar Abu Madinah dalam ceramahnya.

Pimpinan Ponpes Banun Najah itu juga menyatakan, bisa jadi gerhana ini tanda awal datangnya kiamat. “Perlu dipahami, siapa yang mampu membuat sinar matahari akan terus bersinar, begitu pula dengan rembulan? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa sinar matahari yang tertutup tadi bisa kembali, begitu pula rembulan? Bukankah jika sinar keduanya itu hilang menandakan hari kiamat? Bukankah bisa jadi peristiwa ini adalah awal-awal datangnya adzab?” tegasnya.

Dalam kesempatan itu juga, Abu Madinah mengajak seluruh jamaah untuk memohon keselamatan dan bertaubat dengan sebaik-baik taubat pada Allah SWT.

“Semoga Allah menganugerahkan pada kita taubat atas dosa yang kita lakukan baik kepada sesama anak adam, maupun dosa kepada Allah,” ujarnya.

Ditemui Serambi usai pelaksanaan shalat gerhana, Pimpinan Ponpes Babun Najah menjelaskan, shalat gerhana yang dilakukan Rabu kemarin, merupakan perdana yang dipusatkan dan laksanakan secara khusuk oleh seluruh penghuni Ponpes Babun Najah. “Selama Ponpes ini berdiri, ini pertama kali shalat kusuf dilaksanakan,” tutupnya.

Sementara sebelum shalat kusuf dilaksanakan, Amatan Serambi, para santri Babun Najah menyempatkan diri menyaksikan kebesaran Allah SWT, gerhana matahari yang tampak di Banda Aceh sekitar 70-76 persen.

Santri mengaku, kacamata itu disediakan ustaz, yang dipinjamkan ke para santri bila ingin melihat gerhana. “Kami boleh pakai, cuma antrean, biar kebagian semuanya,” kata seorang santri.(rul/mas/avi) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id