Saatnya Bank Aceh Berbenah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Saatnya Bank Aceh Berbenah

Saatnya Bank Aceh Berbenah
Foto Saatnya Bank Aceh Berbenah

Bank pelat merah sekaligus bank terbesar di Aceh yang kini berevolusi menjadi Bank Aceh Syariah, kembali digoyang isu tak sedap. Bank yang dimilik oleh Pemerintah Aceh sebagai pemegang saham pengendali (PSP) serta saham dari Pemerintah Kabupaten/Kota di Aceh itu, kembali jadi bahan perbincangan. Seperti yang sudah sudah, bank ini lagi lagi ‘dibobol’ oleh orang dalam, dengan modus kredit fiktif.

Kasus ini adalah yang kesekian kalinya, dan juga telah ditangani oleh lembaga hukum, baik itu polisi maupun jaksa. Kasus terbaru menimpa Bank Aceh Syariah Cabang Tamiang. Sedikitnya enam tersangka telah dicokok Kejaksaan Negeri Aceh Tamiang, Rabu (26/4), dalam kasus kredit fiktif pegawai negeri sipil (PNS) di Bank Aceh. Lima di antaranya karyawan Bank Aceh Tamiang, yakni Hj Ma (55), Rd (53), AR (53), IDY (30), dan If (30). Seorang lagi Alfi Laila, mantan bendahara SMPN 2 Kejuruan Muda yang merupakan tersangka utama. Akibat perbuatan para tersangka, bank pelat merah itu dirugikan Rp 2.249.000.000.

Dalam tiga tahun terakhir, Bank Aceh diterpa kasus secara beruntun, antara lain mulai dari Kantor Pusat Operasional Banda Aceh, Kantor Cabang Sabang, Lhokseumawe hingga Kuala Simpang. Rata-rata bermodus kredit fiktif, ‘menilep’ angsuran, hingga kasus ala Malinda inong Dee di City Bank yang terjadi pada nasabah premium di Bank Aceh Sabang.

Dari fenomena yang terjadi secara beruntun itu, bank milik Pemerintah Aceh selaku PSP tersebut, sudah seharusnya lebih waspada. Prinsip kehati-hatian atau prudent sudah saatnya benar benar diterapkan, bukan hanya terhadap kerahasiaan dana nasabah (prudential banking), tapi lebih dari itu, prudent secara konsolidasi internal.

Kita menyadari sebagai bagian dari sistem keuangan nasional, Bank Aceh Syariah juga di bawah pengawasan ketat Bank Indonesia, serta juga dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun semua itu akan kurang bermakna jika integritas dari jajaran internal bank masih rapuh.

Kesehatan operasoional sebuah bank bukan hanya sebatas dilihat dari kemampuan CAR (capital adecuasi ratio) atau rendahnya non performing loan (NPL) atau kredit macet, tapi juga sangat tergantung dengan integritas personilnya. Masalahnya, nasabah ‘tak mau’ melihat adanya kisruh pada bank yang mereka amanahkan sen demi sen capital milik mereka.

Integritas internal itulah yang kini harus benar benar terus menerus dibenahi oleh pihak bank milik pemerintah Aceh itu. Salah satu jalan awal adalah dengan rekruitmen yang profesional, dengan menghindari seminimal mungkin neko neko lewat titipan dari pihak manapun.

Rentetan kasus yang menimpa Bank Aceh–kini Bank Aceh Syariah–dipastikan telah disadari oleh manajamen untuk menjadi pintu masuk pembenahan integritas seluruh jajaran Bank Aceh Syariah. Hanya dengan integritas yang kuat Bank Aceh Syariah dipastikan makin berkibar di masa mendatang. Karena nasabah merasa yakin, dana yang mereka amanahkan tidak dikemplang oleh oknum oknum musang di dalam Bank Aceh Syariah. Dan mereka tak perlu larut dalam euforia untuk melakukan rush tentunya. Selamat berbenah! (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id