Satpol PP Bongkar Barak Bakoy | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Satpol PP Bongkar Barak Bakoy

Satpol PP Bongkar Barak Bakoy
Foto Satpol PP Bongkar Barak Bakoy

JANTHO – Puluhan anggota Satpol PP Aceh Besar, Rabu (26/4) membongkar tiga barak pengungsi yang masih tersisa di Desa Bakoy, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Dengan pembongkaran tersebut, tanah milik pemerintah tersebut

sekarang sudah kosong. Sebab, pada Rabu, 21 Desember 2016, dua dari lima barak yang dibangun di lokasi itu juga dibongkar oleh Satpol PP Aceh Besar.

Amatan Serambi, kemarin, sekitar pukul 10.15 anggota Satpol PP Aceh Besar tiba di lokasi. Beberapa saat kemudian, mereka langsung membongkar satu persatu kamar di barak tersebut. Pembongkaran itu di-backup oleh anggota polisi dari Polsek Ingin Jaya Jaya dan Polresta Banda Aceh serta anggota Koramil Ingin Jaya.

Pembongkaran barak tersebut berjalan lancar. Saat petugas membongkar kamar-kamar di barak itu, para penghuninya hanya bisa pasrah sembari mengeluarkan barang-barang dan perabot milik mereka dari tempat tersebut. Menjelang siang, pembongkaran dihentikan sementara. Sekitar pukul 14.00 WIB dilanjutkan kembali sampai tuntas.

Kegiatan tersebut dipimpin Asisten I Setdakab Aceh Besar, Drs Mukhtar MSi selaku ketua tim penertiban terpadu. Turut hadir, Pelaksana tugas (Plt) Kadis Satpol PP dan WH Aceh Besar, Rahmadaniaty SSos MM, Kabag Humas dan Protokol Setdakab Aceh Besar, Muhammad Basir SSTP MSi, Kabag Pemerintahan Setdakab Aceh Besar, Abdullah SSos, dan Muspika Ingin Jaya.

Mukhtar yang ditemui Serambi di lokasi tersebut, kemarin, menjelaskan, kegiatan itu merupakan lanjutan dari pembongkaran pada Desember tahun lalu. “Pemkab Aceh Besar sudah sangat toleran terhadap penghuni barak di Bakoy. Sebab, setelah pembongkaran pada akhir 2016, warga yang masih tinggal di barak Bakoy, kita beri waktu sampai 31 Januari 2017 untuk mengosongkan tempat ini,” ungkap Mukhtar.

Tapi, lanjut Mukhtar, ternyata sampai sekarang masih ada warga yang menempati barak tersebut. “Jadi, jangan lagi salahkan kami saat membongkar paksa ketiga barak yang masih tersisa di Bakoy,” tegas Mukhtar. Sebab, tambahnya, waktu yang diberikan kepada warga untuk mengosongkan barak tersebut sudah cukup lama.

“Penertiban ini juga untuk menghilangkan kawasan yang terlihat kumuh di wilayah Aceh Besar. Apalagi, jalan di depan barak ini bulan depan akan dilalui oleh tamu-tamu Penas dari seluruh Indonesia,” timpal Mukhtar seraya menyatakan dalam waktu dekat pihaknya juga akan membongkar semua bangunan tanpa izin (ilegal) yang ada di sejumlah kecamatan dalam wilayah Aceh Besar, termasuk bangunan di pinggir jalan kawasan Bakoy.

“Semua kios di pinggir jalan kawasan Bakoy ini, ilegal. Tadi (kemarin-red), kita juga sudah minta pemiliknya untuk membongkar. Jika permintaan itu tak dilaksanakan, besok (hari ini-red) semua bangunan tersebut akan kita bongkar juga. Kalau perlu, pembongkarannya akan kita gunakan beko,” demikian Asisten I Setdakab Aceh Besar, Drs Mukhtar MSi.

Kasmadi Adam (52), penghuni barak tersebut mengatakan, dirinya tinggal di tempat itu karena tak memiliki rumah. Karenanya, Kasmadi yang mengaku saat tsunami 2004 tinggal di Gampong Jawa berharap pemerintah dapat menyediakan rumah untuk dirinya dan penghuni barak itu layaknya korban tsunami lain.

“Saya tetap bertahan di barak Bakoy karena saya lihat warga di barak lain juga belum pindah. Saya juga tak punya tempat tinggal lain, makanya masih menetap di sini, Jangankan rumah, tanah saja kami tak punya,” ungkap Kasmadi seraya menyatakan sekarang dirinya tak tahu harus tinggal dimana lagi.

Ungkapan hampir sama juga disampaikan penghuni barak lainnya, Zainuddin JH (45). “Saya sudah pernah pindah dari barak Bakoy dan tinggal di rumah saudara. Tapi, karena ada informasi bahwa barak ini akan dipertahankan, makanya saya kembali lagi ke mari,” ungkap Zainuddin yang mengaku sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan.

Ditanya bagaimana sikapnya terhadap pembongkaran barak tersebut, pria yang saat tsunami tinggal di Peukan Bada, Aceh Besar ini mengatakan, dirinya hanya bisa pasrah. “Ya, mau tidak mau harus kami terima, karena memang tak ada cara lain. Kami berharap gubernur baru nanti yaitu Pak Irwandi akan membantu menyediakan rumah untuk kami seperti halnya korban tsunami lain,” pungkasnya.(jal/awi) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id