Summary Migas Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Summary Migas Aceh

Summary Migas Aceh
Foto Summary Migas Aceh

Oleh Muchlis

LAPORAN perhitungan dana bagi hasil minyak dan gas (migas) 2017, keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, Aceh hanya memproduksi 1 juta barrel saja pada 2016. Produksi ini berasal dari dua kabupaten, yaitu Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

Produksi ini sangat rendah dibandingkan provinsi penghasil migas lainnya, seperti Riau dan Sumatera Selatan, yaitu 92 juta barrel dan 20 juta barrel pada tahun yang sama.

Rendahnya produksi migas Aceh, karena hampir tidak ada kegiatan eksplorasi dan peningkatan produksi dari beberapa lapangan tua (mature fields), akibat konflik politik selama puluhan tahun. Ditambah lagi, kegiatan eksplorasi setelah lahirnya MoU Helsinki pada 2005, di mana berakhirnya konflik RI dan GAM, belum menghasilkan discovery yang signifikan.

Undang-undang No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang dihasilkan dari MoU Helsinki, melahirkan Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA). Badan inilah yang mengatur segala kegiatan hulu migas Aceh.

Operator migas Aceh
Beberapa operator blok migas Aceh, di antaranya: Medco mempunyai wilayah kerja blok A, Aceh Timur. Perusahaan ini menggandeng Kris Energy, perusahaan minyak asal Singapura untuk mengembangkan blok tersebut. Gas alam Blok A akan dikomersilkan pada 2018 mendatang dengan cadangan terbuktinya mencapai 400 bcf (miliar kaki kubik). Produksi diperkirakan 60-120 mmcfd (juta kaki kubik perhari) pada puncaknya.

Pertamina EP mengelola blok NAD, Aceh Tamiang. Produksi blok ini diperkirakan 3.000 barrel per hari. Produksi dari blok NAD bisa ditingkatkan melalui penambahan data eksplorasi dalam mencari struktur perangkap baru. Selain itu, peningkatan produksi sumur-sumur mature dapat ditingkatkan dengan teknologi EOR (Enhanced oil recovery).

Blok offshore Andaman 3 yang dikelola Talisman Energy (diakuisisi oleh Repsol). Mereka memenangkan wilayah kerja (WK) blok Andaman 3 (offshore) pada 2009. Proyeksi eksplorasi (survey seismic dan pengeboran) intensive, setidaknya butuh dua sampai lima tahun untuk mengetahui cadangannya. Lalu, empat sampai lima tahap pengembangannya. Repsol akan melakukan survey seismic detail (2D/3D) pada medio 2017.

Lapangan Pase dikelola oleh Triangle Energy. Lapangan Pase ini dulunya dimiliki oleh Exxon dengan kontrak selama 30 tahun sejak 1981. Triangle Energy membeli lisensi blok ini dari Exxon enam tahun lalu. Lapangan ini mulai memproduksi gas pada 1998, dan selama 12 tahun kumulatif produksinya sebesar 183bcf (miliar kaki kubik) dari cadangan terbuktinya sebesar 498 bcf. Mereka juga akan melakukan eksplorasi tambahan mendapatkan prospek baru. Eksplorasi tambahan akan dilakukan satu atau dua tahun dari sekarang.

Blok offshore Krueng Mane yang di kelola oleh Eni, perusahaan minyak dunia dari Italia yang beroperasi di WK Krueng Mane. Menurut harian Serambi Indonesia pada 27 Agustus 2009 (sumber: http://www.URI.co.id/news/view/12497/eni-menunggu-bp-migas), perusahaan ini telah melakukan studi proyek pengembangan lapangan (POD), di mana kegiatan eksplorasi telah selesai dan nilai cadangan terbukti diketahui. Namun, tidak ada pemberitaan mengenai besarnya nilai cadangan pada blok ini dan kapan akan mulai produksi.

Ada juga perusahaan migas lainnya seperti Renco pada blok SBA (South Blok A). Blok lainnya, adalah Andaman 2, Andaman 1, Bireuen-Sigli, South Andaman dan Northwest offshore Sumatra (laut barat) yang sedang dalam proses joint study. Diharapkan, BPMA dapat mempercepat blok-blok tersebut menjadi WK eksplorasi.

Dari ekspose yang dilakukan beberapa perusahaan migas, offshore pantai timur Aceh masih menyimpan banyak potensi migas. Adapun struktur perangkap geologinya adalah fault related traps, Anticline (Inverted structure), Carbonate build-up (Analogi Arun reservoir), turbidite sands, fractured basement, dan syn-rift plays. Fractured basement dan syn-rift plays adalah konsep geologi yang belum pernah dibor untuk mendapatkan prospek baru North Sumatra Basin (onshore-offshore Aceh).

Manfaat bagi Aceh
Nilai ekonomis dari keberadaan perusahaan migas menguntungkan Aceh dari banyak hal seperti: transparansi pembagian profit produksi migas. Tanpa adanya pengawasan dari BPMA, kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas akan berkembang kecurigaan pembagian bagi hasil. Sebagai pemilik wilayah, pemerintah Aceh selayaknya memiliki perwakilan dalam setiap kegiatan eksplorasi.

Manfaat BPMA lebih dirasakan langsung seperti: akses data bawah permukaan (subsurface, cadangan, dan produksi), penjualan, pengembangan sumber daya manusia lokal (alih teknologi), dan lingkungan. Kemudian juga, pengaturan serapan migas untuk kebutuhan energi Aceh sendiri, seperti PLN dan industri lainnya.

Jika ingin menambah pendapatan hasil migas, Pemerintah Aceh bisa meniru keinginan pemerintah Maluku dengan participating interest 10 lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku. Tentunya, untuk lapangan migas yang secara ekonomi menguntungkan.

* Muchlis, independent geoscientist dari Aceh. Saat ini sedang belajar di Australia. Email: [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id